Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Desember 2018, 18.10 WIB

Tulus Ikhlas

Ilustrasi - Image

Ilustrasi

JawaPos.com - "DALAM beramal, kita boleh tidak tulus, yang penting ikhlas."


Saya agak mengernyitkan dahi ketika mendengar tausiah seorang pendakwah itu. Bagaimana mungkin amal kita bisa diterima Tuhan jika tidak disertai ketulusan? Apakah pahalanya tidak melayang?


Perbuatan baik tak akan sia-sia di mata Tuhan selama dilakukan dengan tulus ikhlas. Misalnya, memberikan sumbangan atau bantuan kepada orang miskin.


Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia Badan Bahasa Edisi Kelima (KBBI V), baik cetak maupun digital, lema ikhlas memiliki makna bersih hati; tulus hati.


Sementara itu, tulus mempunyai arti sungguh dan bersih hati (benar-benar keluar dari hati yang suci); jujur; tidak pura-pura; tidak serong; tulus hati; tulus ikhlas.


Berdasar makna leksikal itu, kita tentu bisa menyimpulkan bahwa "ikhlas" dan "tulus" adalah dua kata yang bersinonim. Bahkan, KBBI V menggandengkan langsung kata tulus dan ikhlas menjadi satu. KBBI mencontohkan penggunaannya: Ia menyumbangkan tenaga dan hartanya dengan tulus ikhlas.


Dengan demikian, kita di Indonesia sering menyamakan maksud dan pengertian tulus dan ikhlas. Padahal, kenyataannya, tidak semua ketulusan itu dibarengi keikhlasan. Juga, tidak semua perbuatan ikhlas disertai ketulusan.


Tulus belum tentu ikhlas. Ikhlas juga belum tentu tulus. Ikhlas dan tulus memang berasal dari hati, tetapi hanya ikhlas yang beriringan dengan rida Allah SWT, sedangkan tulus belum tentu. Bahkan, bisa bertolak belakang.


Abu Ali Fudhail bin Iyadh dalam kitab Madarijus Salikin karya Ibnu Qayyim Al Jauziyah menjelaskan makna ikhlas. Yakni, meninggalkan amal karena manusia adalah riya dan beramal karena manusia adalah syirik. Sedangkan ikhlas ialah apabila Allah menyelamatkan kamu dari keduanya.


Ulama terkemuka yang wafat di Makkah pada 186 Hijriah itu menambahkan, ikhlas ialah yang dikerjakan karena Allah. Jadi, ikhlas adalah melakukan sesuatu dengan motivasinya hanya karena Allah.


"Idealnya, memang kita harus tulus sekaligus ikhlas dalam beramal. Namun, tidak semua orang bisa melakukan itu dan memang ada perbuatan yang keduanya tidak bisa dilakukan sekaligus," lanjut sang dai.


Contoh tulus tetapi tidak ikhlas: Ada sejoli, sepasang muda mudi, yang karena sudah lama berpacaran melakukan hubungan seksual di luar nikah. Mereka tulus melakukan itu. Tidak ada paksaan. Rela. Senang sama senang. Namun, Allah tidak suka, tidak rida, dengan perbuatan mereka.


Contoh ikhlas tetapi tidak tulus: Ketika hendak melaksanakan salat Subuh, kita merasa berat karena mungkin malamnya begadang nonton Piala Dunia sepak bola. Ada semacam keengganan. Akibatnya, bingung menentukan antara tidur dan salat. Namun, karena ingat bahwa salat adalah perintah wajib dari Tuhan, dengan berat hati akhirnya kita bangun dan mengerjakan salat Subuh.


Mari kita "mengikhlaskan" semua perbuatan baik kita. 


*) Penyelaras bahasa Jawa Pos

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore