Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 17 Oktober 2026 | 17.58 WIB

Selain El Nino, Karhutla Juga Dipicu Cara Pembukaan Lahan

Penanganan karhutla oleh Kementerian Kehutanan. (dok. Kemenhut) - Image

Penanganan karhutla oleh Kementerian Kehutanan. (dok. Kemenhut)

JawaPos.com - Fenomena El Nino yang memicu kondisi lebih kering dapat meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Namun, faktor iklim bukan satu-satunya.  

Aktivitas manusia, mulai dari kelalaian hingga pembukaan lahan dengan cara membakar, juga menjadi sumber penyalaan api yang dapat memicu kebakaran meluas.

Guru Besar Bidang Ilmu Manajemen Hutan Fakultas Kehutanan Universitas Gadjah Mada (UGM) Ris Hadi Purwanto menjelaskan, kebakaran dipengaruhi tiga unsur utama, yakni sumber api, bahan bakar berupa vegetasi atau material organik, serta kondisi iklim yang mendukung terjadinya kebakaran.

Menurut Ris, kondisi iklim yang kering dapat memperbesar potensi kebakaran. Meski demikian, keberadaan sumber api tetap menjadi faktor penting yang perlu diperhatikan dalam upaya pencegahan karhutla.

“Kalau di kita, di negara Indonesia, yang sering terjadi itu begitu,” jelas Ris dalam UGM Podcast, seperti dikutip dari laman resmi Universitas Gadjah Mada (UGM), Sabtu (17/10).

Ia menerangkan, pembakaran kerap menjadi pilihan untuk membuka lahan karena dianggap dapat menekan biaya. Namun, apabila tidak disertai pengendalian dan pengawasan yang memadai, api berisiko merambat ke area lain hingga menyebabkan kebakaran dalam skala luas.

Ris menilai, penanganan karhutla tidak seharusnya hanya menjadi perhatian ketika kebakaran sudah terjadi. Kesiapsiagaan perlu dibangun secara berkelanjutan dengan memperhitungkan perubahan kondisi iklim dan potensi kebakaran di berbagai wilayah.

Menurutnya, langkah penanganan yang hanya dilakukan setelah muncul kebakaran berisiko membuat upaya pencegahan tidak berjalan konsisten.

“Jangan sampai, misalnya, mendirikan badan atau balai untuk menangani karhutla itu reaktif. Misalnya, kalau ada kebakaran baru dibuat, kalau tidak, tidak usah,” ujarnya.

Berdasarkan data yang dipaparkan dalam diskusi UGM Podcast, luas kumulatif karhutla sepanjang 2015-2026 mencapai sekitar 8,35 juta hektare. Kebakaran terluas tercatat pada 2015, yakni 2,61 juta hektare, disusul 2019 seluas 1,65 juta hektare dan 2023 mencapai 1,16 juta hektare.

Data tersebut memperlihatkan bahwa karhutla merupakan persoalan yang berulang. Karena itu, pengendalian sumber api, pengawasan aktivitas pembukaan lahan, dan kesiapsiagaan menghadapi kondisi iklim kering perlu menjadi bagian dari upaya pencegahan.

Editor: Bintang Pradewo
Tags

Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!

Jawa Pos

Ikuti

Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022

Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore