
Photo
JawaPos.com – Optimisme konsumen terus menunjukkan penurunan. Berdasarkan Survei Konsumen Bank Indonesia (BI) pada Agustus 2019, Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) berada dalam zona optimis (di atas 100) yaitu sebesar 123,1.
IKK tersebut sedikit lebih rendah dibandingkan IKK pada bulan sebelumnya yang sebesar 124,8. Menurut Direktur Eksekutif Kepala Departemen Komunikasi Onny Widjanarko, meski menurun, optimisme konsumen masih terjaga.
"Optimisme konsumen masih ditopang oleh persepsi mereka yang tetap positif terhadap kondisi ekonomi saat ini. Hal ini tercermin dari Indeks Kondisi Ekonomi Saat Ini (IKE) sebesar 110,3 dan Indeks Ekspektasi Kondisi Ekonomi (IEK) sebesar 136,0," paparnya dalam keterangannya, Kamis (5/9).
Onny melanjutkan, persepsi konsumen tersebut didukung oleh keyakinan terhadap ketersediaan lapangan kerja dan pembelian barang tahan lama (durable goods) yang membaik. Di samping itu, ekspektasi konsumen terhadap kondisi ekonomi ke depan juga masih berada pada level optimis.
Namun, dia mengakui, ekspektasi tersebut tidak sekuat bulan sebelumnya, terutama pada perkiraan terhadap penghasilan dan ketersediaan lapangan kerja pada enam bulan mendatang.
"Pada Agustus 2019, indeks ekspektasi penghasilan menurun 3,2 poin dari bulan sebelumnya, begitu juga dengan ekspektasi konsumen terhadap tersedianya lapangan kerja pada 6 bulan ke depan yang menurun 3,4 poin," lanjutnya.
Selain itu, survei juga menunjukkan bahwa pendapatan responden rumah tangga yang digunakan untuk konsumsi pada Agustus 2019 sedikit menurun dibandingkan bulan sebelumnya, yaitu dari 68,8 persen menjadi 68,6 persen. Di sisi lain, porsi menabung justru meningkat.
Menurunnya proporsi konsumsi tersebut diikuti dengan meningkatnya porsi tabungan terhadap pendapatan dari 19,1 persen menjadi 19,2 persen. Namun, kata Onny, hasil survei juga mengindikasikan bahwa tekanan kenaikan harga pada 6 bulan mendatang diprediksi menurun.
Hal ini terlihat dari penurunan Indeks Ekspektasi Harga 6 bulan yang akan datang dari 174,9 pada bulan sebelumnya menjadi 170,0. Penurunan tersebut didukung oleh ketersediaan pasokan barang yang memadai dan kelancaran kegiatan logistik distribusi barang.
Peneliti INDEF Bhima Yudhistira menuturkan penurunan optimisme konsumen tersebut adalah sinyal bahwa pertumbuhan konsumsi rumah tangga yang cenderung melambat. Hal ini menjadi warning karena konsumsi rumah tangga merupakan kontributor terbesar dalam pertumbuhan ekonomi nasional.
"Untuk semester II ini, konsumsi rumah tangga ini jadi motor tapi pertumbuhannya bisa di bawah 5 persen, apalagi pemerintah berencana mencabut subsidi listrik untuk 900 VA dan BBM juga akan dilakukan penyesuaian (harga). Ini juga efeknya cukup signifikan terhadap daya beli masyarakat dan kepercayaan konsumen khususnya kalangan menengah ke bawah," ujarnya saat dihubungi, Kamis.
Untuk itu, Bhima menekankan bahwa pemerintah harus mampu menanggulangi dampak negatif dari perlambatan ekonomi terhadap konsumsi rumah tangga. Sebab, meski kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi cukup besar yakni mencapai 57 persen, namun daya dorongnya malah cenderung menurun di tahun ini.
"Sehingga pertumbuhan tahun ini bisa saja hanya 5 persen, sedangkan tahun depan malah bisa 4,9 persen," imbuhnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Ariel NOAH 18 Tahun Menduda, Dekat dengan Wulan Guritno di Ultah ke-45
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Viral Pegawai BGN Sindir Korban Keracunan MBG Sambil Makan Chicken Katsu
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Sudah Tak Jadi Menkeu, Uang Rp 100 Ribu Bertanda Tangan Purbaya Malah Diburu
10 Kali Sidang Kasus Kuota Haji, Saksi Beberkan Tak Ada Dugaan Kerugian Negara
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022