Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 Januari 2025, 03.07 WIB

Surabaya Kerap Banjir? Kepala BBWS Ungkap Penyebab Penumpukan Eceng Gondok di Hilir Sungai Brantas

Sungai di perbatasan Surabaya-Sidoarjo, bagian hilir Sungai Brantas yang dipenuhi eceng gondok. (Humas Pemkot Surabaya) - Image

Sungai di perbatasan Surabaya-Sidoarjo, bagian hilir Sungai Brantas yang dipenuhi eceng gondok. (Humas Pemkot Surabaya)

 
JawaPos.com - Curah hujan yang tinggi beberapa pekan terakhir ini membuat volume air di Sungai Brantas meningkat dan meluap. Imbasnya, sejumlah wilayah di Surabaya yang menjadi hilir Sungai Brantas dilanda banjir.
 
Hal ini menjadi atensi dari Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Brantas. Kepala BBWS Brantas, Hendra Ahyadi mengatakan bahwa banjir di sekitar sungai perbatasan Surabaya terjadi karena adanya sedimentasi.
 
Kemudian juga banyaknya eceng gondok yang tumbuh di tepian Sungai Brantas. Ini lah yang membuat sungai-sungai di perbatasan Surabaya tidak bisa menampung air dan meluber ke pemukiman warga.
 
Terkait banyaknya eceng gondok, Hendra mengatakan bahwa Balai Besar Wilayah Sungai Brantas telah melakukan pembersihan secara berkala. Namun, eceng gondok itu tumbuh dengan cepat.
 
 
"Kecepatan pertumbuhannya tidak sebanding dengan upaya yang dilakukan, sehingga, beberapa wilayah belum bisa tersentuh dan menimbulkan penumpukan eceng gondok," ujar Hendra, Kamis (2/1).
 
Sementara untuk penertiban bangunan liar, BBWS Brantas sudah melakukan upaya jalur hukum. Pihaknya juga memberikan edukasi hawa tidak boleh ada bangunan berdiri di sempadan sungai.
 
"Tapi sekali lagi itu berkaitan dengan sertifikat (bangunan) dari fungsinya yang mengganggu sempadan sungai. Akan kami tindaklanjuti untuk memberikan pemahaman kepada pemilik bangunan liar," imbuhnya.
 
 
Lebih lanjut, Hendra mengungkapkan bahwa aliran Sungai Brantas dimulai dari Bendungan Sutami Malang, terus mengalir ke Blitar, Tulungagung, Trenggalek, Kediri, Nganjuk, Mojokerto, Jombang dan Surabaya sebagai hilir.
 
Menurutnya, ada beberapa faktor yang menjadi penghambat normalisasi Sungai Brantas. Salah satu faktornya adalah pendanaan. Oleh karena itu, kolaborasi dengan pemerintah daerah (pemda) sangat diperlukan.
 
"Kami sebagai UPT dibawah kementrian PU diberikan mandat mengelola. Kalau diserahkan ke kami semua itu juga cukup berat, sehingga kolaborasi dengan pemda itu sangat strategis," tukas Hendra.
Editor: Bintang Pradewo
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore