Logo JawaPos
Author avatar - Image
15 September 2024, 14.17 WIB

Konstruksi Masa Kanak-Kanak dan Kritik terhadap Superioritas Orang Dewasa

Cover Buku - Image

Cover Buku

Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong menggunakan gaya penceritaan berbingkai sehingga cerita dipenuhi dengan tarik-ulur peristiwa masa lalu untuk membangun konektivitas emosional. Novel yang eksperimental dengan kebaruan struktur dan gaya penceritaan yang ditawarkan.

CHILDHOOD (masa kanak-kanak) merupakan fase yang sangat penting bagi tumbuh kembang dan kehidupan manusia. Pada fase tersebut, fondasi perkembangan fisik, kognitif, emosional, dan sosial dibangun. Pengalaman dan pembelajaran pada fase tersebut berperan besar dalam membentuk karakter, nilai, keterampilan, dan moral mereka di masa depan.

Novel Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong merupakan novel kelima Eka Kurniawan. Novel ini menjadi novel yang eksperimental dengan kebaruan struktur dan gaya penceritaan yang ditawarkan. Berbeda dari novel-novel Eka sebelumnya, tubuh dalam novel ini hadir dengan narasi yang padat dan tanpa judul bab.

Novel ini menggunakan gaya penceritaan berbingkai (frame narrative) sehingga cerita dipenuhi dengan tarik-ulur peristiwa masa lalu untuk membangun konektivitas emosional. Sekaligus untuk memperdalam karakterisasi dan memberikan konteks yang lebih lengkap terhadap ide utama cerita.

Anjing Mengeong, Kucing Menggonggong menggunakan sudut pandang seorang anak yang selama ini sering terabaikan. Melalui suara Sato Reang sebagai tokoh utama, pembaca diajak melihat dunia dari perspektif anak-anak dan memahami bagaimana orang dewasa begitu kejam merampas kebebasan, eksistensi, dan kebahagiaan yang dimiliki anak-anak.

”Orang-orang dewasa memang tak tahu diri, pikirku, datang hanya untuk mempermalukan anak sendiri di hadapan kawan-kawannya. Sok besar. Sok berkuasa. Mentang-mentang yang ia kasih aku makan. Pret.” (hal 17).

Barangkali melalui suara Sato Reang mewakili suara anak-anak yang selama ini terbungkam dan selalu dianggap liyan. Terlihat betapa superioritasnya orang-orang dewasa dalam memperlakukan anak-anak.

Selain itu, novel ini bersepakat bahwa kekerasan dalam bentuk apa pun, baik fisik maupun psikologis, tidak dibenarkan sebagai cara dalam mendidik. Penghargaan pertama terhadap anak adalah dengan menghargai eksistensi dan subjektivitas atas dirinya. Contohnya, diberikan kesempatan untuk memilih antara pergi ke masjid atau ke alun-alun, bermain bola atau mengaji, hingga akhirnya anak dengan sadar dan bahagia dapat memilih yang terbaik untuk dirinya.

”Kau anak saleh. Doakan ayahmu. Doa seorang anak saleh akan membuat lapang jalannya ke surga. Mendengarnya menyebutku sebagai anak saleh membuatku merasa sedikit mendidih.” (hal 76).

Tidak asing di telinga bahwa doa orang tua selalu menginginkan anak-anaknya menjadi saleh dan salihah, namun apakah pernah orang dewasa memikirkan apa kehendak si anak. Alih-alih mengevaluasi cara menyampaikan nilai kesalehan kepada anak, justru semakin menekan dan menuntut anak. Melalui cerita Sato Reang tergambar betapa menjadi saleh adalah yang memuakkan dan menakutkan.

Eka Kurniawan mengasosiasikan keberadaan anak-anak dengan keberadaan seekor anjing. Sebagaimana dengan perasaan malu Sato Reang kepada anjing yang kehadirannya lebih diakui manusia dewasa daripada kehadirannya. ”Ah, pikirku, bahkan anjing berhasil membuat manusia jengkel. Anjing memaksa manusia mengakui keberadaannya. Mengakui tindakannya. Itu membuatku sedikit malu. Aku jarang sekali merasa manusia lain menyadari keberadaanku, kecuali sedikit saja manusia, dan kepada mereka aku menaruh prasangka.” (hal 116). Dalam hal ini, menjadi anjing sangatlah beruntung ketimbang menjadi anak-anak.

Untuk mengatasi tekanan dan tuntutan dari orang-orang dewasa, anak-anak kerap menggunakan strategi berpura-pura patuh dan berpura-pura saleh untuk menghindari masalah dengan orang dewasa. Menjadi saleh adalah hal yang absolut dan cita-cita tertinggi orang dewasa kepada anak-anak. Namun, mereka kerap lupa untuk mendidik anak-anak dengan cara yang santun dan mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan.

Ayah yang seharusnya menjadi barometer pendidikan untuk anak kerap menjadi sosok yang menakutkan. Secara cermat novel ini juga membidik cara berkomunikasi ayah dengan anak yang sangat berdampak terhadap tumbuh kembang anak.

Ketika proses komunikasi dilakukan dengan cara yang kasar, otoriter, dan tidak pernah menghargai pendapat anak, di kemudian hari anak akan membelot. ”Ketika si anjing kencing di roda mobil itu, ia memberi si pengemudi mobil rasa sakit, terhina, amarah, secara langsung. Perasaan yang sering aku peroleh dari ayah.” (hal 120).

Selain peran ayah, peran seorang ibu juga disorot secara tajam dalam novel ini. ”Kadang aku memandang ibu dengan tatapan memohon, bisakah aku pergi saja dari masjid itu, bisakah aku berkeliaran bersama kawan-kawanku, di pasar atau alun-alun? Ibu akan berbalik memandangku dengan tatapan tanpa jawaban.” (hal 61).

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore