
Cover Buku
Memandang keragaman metode kritik seni yang tampak tak teratur, Martin Suryajaya mencoba menemukan pola-pola keteraturan melalui pendekatan morfologis.
MESKIPUN ada lagu Iwan Fals yang tertulis ”Belum Ada Judul”, penamaan tersebut justru merupakan judul itu sendiri. Itulah sekelumit paradoks dalam kehidupan.
Dalam dunia kritik, kita juga menemukan paradoks semacam ini. Seorang kritikus, entah ia ingin berteori atau tidak, pada akhirnya harus berteori. Jika ia memilih untuk tidak berteori, ia tetap harus menjelaskan alasan di balik pilihannya tersebut (hal 5).
Keadaan paradoksal ini yang coba dijembatani oleh Martin Suryajaya dalam bukunya, Meta-Estetika: Studi tentang Morfologi Kritik. Memandang keragaman metode kritik seni yang tampak tak teratur, peraih penghargaan Kumpulan Esai Terbaik Badan Bahasa 2024 ini mencoba menemukan pola-pola keteraturan melalui pendekatan morfologis.
Buku ini bukanlah terobosan yang sepenuhnya baru. Martin sendiri mengakui bahwa agenda teoretis untuk membangun sistem taksonomi universal dalam kritik seni sudah pernah diupayakan sebelumnya. Dalam kritik sastra, kita mengenal Northrop Frye; dalam teori film ada Christian Metz; dan dalam sains, upaya serupa pernah dilakukan Stephen Hawking dalam A Brief History of Time.
Upaya mencari keteraturan semacam itu dalam kajian ilmu fisika telah lama mendapat tempat. Kita bisa mengingat konsep ”ketidakteraturan yang teratur” dalam hukum termodinamika II ataupun teori chaos.
Alam cenderung menuju ketidakteraturan, tetapi dari ketidakteraturan tersebut pola-pola tertentu (teratur) dapat dikenali. Einstein pun demikian saat dihadapkan pada persoalan fisika kuantum –yang penuh probability sampai ia menyatakan bahwa ”Tuhan tidak bermain dadu”. Tapi sayangnya, Tuhan memang sedang bermain dadu sesuai aturannya sendiri.
Tampaknya manusia ditakdirkan untuk terus mengupayakan keteraturan di tengah ketidakteraturan. Kita menciptakan agama, mengembangkan sains, dan kini membangun komputasi berbasis algoritma. Semua itu bagian dari bentuk kepekaan manusia dalam ”menteraturkan” kehidupan. Martin Suryajaya melalui meta-estetika-nya ikut ambil bagian terkait tugas ”manusia” ini.
Secara lebih spesifik, dalam buku setebal 241 halaman tersebut, Martin berupaya menjembatani persoalan ”pesta pora kritik” melalui pengelompokan pendekatan berbasis model morfologis (bentuk dasar). Isinya membahas metodologi pendekatan kritik seni yang pada akhirnya menghasilkan meta-estetika terpadu. Seni yang dikaji tidak hanya terbatas pada seni rupa, tetapi juga meliputi sastra, seni pertunjukan, film, fotografi, tari, musik, dan desain (lintas disiplin).
Upaya Martin ini dituangkan secara konkret dalam bentuk lampiran yang memuat 64 komposisi morfologi, 28 kombinasi morfologis, 56 kombinasi morfologis triposisi, 70 kombinasi morfologis caturposisi, 56 kombinasi morfologis pancaposisi, 28 kombinasi morfologis satposisi, dan 8 kombinasi morfologis saptaposisi. Meskipun angka-angka tersebut terlihat rumit, intinya adalah pengelompokan ini bertujuan untuk memetakan kerangka kritik sehingga posisi dan hubungan setiap teori dalam pembacaan seni dapat lebih dipahami dan bandingkan.
Martin juga menekankan bahwa pada dasarnya teori selalu digunakan, baik secara sadar maupun tidak. Persoalannya bukan apakah seseorang menggunakan teori atau tidak, tetapi apakah ia sadar akan asumsi teoretis yang secara implisit digunakan saat menganalisis karya seni (hal 6).
Baca Juga: Kisah Si Pemahat Wajah dan Tuan Gugu Gagap
Setiap orang memiliki kebebasan untuk mengklaim keunikan, presisi, kebenaran, dan kebermanfaatan pandangannya dalam pesta pora kritik. Namun, tidak jarang kita bertanya, ”Benar dalam hal apa? Unik karena apa? Presisi atas dasar apa?”
Dalam kerumunan pendapat yang semrawut itu, upaya Martin Suryajaya dalam Meta-Estetika sedikit banyak perlu diapresiasi. Dengan pola morfologisnya, Martin memberikan alat yang memungkinkan kita memahami dan memetakan posisi serta relasi dari beragam pendekatan kritik. Membaca Meta-Estetika karya Martin Suryajaya rasanya merupakan kemewahan terakhir untuk menjadi lebih baik, bijak, dan damai dalam jagat pesta pora kritik hari ini. (*)
---
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Valencia vs Celta Vigo di Liga Spanyol: Los Che Bisa Kesulitan di Kandang!
Prediksi Skor Brighton & Hove Albion vs Aston Villa di Liga Inggris 2026/2027: Laga Berakhir Imbang!
Prediksi Skor PSV Eindhoven vs Groningen di Liga Belanda: Boeren Enggan Malu di Kandang!
Ribuan Ojol Hadiri Kopdar Kebangsaan Jaga Jakarta, Ada Perpanjangan SIM Gratis
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Prediksi Skor Atletico Madrid vs Villarreal di Liga Spanyol 2026/2027: Los Rojiblancos Diunggulkan!
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Novel Baswedan Soroti Dugaan Kompromi Penyelidikan KPK di Kabupaten Bogor
Prediksi Skor Athletic Bilbao vs Sevilla di Liga Spanyol 2026/2027: Los Leones Diunggulkan Menang
Tak Hanya Jenderal TNI-Polri, Pengusaha Haji Isam Dikabarkan Dapat Tugas Tangani Karhutla di Kalsel
