Logo JawaPos
Author avatar - Image
10 Maret 2026, 23.38 WIB

Taruhan Besar AI: Oracle Hadapi Tekanan Utang Rp 1.689 Triliun di Tengah PHK dan Ekspansi Pusat Data Global

Larry Ellison, pendiri sekaligus ketua eksekutif Oracle (Fortune) - Image

Larry Ellison, pendiri sekaligus ketua eksekutif Oracle (Fortune)

 JawaPos.com - Raksasa perangkat lunak dan komputasi awan Oracle menghadapi tekanan finansial besar di tengah ambisinya membangun infrastruktur kecerdasan buatan (AI) berskala global. Perusahaan yang bernilai sekitar 400 miliar dolar AS itu kini menjadi sorotan setelah total utangnya melampaui 100 miliar dolar AS atau sekitar Rp 1.689 triliun (kurs Rp 16.890 per dolar AS), seiring lonjakan investasi pusat data dan rencana pemutusan hubungan kerja (PHK).

Tekanan ini muncul di saat Oracle justru masih mencatat pertumbuhan bisnis yang kuat. Para analis memperkirakan pendapatan kuartalan perusahaan meningkat sekitar 20 persen menjadi sekitar 17 miliar dolar AS atau sekitar Rp 287 triliun. Laba per saham, di luar beberapa pos tertentu, diproyeksikan naik sekitar 16 persen menjadi 1,71 dolar AS, didorong meningkatnya permintaan terhadap layanan komputasi awan dan infrastruktur AI.

Namun kombinasi ekspansi agresif dan peningkatan utang membuat pasar mulai berhati-hati. Melansir Fortune, Selasa (10/3/2026), saham Oracle tercatat turun sekitar 20 persen sepanjang 2026. Para analis menilai arah pergerakan saham perusahaan akan sangat bergantung pada apakah investor lebih menekankan potensi pertumbuhan AI atau justru risiko finansial dari investasi besar yang sedang dijalankan.

Di tengah tekanan itu, Oracle juga menjalankan restrukturisasi organisasi untuk mempercepat transformasi bisnisnya dari model lisensi perangkat lunak tradisional menuju penyedia infrastruktur komputasi awan. Perusahaan mengalokasikan hingga 1,6 miliar dolar AS atau sekitar Rp 27 triliun untuk program restrukturisasi, terutama untuk biaya pesangon karyawan, dengan sekitar 826 juta dolar AS telah dicatat sebagai biaya restrukturisasi.

Laporan Bloomberg juga menyebut perusahaan mempertimbangkan PHK ribuan pekerja sebagai bagian dari penyesuaian bisnis di tengah persaingan ketat dengan penyedia layanan komputasi awan global seperti Amazon dan Microsoft.

Ekspansi tersebut sebagian besar dibiayai melalui peningkatan utang. Total utang Oracle mencapai sekitar 92,6 miliar dolar AS pada akhir tahun fiskal terakhir dan meningkat menjadi sekitar 108,1 miliar dolar AS setelah perusahaan menerbitkan obligasi senilai 18 miliar dolar AS pada September 2025.

Selain itu, Oracle juga memiliki komitmen sewa pusat data masa depan senilai sekitar 248 miliar dolar AS yang belum tercatat dalam neraca keuangan. Investasi ini diarahkan untuk memperluas jaringan pusat data global guna memenuhi lonjakan kebutuhan komputasi AI dari perusahaan teknologi dan sektor korporasi.

Meski demikian, manajemen perusahaan menilai kebutuhan pendanaan proyek tersebut tidak sebesar perkiraan sebagian analis. Co-CEO Oracle, Clay Magouyrk, mengatakan kebutuhan dana pembangunan pusat data kemungkinan lebih rendah dari estimasi pasar.

"Kami membaca banyak laporan analis yang memperkirakan Oracle perlu mengumpulkan dana hingga lebih dari 100 miliar dolar AS untuk menyelesaikan pembangunan ini. Namun berdasarkan apa yang kami lihat saat ini, kami memperkirakan kebutuhan dana tersebut akan lebih kecil," ujarnya kepada investor.

Lonjakan investasi perusahaan juga tercermin dari belanja modal yang meningkat tajam. Belanja modal Oracle melonjak dari 6,9 miliar dolar AS pada tahun fiskal 2024 menjadi 21,2 miliar dolar AS pada 2025 dan diperkirakan mencapai sekitar 50 miliar dolar AS pada tahun fiskal ini, yang sempat membuat arus kas bebas perusahaan negatif.

Di tengah tekanan, pendiri sekaligus ketua eksekutif Oracle, Larry Ellison, tetap optimistis terhadap strategi jangka panjang perusahaan dalam industri AI. 

"Melatih model AI menggunakan data publik adalah bisnis terbesar dan paling cepat berkembang dalam sejarah. Model AI yang mampu bernalar menggunakan data privat akan menjadi bisnis yang jauh lebih besar dan lebih bernilai," kata Ellison, merujuk pada data privat sebagai aset yang diyakini akan menjadi fondasi ekonomi AI generasi berikutnya.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore