
Ilustrasi penangkapan teroris. Antaråa
JawaPos.com - Satgas Madago Raya masih memburu sisa kelompok Mujahidin Indonesia Timur (MIT). Sejauh ini, petugas memang menemukan kendala berupa medan pengejaran yang berat.
"Bisa bayangkan ya, bayangkan bahwa lokasi itu tidak seperti Jakarta," kata Kadiv Humas Polri Irjen Argo Yuwono kepada wartawan, Rabu (22/9).
Argo menjelaskan, kelompok MIT ini bersembunyi di daerah pegunungan. Akses ke lokasi tersebut hanya bisa ditempuh dengan jalan kaki.
"Rata enggak, tapi bergunung-gunung bisa dilalui tiga hari jalan kaki, itu naik turun. Naik turun tiga hari. Kemudian belum nanti oksigen sendiri di sana terbatas, kan gitu. Jadi tentunya dengan liku-liku dan hutan dan kabut itu ya," imbuhnya.
Sementara itu, kelompok MIT ini telah lama tinggal di lokasi tersebut. Sehingga lebih menguasai medan untuk menghindari kejaran petugas.
"Ya tentunya namanya orang yang sudah lama di hutan, itu kan mudah mereka memahami bagaimana itu liku-liku hutan. Misalnya ada bunyi 'kresek', itu kan (mereka) paham juga, 'oh itu bunyi kaki manusia. Oh itu bunyi ular'. Dia akan paham karena sudah lama di sana," pungkas Argo.
Sebelumnya, kontak senjata terjadi antara Satgas Madago Raya dengan kelompok teroris MIT. Peristiwa terjadi di Pegunungan Desa Astina, Kecamatan Torue, Kabupaten Parigi Moutong, Sulawesi Tengah, pada Sabtu (18/9) sekitar pukul 17.20 WITA.
Dalam kontak senjata ini, pimpinan MIT, Ali Ahmad alias Ali Kalora tewas ditembak mati oleh petugas. Dia merupakan salah satu Daftar Pencarian Orang (DPO) kasus terorisme yang jadi sasaran utama aparat. Ali diketahui sebagai pemegang tongkat kepemimpinan MIT pasca ditangkapnya Santoso.
"Pimpinan Mujahidin Indonesia Timur (MIT) Ali Kalora yang pernah menggegerkan karena menyembelih banyak warga dengan sadis di Sulteng, setelah buron hampir setahun, hari ini ditembak mati oleh Densus AT/88," kata Menko Polhukam Mahfud MD melalui akun twitter resminya @mohmahfudmd.
Selain Ali, Satgas Madago Raya juga menembak mati 1 DPO lainnya. Yakni Jaka Ramadhan alias Ikrima. "Ia ditembak bersama seorang anak buahnya yang bernama Ikrimah. Masyarakat harap tenang," imbuh Mahfud.
Dengan tewasnya 2 DPO ini, maka kelompok MIT hanya tersisa 4 orang lagi yang masih buron. Mereka yakni Askar alias Jaid alias Pak Guru, Nae alias Galuh alias Mukhlas, Rukli, dan Suhardin alias Hasan Pranata.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Weton Satrio Wibowo: 5 Weton Pembawa Rezeki, Karisma, dan Kehormatan Menurut Primbon Jawa
Psikolog Umum Kompeten dan Siap Berikan Layanan di Puskesmas, Pendidikan, Organisasi serta Komunitas
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Kejam, Sopir Truk Dibakar Oleh Atasan dan Alami Luka Bakar Sampai 68 Persen
7 Kebiasaan yang Bikin Ban Motor Cepat Botak, Mana yang pernah Kamu Lakukan?
Ultah Ariel NOAH ke-45 Dirayakan Bareng Wulan Guritno, Ada Pelukan hingga Candaan Duda-Janda
Tak Lagi jadi Menkeu, Momen Purbaya Makan Bakso Berdua Istri dan Kembali Nyetir Sendiri
MK Diminta Batalkan Jabatan Wapres Gibran, Syarat Pendidikan Dipersoalkan
Mahfud MD Balas Sindiran Prabowo: Banyak juga Presiden yang Goblok

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022