Logo JawaPos
Author avatar - Image
22 Oktober 2023, 18.30 WIB

Senja di Batavia

ILUSTRASI - Image

ILUSTRASI

Hidup ini singkat belaka. Setelah lewat masa muda yang penuh warna, masa tua lekas merenggut, menyeret kita ke gerbang maut. Berapa lamakah sesungguhnya kita benar-benar hidup? Seribu bulan atau hanya sehari?

AKU duduk menatap langit kelam, mendengarkan bunyi debur ombak di muka jendela rumahku di tepi laut Isla Negra, Valparaíso. Angin malam berputar di langit seperti menangis. Malam ini aku bisa saja menulis larik-larik yang paling sedih. Sebab, aku merasa kehilangan.

Tiga hari lalu tiba kabar dari Santiago. Sahabatku Salvador dibunuh di ruang kerjanya di Istana La Moneda oleh pasukan Pinochet dalam sebuah kudeta. Kematiannya lalu ditutup-tutupi. Mengapa para pengkhianat itu tega menjual tanah air kami kepada kapitalis asing dengan harga begitu murah?

Setelah Salvador, mungkin giliranku akan tiba tak lama lagi. Jika bukan karena kanker yang menggerogoti tubuhku, tangan kotor bedebah-bedebah itulah yang bakal mencabikku. Barangkali mereka akan meracuniku diam-diam.

Pikiran tentang maut yang terasa kian dekat membuatku terkenang pada hari-hari sunyi di sebuah negeri yang jauh. Sebelum pecah perang dunia, puluhan tahun lalu aku pernah tinggal di kota itu yang dulu bernama Batavia, tanah jajahan Belanda, dua bulan perjalanan naik kapal laut dari Santiago.

***

Dalam gelimang cahaya senja lelaki itu duduk sendiri di sebuah kafe terbuka di tepi kanal. Dia menatap hampa batas langit di kejauhan. Di hadapannya gin pahit dalam gelas beling di atas meja barangkali hanya tersisa dua teguk.

Baru tiga bulan dia tinggal di Batavia –lima belas ribu kilometer dari kota asalnya, Temuco. Sebelumnya dia bertugas sebagai konsul di Colombo. Untuk menemaninya, dia membawa dua kawan dari Sri Lanka: seorang jongos setia bernama Bhrampy dan seekor garangan betina bernama Kiria yang amat jinak –bahkan setiap malam tidur di ranjangnya. Mereka bertolak dengan kapal ke Batavia via Singapura.

Lelaki pertengahan likuran itu terkenang seorang wanita Yahudi berhidung bangir dari Leeuwarden yang ditemuinya di atas kapal. Namanya Kruzi. Pada akhir perjalanan, untuk mengusir sepi mereka menghabiskan malam di kabin wanita berambut pirang itu. Usai bercinta, Kruzi bercerita kepadanya bahwa sebuah pekerjaan menarik telah menantinya di Batavia. Ada sebuah organisasi dagang di Amsterdam yang menyediakan perempuan-perempuan Eropa untuk dijadikan simpanan para lelaki kaya dan terhormat di Asia. Kruzi salah satu wanita itu. Saat mereka berpisah keesokan harinya di pelabuhan, dia melihat Kruzi dijemput sebuah Rolls-Royce.

Lelaki itu menenggak habis isi gelasnya. Minuman itu pahit, tapi menenangkan di tengah udara yang panas dan lembap. Dia baru pindah dari Hotel der Nederlanden di tengah kota ke sebuah rumah dinas di Probolinggoweg, tak jauh dari kantornya –konsulat Cile untuk Hindia Belanda.

Hotel der Nederlanden yang berdekatan dengan Istana Gubernur Jenderal adalah gedung megah bergaya art deco. Terpisah dari bangunan induk yang digunakan untuk ruang makan dan kantor, terdapat bungalo-bungalo di antara taman dan pepohonan yang hijau kemilau. Di salah satu bungalo itulah dia tinggal bersama Bhrampy dan Kiria. Pada malam yang sunyi, kerap terdengar bunyi serangga bernyanyi seperti di hutan.

Hidangan makan malam di hotel itu sungguh mewah dan melimpah, bagaikan sajian istimewa untuk seorang maharaja. Mereka menyebutnya rijsttafel. Lelaki itu amat terkesan. Secara berurutan, belasan pelayan lelaki berseragam putih-putih meladeninya dengan penuh pengabdian, masing-masing menyajikan piring lebar berisi masakan yang tampak lezat dengan aneka lauk-pauk –nasi goreng, opor ayam, ikan gurami, rendang daging sapi, sate babi, sayuran, dilengkapi dengan kerupuk dan sambal. Dia menyukai hidangan dengan bumbu pedas. Itu mengingatkan dia pada kampung halamannya.

Orang Cina mengatakan bahwa makanan harus memiliki keistimewaan pada tiga hal: rasa, aroma, dan warna. Di Batavia, ini ditambah yang keempat sebagai penyempurna: berlimpah.

Namun, pada suatu siang Kiria lenyap di tengah kerimbunan pepohonan di taman hotel. Berhari-hari dia tak kembali. Hilang untuk selamanya. Lelaki itu amat sedih. Sesekali pada malam buta dia seakan-akan mendengar suara Kiria, tapi rupanya itu hanya angan semata.

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore