
Dejan Tumbas masuk dalam enam pemain yang dicoret dari skuad Persebaya Surabaya. (Persebaya Surabaya)
JawaPos.com — Air mata Dejan Tumbas tak terbendung saat menyampaikan pesan perpisahan yang penuh emosi kepada Bonek dan keluarga besar Persebaya Surabaya. Kepergian striker asal Serbia itu meninggalkan cerita haru yang kuat, bukan hanya tentang sepak bola, tetapi juga tentang rasa memiliki.
Setelah satu musim membela Persebaya Surabaya, Dejan Tumbas akhirnya harus mengucapkan salam perpisahan yang terasa begitu berat.
Kata-kata yang ia tulis mencerminkan ikatan emosional yang terbangun selama satu tahun penuh bersama klub Kota Pahlawan.
“Selama satu tahun yang tak terlupakan, saya mendapat kehormatan mengenakan jersey Persebaya,” tulis Dejan Tumbas dengan nada penuh kebanggaan.
Ia menyebut periode itu sebagai masa yang sarat semangat, pengorbanan, dan kenangan berharga.
“Satu tahun yang penuh dengan semangat, pengorbanan, perjuangan, dan kenangan yang akan selalu saya ingat,” lanjutnya dalam pesan tersebut.
Ungkapan itu menunjukkan betapa besar arti Persebaya Surabaya dalam perjalanan kariernya.
Dejan Tumbas mengaku tidak pernah membayangkan perpisahan akan datang begitu cepat. Namun, ia percaya setiap kejadian selalu membawa alasan dan makna tersendiri.
“Saya tidak pernah menyangka perpisahan kami akan datang secepat ini, tetapi saya percaya semuanya terjadi karena suatu alasan,” tulisnya.
Kalimat itu menggambarkan penerimaan sekaligus kedewasaan dalam menghadapi keputusan klub.
Sejak pertama kali datang, Persebaya Surabaya langsung memberi kesan mendalam bagi Dejan Tumbas. Klub ini tidak sekadar tempat bekerja, tetapi terasa seperti rumah kedua.
“Sejak hari pertama, klub ini terasa seperti rumah,” tulisnya dengan jujur. Suasana internal tim menjadi faktor penting yang membuatnya cepat beradaptasi.
Ia menyebut orang-orang di sekitarnya sebagai keluarga, bukan hanya rekan kerja. Ruang ganti, staf, dan pemain lain meninggalkan kesan personal yang sulit dilupakan.
“Orang-orang, ruang ganti, staf, dan rekan-rekan setim saya menjadi lebih dari sekadar kolega — mereka menjadi keluarga,” tulis Dejan Tumbas. Ikatan itu menjadi salah satu alasan perpisahan terasa begitu emosional.
Surabaya juga memiliki tempat khusus di hatinya. Kota Pahlawan memberi kehangatan dan kekuatan yang membekas sepanjang hidupnya.
