Dalam sebuah diskusi di Las Vegas, Direktur dan Wakil Presiden Honda, Noriya Kaihara, mengatakan, bahwa Honda melihat Nissan sebagai cara untuk mengurangi biaya seputar kendaraan berbasis perangkat lunak (SDV) di masa depan.
“Kami memiliki biaya tenaga kerja dan pengembangan yang signifikan, dan jika ada operasi yang dapat kami bagi, itu akan baik bagi kami,” kata Noriya seperti dilansir dari The Verge, Jumat (17/1).
Pengembangan perangkat lunak baru termasuk sistem pengemudian canggih yang semakin dekat dengan kendaraan otonom dan kendaraan bertenaga baterai, akan sangat berpengaruh pada keberlangsungan sebuah produsen mobil. Terlebih biayanya tentu akan semakin mahal.
Honda juga mengatakan bahwa SUV besar Nissan seperti Armada dan Pathfinder menjadikannya mitra yang menarik.
Kepala Pusat pengembangan BEV Honda, Toshihiro Akiwa, mengatakan, teknologi hibrida Honda memang solid, tetapi saat ini hanya ada di kendaraan berukuran sedang seperti CR-V dan Accord. Perusahaan tertarik pada kendaraan Nissan yang lebih besar lantaran kapasitas motor dan baterai Honda dapat disesuaikan dengan kendaraan yang lebih besar.
Meskipun Honda memiliki Prologue, kendaraan tersebut merupakan bagian dari usaha patungan senilai 5 miliar USD dengan GM yang hanya bertahan selama pengembangan dua kendaraan.
Prologue telah menjadi kejutan yang sukses di pasar kendaraan listrik, terjual lebih dari 33.000 unit pada 2024 dan mengalahkan penjualan Honda Passport bertenaga gas yang lebih besar.
Karena kemitraan dengan GM gagal, sepertinya Prologue tidak akan diproduksi lama, meskipun Honda belum membuat pengumuman tentang rencananya untuk kendaraan tersebut. Ditambah, Honda saat ini tidak menawarkan crossover bertenaga listrik di luar Prologue, meskipun penggemar merek tersebut telah meminta CR-V bertenaga listrik selama bertahun-tahun.
Sementara itu, pendapatan Nissan menurun hingga 90 persen pada tahun lalu, yang memaksanya memberhentikan ribuan karyawan.
Perusahaan tersebut telah berjuang sejak penangkapan mantan CEO Nissan Carlos Ghosn pada 2018 karena pelanggaran keuangan. Tidak mengherankan jika Ghosn tidak senang dengan kabar merger ini dan mengatakan bahwa Nissan dalam mode panik. Bahkan, menyebut kesepakatan itu sebagai langkah putus asa dan mencatat bahwa sinergi antara kedua perusahaan sulit ditemukan.
Namun, seperti yang dikemukakan oleh para eksekutif Honda dalam diskusi, kesulitan Nissan dapat menjadi peluang bagi Honda.
Hal itu karena pabrik-pabrik Honda di Amerika Serikat saat ini beroperasi dengan kapasitas maksimum. Mereka bisa memanfaatkan kapasitas di pabrik-pabrik Nissan untuk memenuhi permintaan pelanggan.
"Saya tidak dalam posisi untuk berkomentar (tentang Nissan), tetapi mereka memiliki kapasitas," ungkap Kaihara.