
Pelatih Manchester United Ruben Amorim. (Manchester Evening News)
JawaPos.com - Manchester United kalah lagi. Kali ini anak asuh Ruben Amorim dipermalukan Brighton 1-3 di stadion Old Trafford, Minggu (19/1).
Manchester United tertinggal lebih dulu oleh gol Yankuba Minteh pada awal laga. Sempat menyamakan kedudukan melalui penalti Bruno Fernandes, tuan rumah tak berkutik di babak kedua.
Brighton mencetak dua gol kemenangan atas nama Kaoru Mitoma dan Georginio Rutter. Hasil memalukan ini membuat Amorim murka.
Tidak tanggung-tanggung, ia menyebut ini tim terburuk dalam sejarah Manchester United. Mau tidak mau dia harus mengubah itu secepatnya agar nasib klub tidak semakin buruk.
“Kami menjadi tim terburuk dalam sejarah Man United, kami harus mengakui itu, tapi kami juga harus mengubah itu,” kata Ruben Amorim usai pertandingan seperti dilansir BBC Sport.
“Kekalahan lain di kandang sendiri tidak bisa diterima. Kami bisa bermain tapi dalam waktu singkat. Hasinya tidak konsisten, kami gugup dan kebobolan lalu sulit membalikkan keadaan,” ia menambahkan.
Manchester United semakin terpuruk di posisi 13 klasemen. Melihat kondisi sekarang sang pelatih tak bisa mengumbar banyak janji.
Ia memastikan Setan Merah akan berubah. Apalagi dia sudah memiliki satu cara yang dianggap jitu menyelesaikan masalah.
Akan tetapi Amorim menekankan satu hal. Untuk sementara waktu ia melihat Manchester United akan bermain seperti ini.
“saya tidak akan mengubah cara pandang saya terhadap pemainan ini. Saya yakin itu. Para pemain menderita, fan menderita, jadi saya ingin minta maaf,” jelasnya.
“Saya punya satu cara untuk melakukan sesuatu, tapi kita harus bertahan di momen ini. Sangat jelas bagi semua orang apa yang akan kita lakukan,” tutup Ruben Amorim.
Kekalahan dari Brighton makin menegaskan betapa hancurnya Manchester United musim ini. Mereka tercatat sudah menelan enam kekalahan kandang.
Catatan ini jadi yang terbanyak diderita Setan Merah pada 12 laga kandang pertama di liga. Terakhir kali mereka kalah sebanyak itu terjadi musim 1893-1894.
