
Gustavo Almeida menjadi mesin gol Persija Jakarta hingga paruh musim Liga 1 2024/2025. (Media Persija)
JawaPos.com - Legiun asing Persija asal Brasil, Gustavo Almeida memang baru sekitar satu setengah tahun berkarir di kancah sepak bola Indonesia, namun itu bukan alasan untuk ia cepat beradaptasi.
Hal itu dibuktikan dalam performanya selama berkarir di Indonesia. Gustavo Almeida sukses menjadi penyerang produktif, baik saat berseragam Arema maupun kini saat membela Persija.
Usut punya usut, Gustavo Almeida pun membongkar rahasia dibalik tingginya produktivitas gol yang ia ciptakan, yaitu kenyamanan.
Dalam sebuah wawancara di akun YouTube Transfermarkt, pemain berkepala plontos ini mengungkapkan bahwa ia bisa beradaptasi dengan baik karena merasa Indonesia merupakan tempat terbaiknya berkarir di dunia sepak bola.
"Saya merasa disinilah tempat terbaik bagi saya (berkarir di sepak bola). Di sini, penonton selalu memenuhi stadion dan suasananya sangat meriah, jadi saya merasa, ini tempat yang bagus untuk bermain sepak bola dan menunjukkan performa terbaik dihadapan penonton," ujar Gustavo Almeida.
Ia pun membandingkan dengan negara kelahirannya yaitu Brasil, khususnya kota asalnya yakni Sao Paulo. Di sana ia merasa tertekan karena kondisi yang kurang kondusif.
"Di kota asal saya, Sao Paulo, saya tidak bisa bermain sepak bola dengan perasaan aman dan nyaman, karena kondisinya tidak kondusif, ada (gangster) yang bersenjata dan (bertransaksi) narkoba. Bahkan ketika saya bisa bermain sepak bola di jalanan atau sebuah lapangan, saya masih bisa melihat di sekitar itu ada orang yang bersenjata maupun narkoba," tambah Gustavo.
Maka dari itu, ia bersyukur bisa bermain di Liga Indonesia karena menurutnya, selain suasana pertandingannya yang terasa 'hidup', pengamanannya juga terjamin dan memadai, sehingga para pemain yang berlaga juga merasa aman sekaligus nyaman.
Suasana yang hidup juga menjadi alasannya meninggalkan Liga Kuwait. Menurutnya, suasana liga di negara Timur Tengah itu kurang meriah.
"Di Kuwait, saya seperti tidak merasa sebagai pemain sepak bola. Suasana di stadion saat pertandingan kurang meriah. Maka setelah saya menyelesaikan satu musim, saya bilang ke agen saya untuk kembali bermain di Asia Tenggara dan saya pastikan tidak akan bermain di Kuwait lagi," imbuhnya.
Pemain berusia 28 tahun ini juga mengungkapkan meski ia harus menghadapi sebuah dinamika yang mengharuskannya hengkang dari Arema, baginya kedua klub legendaris tersebut sama-sama memberikan kesan positif baginya.
"Saya memiliki kenangan dan masa-masa indah di Arema, namun karena sebuah 'bencana', dinamika yang terjadi di klub, maka saya terpaksa keluar dari Arema meskipun saya sebenarnya sangat suka di sini. Bagi saya, dengan saya hengkang dari Arema, itu mungkin bisa menolong mereka mengatasi dinamika tersebut," ujarnya.
Gustavo pun memilih untuk tidak larut dalam kenangan, karena ia bertekad menulis lembaran baru, pencapaian dan prestasi baru di Persija, tanpa sedikitpun membenci Arema FC.
"Ibaratnya begini, dengan pindah ke Persija, saya bisa membantu Arema, sekaligus saya akan membuka lembaran baru yang lebih baik di Persija. Dan setelah saya melihat sendiri bagaimana suasana dan sambutan di Persija, dukungan fanatik dari The Jak Mania, saya merasa bersyukur bisa bermain di klub ini. Namun saya juga akan tetap senang jika Arema berprestasi, seperti misalnya saat mereka juara Piala Presiden (tahun 2024)," ujar Gustavo.
