alexametrics

Riset Nabi Palsu hingga Pekerja Rumahan

27 September 2020, 17:17:48 WIB

Kurang dari satu bulan lagi para penikmat teater akan mendapatkan satu pengalaman baru dalam menyaksikan seni pertunjukan.

Teater Garasi akan menyajikan proyek kolaborasi teater lintas Asia, Multitude of Peer Gynts, dengan metode yang berbeda dari seni teater yang umum dikenal. Sebuah ide yang muncul dari impitan pandemi Covid-19 yang tak memungkinkan pertemuan fisik.

Menjelang pementasan Oktober mendatang, para seniman yang terlibat terus mematangkan karya masing-masing. Ya, Anda tidak salah membaca, karya masing-masing. Pembacaan masing-masing. Tidak bertemu dalam satu panggung fisik, lalu membuat pertunjukan bersama. ’’Saat ini yang sedang tumbuh dan terus berproses, ada 10 karya,’’ terang Gunawan Maryanto, kolaborator asal Teater Garasi, dalam diskusi daring baru-baru ini.

Bukan hanya karya Gunawan, ada pula karya Arsita Iswardhani, kolaborator Teater Garasi lainnya. Juga kolaborator-kolaborator lain lintas wilayah. Termasuk karya seniman-seniman teater asal Larantuka, NTT. Karya-karya mereka akan terhubung dan tersaji dalam website.

Tantangan terbesar dari proses kreatif Multitude of Peer Gynts kali ini adalah pergerakan yang terbatas. Nyaris mustahil melakukan pertemuan fisik, apalagi latihan bersama.

Naskah Peer Gynts yang utuh dipecah-pecah menjadi berbagai kata kunci untuk dijadikan sebuah karya. Setiap pemeran mengambil bagian yang telah disepakati untuk kemudian diterjemahkan dalam sebuah karya solo.

Gunawan kebagian menggarap satu tema khusus. Begitu pula Sita, panggilan Arsita, menggarap tema yang berbeda. Kolaborator lainnya juga mendapatkan tema masing-masing.

Sita memberikan sedikit clue tentang tema apa yang akan dia tampilkan nanti. Yakni, yang terkait dengan fashion. Dalam salah satu chapter, ada gambaran bagaimana pada setiap perjalanan Peer Gynts di suatu tempat, akan ada satu penanda perubahan. ’’Dia tiba-tiba menemukan kostum, menemukan satu pembeda melalui fashion,’’ terangnya.

Yang menjadi penting bukan hanya bagaimana mewujudkan potongan-potongan karya itu, melainkan juga isu apa yang dibawa dalam tema yang ditampilkan. Yakni, isu buruh dalam industri fashion. Di mana para pekerja yang menghasilkan produk-produk itu acap kali terlupakan. Sita meneliti isu tersebut sejauh mungkin dan memasukkannya ke karya yang akan dia tampilkan.

Dalam naskah Peer Gynts, ada salah satu tokoh perempuan yang menghabiskan hidupnya hingga tua di dalam rumah. ’’Dia menyulam atau menjahit sampai Peer Gynts pulang ketika sudah tua,’’ lanjut Sita. Ada benang merah antara naskah yang ditampilkan dan realita yang ada di tengah masyarakat.

Sita akan melakukan sebuah koreografi kerja yang dilakukan salah seorang pekerja rumahan yang dia teliti dalam proses kreatif. ’’Gerakannya kecil dan terus berulang,’’ tuturnya. Itu sebenarnya menggambarkan laku kerja yang dilakukan para pekerja rumahan setiap hari. Sita mencoba melihat bagaimana tubuh para pekerja itu bekerja dalam rutinitas, yang tampak kecil, tetapi dilakukan sepanjang waktu.

Yang diharapkan Sita adalah penonton bisa ikut merasakan. Bagaimana tubuhnya harus berjibaku dengan sebuah rutinitas. Rutinitas yang dalam realitanya dilakukan banyak orang, tetapi dia hilang dari nilai produk tersebut.

Yang jelas, Sita harus melakukan latihan keras agar punya ketahanan yang prima dalam memainkan perannya. ’’Durasi untuk melakukan satu karya pertunjukan empat jam. Ups, bocor,’’ ucapnya, lantas tertawa.

Tidak mau kalah dengan Sita, Gunawan juga membocorkan sedikit perannya. Tema yang dia sedang kerjakan adalah nabi palsu atau fake prophet. Saat meneliti tema itu, dia mempelajari sejarah nabi-nabi di Indonesia. ’’Ternyata ada banyak banget. Indonesia itu lahan subur bagi tumbuhnya nabi-nabi baru,’’ jelasnya. Yang tercatat sejak zaman kolonial sampai saat ini, ada 800-an nabi.

Yang diangkat adalah ketakutan dan kecemasan. Dalam sebuah situasi takut atau cemas, sadar atau tidak sadar orang akan seperti menanti juru selamat. Bisa saja disebut mesiah, atau bila di Jawa disebut ratu adil, mereka datang sebagai penolong manusia dari situasi yang buruk.

Dalam naskah Peer Gynts, ada satu adegan di mana Peer Gynts diangkat menjadi nabi. Dari pembacaan tersebut, Gunawan melihat proses transaksional antara sang juru selamat dan umatnya. ’’Ada perputaran ekonomi juga di sana,’’ tuturnya. Gunawan mengolah tahap-tahap menjadi juru selamat itu sebagai satu pertunjukan.

Nah, di setiap tahapan itulah nanti, diharapkan ada interaksi dengan penonton. Dengan demikian, itu bisa membantu Gunawan menjadi juru selamat yang diinginkan mayoritas penonton. Sekaligus memberikan gambaran kondisi saat ini di mana masyarakat diliputi kecemasan di tengah pandemi.

Mengapa partisipasi publik atau penonton begitu penting? Menurut Gunawan, interaksi amat penting untuk menyelamatkan roh pertunjukan langsung.

Saksikan video menarik berikut ini:

Editor : Dhimas Ginanjar

Reporter : byu/c12/dra




Close Ads