Logo JawaPos
Author avatar - Image
23 Oktober 2022, 17.34 WIB

Seloki

ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI (BUDIONO/JAWA POS)

Seloki


 

di dasar botol itu menumpuk kata-kata

mengendap lama sekali melewati musim-musim tua

sebelum sampai ke meja ini

di mana kau dan aku setia menunggunya

 

secawan dan secawan lagi sebab lidah tetap menanti

perasaan-perasaan menemukan kata yang pasti

demi merangkak menyentuh bibir-bibir kita

maka kau dan aku akan terus meneguknya

 

hingga kita menjadi penyair-penyair gelap

setelah menggali musim-musim tua

yang bersembunyi lirih sekali

di dasar dada itu

 

(2022)

---

Malam Gerimis


 

malam bertandang di beranda

bersama gerimis yang hilang rintihnya

setiap kali menyentuh permukaan daun

batu-batu juga atap di tidurmu

 

malam mengetuk-ngetuk pintu mimpimu

siapa tahu kau berkenan membukanya

dan mempersilakan gerimis singgah

tapi kau butuh tempat untuk sembunyi

 

malam dan gerimis meninggalkan sepimu

pergi mencari penyair-penyair hujan

yang atap di tidurnya masih merintih

dan bait puisinya riuh oleh tik-tik-tik

 

(2022)

---

Sore dari Beranda


 

dua anak kecil menepikan bola kaki dan saling menantang bola mata saat sebuah mangga dijatuhkan di tengah permainan dan siapa-siapa memilih kaum yang kawan atau yang lawan, yang pemenang yang paling pantas menggigit buah lalu senja yang jingga berubah menjadi gelanggang.

 

ada kaum ulat yang bertukar sapa dengan sepi dan perlahan-lahan menyesap dagingnya yang kuning manakala prosesinya terganggu setelah jatuh menghantam tanah dan oleh suara-suara seperti serdadu kecil yang kadang terkekeh kadang berteriak kasar memperebutkan kastil yang sedang dihuni.

 

seorang penyair duduk di beranda membayangkan dermaga tempat kapal-kapal tua berlayar bersandar dan dua kapal bajak laut saling bertempur menembakkan meriam beradu pedang demi sebuah harta karun yang telah dihancurkan ngengat karat lalu ia mengangkat pena hendak menulis puisinya.

 

(2022)

---

Kredo


 

puisi yang tak lagi menyebut namamu adalah kereta yang pulang tengah malam menemukan seorang penyair yang menantinya di ujung stasiun dan mengeluh sebab perjalanan yang jauh dan sama selalu dibatasi sepasang rel, ’’masih ada yang rutin menangis di gerbongku: seorang karyawan yang dihajar pinjaman, seorang istri karena suaminya, dan kawan seorang anak yang bunuh diri.’’ suara penyair berkarat seperti milik masinis tua, ’’orang-orang memang sulit tertawa di dalam kereta, di dalam dirimu.’’ kereta itu lalu melebur riuh dalam puisi memiuh sunyi yang panjang di lembar-lembarku, penyair muda yang berhenti menulis syair cinta sebab tak ingin lagi menyebut namamu.

 

(2022)

---

SADDAM H.P., Lahir di Kupang, NTT, 21 Mei 1991. Buku puisinya berjudul Komuni (2019). Dia bergabung di Komunitas Sastra Dusun Flobamora.
Editor: Ilham Safutra
Tags
Artikel Terkait
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore