Logo JawaPos
Author avatar - Image
31 Maret 2026, 22.34 WIB

Kemitraan Strategis, Indonesia-Jepang Koreksi Arah Diplomasi

Presiden Prabowo Subianto didampingi sejumlah menteri dalam Kabinet Merah Putih dalam kunjungan resmi perdananya ke Jepang pada Minggu (29/3). (Istimewa) - Image

Presiden Prabowo Subianto didampingi sejumlah menteri dalam Kabinet Merah Putih dalam kunjungan resmi perdananya ke Jepang pada Minggu (29/3). (Istimewa)

JawaPos.com - Pemerintah Indonesia dinilai melakukan koreksi arah diplomasi ekonomi yang selama ini sudah bermitras strategis dengan Pemerintahan Jepang. 

Penilaian itu diungkap oleh pengamat Hubungan Internasional Zenzia Sianica Ihza. Dia mengatakan, dalam beberapa tahun terakhir hubungan Indonesia–Jepang sempat terkesan meredup seiring meningkatnya intensitas kerja sama Indonesia dengan Tiongkok, terutama di sektor infrastruktur dan investasi skala besar. “Selama ini Jepang seolah ditinggalkan," ujar Zenzia Sianica Ihza dalam analisisnya, di Jakarta, Selasa (31/3).

Padahal, sambungnya, karakter hubungan IndonesiaJepang itu bersifat komplementer, bukan substitusi. Kerja sama dengan Jepang cenderung saling melengkapi (complementary), terutama dalam aspek teknologi, kualitas industri, dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). “Jepang membawa teknologi, governance, dan standar tinggi. Indonesia menyediakan pasar, sumber daya, dan SDM. Ini hubungan yang sehat dan jangka panjang,” kata Zen.

Sebagaimana diketahui, Presiden Prabowo Subianto sebelumnya melakukan kunjungan resmi perdana ke Tokyo, Jepang, pada Minggu (29/3). Kunjungan itu didampingi oleh sejumlah anggota Kabinet Merah Putih. Rombongan tiba di Bandara Haneda pada Minggu (29/3) sekitar pukul 19.10 waktu setempat.

Adapun kunjungan itu diarahkan untuk memperkuat hubungan strategis antara Indonesia dan Jepang yang telah terjalin selama 68 tahun. "Kunjungan Presiden ini akan fokus membahas hal-hal strategis antara kedua negara, termasuk kerja sama di bidang teknologi dan digital," kata Menteri Komunikasi dan Digital (Menkomdigi) Meutya Hafid yang ikut dalam rombongan tersebut.

Selama berada di Tokyo, Presiden Prabowo dijadwalkan melakukan kunjungan kehormatan kepada Naruhito serta menggelar pertemuan bilateral dengan Perdana Menteri Jepang Sanae Takaichi.

Selain agenda kenegaraan, Presiden juga akan bertemu dengan sejumlah pelaku usaha besar dan menyaksikan penandatanganan beberapa kesepakatan investasi dari perusahaan-perusahaan Jepang di Indonesia.

ODA Berubah dari Infrastruktur ke SDM AI

Kunjungan Prabowo juga dinilai penting karena bertepatan dengan perubahan besar dalam skema Official Development Assistance (ODA) Jepang. Jika sebelumnya fokus pada pembangunan fisik seperti jalan dan jembatan, kini Jepang mengarahkan ODA ke pengembangan SDM dan teknologi, khususnya kecerdasan buatan (AI).

Dalam pertemuan tingkat tinggi di Tokyo, disepakati bahwa Jepang akan mendukung pengembangan SDM AI di Indonesia sebagai bagian dari strategi jangka panjang kedua negara. “Ini bukan bantuan biasa. Ini investasi masa depan. Jepang ingin membangun ekosistem ekonomi bersama Indonesia,” kata Zenzia.

Pendekatan baru ini dikenal sebagai “co-creation”, yakni kemitraan setara antara dua negara. Jepang menyediakan teknologi dan pembiayaan, sementara Indonesia menawarkan talenta muda, pasar besar, dan data.

AI Jadi Tulang Punggung Ekonomi Baru

Dalam skema ODA terbaru, AI ditempatkan sebagai sektor kunci yang menopang berbagai bidang strategis lain, mulai dari mitigasi bencana, energi, hingga industri.

Indonesia sendiri tengah menyiapkan strategi nasional AI untuk mendukung target menjadi negara maju pada 2045. Fokusnya meliputi pengembangan SDM, penarikan investasi asing seperti data center dan R&D, serta digitalisasi layanan publik.

“Kalau dulu infrastruktur fisik jadi prioritas, sekarang infrastruktur digital dan SDM yang menjadi kunci,” kata Zenzia.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore