
Rumah Oei Lasem. (karangturi-rembang.desa.id)
JawaPos.com–Lasem merupakan sebuah kecamatan di Kabupaten Rembang Jawa tengah. Tahukah Anda kota ini identik dengan sebutan the little chinatown?
Tidak heran apabila Lasem diberikan julukan tersebut. Lasem merupakan kompleks pemukiman pecinan terbesar di Jawa Tengah, dengan bangunan-bangunan rumah bergaya khas Tionghoa dan kelenteng-kelenteng kuno yang masih terawatt. Lasem memiliki daya tarik sendiri bagi para wisatawan.
Keunikan Lasem sebagai kawasan heritage pecinan tidak bisa lepas dari sisi sejarah, merujuk pada dari jurnal penelitian Undip yang dikutip dari Pratiwo (2010), pada abad ke-13 atau sekitar 1416 Masehi terdapat orang Tionghoa sudah mendarat di Desa Galangan, Lasem. Bahkan sebelum Laksamana Cheng Ho tiba di Semarang, permukiman di Lasem sudah ada dan berkembang, ditandai dengan keberadaan pelabuhan untuk berdagang.
Kemudian masyarakat setempat mulai membangun rumah-rumah di sekitar sungai berdasar pada kepercayaan geomancy Tionghoa di mana rumah-rumah ideal dibangun di dekat sungai.
Bagi Anda yang ingin merasakan suasana pecinan yang kaya akan budaya Tionghoa, Lasem adalah destinasi yang tepat bagi Anda saat libur panjang ini. Berikut ini adalah beberapa pesona budaya dan seni yang dapat Anda temui di Lasem.
Arsitektur Tionghoa
Terdapat bangunan yang berciri khas pecinan antara lain Klenteng, pemukiman, rumah makan, dan pertokoan. Beberapa klenteng kuno yang terkenal adalah Klenteng Cu An Kiong di Dusun Gambiran, Klenteng Bao An Bio di Karangturi, dan Klenteng Gie Yong Bio di Babagan.
Dilansir dari kesengsemlasem.com, kelenteng Cu An Kiong memiliki bentuk yang khas dari daerah Tiongkok selatan. Kelenteng ini memiliki atap yang mirip dengan ekor walet (Yinwei Xing) dengan bentuknya yang segi empat (Siheyuan).
Selanjutnya, pada Kelenteng Bao An Bio memiliki warna merah yang khas pada bangunannya, klenteng ini semakin memikat dengan adanya ornamen-ornamen naga dan lukisan khas budaya Tionghoa. Sementara itu, klenteng Gie Yong Bio dibangun untuk menghormati dua orang tionghoa yang pertama kali mendarat di Lasem, yang bermarga Chen (Tan) dan Huang (Oey). Kelenteng ini memiliki gapura berwarna putih dengan aksara Mandarin di atasnya.
Beberapa rumah-rumah kuno juga memiliki arsitektur khas Tionghoa. Dengan sentuhan gaya Cina-Indis yang estetik dan dihiasi ukiran kayu yang artistik. Rumah-rumah ini berada di kawasan pecinan yang mencakup rumah merah, rumah opa gwan, rumah oei, dan rumah nyah Lasem.
Batik Lasem
Masyarakat Lasem mulai membuat batik pada 1860. Rumah-rumah batik mulai bermunculan di lasem. Teknik batik ini diperkenalkan Na Li Ni dan Bi Nang Un seorang anggota ekspedisi Laksamana Cheng Ho yang menetap di lasem.
Motif batik lasem juga dipengaruhi simbol tradisi Tionghoa seperti naga yang melambangkan keagungan, burung phoenix (burung hong) yang melambangkan kecantikan, serta bunga-bunga yang melambangkan keindahan. Terdapat pula motif lokal seperti kricikan yang menceritakan kerja rodi pembangunan jalan raya. Batik lasem telah terkenal hingga ke mancanegara seperti Singapura, Malaysia, dan Sri Langka.
Kopi Lelet
Tradisi ngelelet adalah seni untuk melukis pada media rokok dengan menggunakan ampas kopi hitam. Motif yang digambar bisa berupa flora berupa bunga, dedaunan, garis-garis atau titik-titik. Tradisi ini berkaitan dengan seni membatik. Anda bisa menemukan kopi serta rokok ini di Jalan Jatigoro.
