Logo JawaPos
Author avatar - Image
17 Januari 2025, 23.46 WIB

Orang yang Hidupnya Penuh Kekacauan Biasanya Punya 7 Sifat Ini Menurut Psikologi

Ilustrasi seseorang yang hidupnya penuh kekacauan. (Freepik) - Image

Ilustrasi seseorang yang hidupnya penuh kekacauan. (Freepik)

JawaPos.com - Pernahkah kamu masuk ke ruang seseorang dan merasa langsung terkejut karena kekacauannya? Pakaian berserakan, piring menumpuk, dan suasana terasa sangat tidak teratur?

Meskipun setiap orang punya hari-hari malas, ada sebagian orang yang tampaknya hidup dalam kekacauan terus-menerus. Psikologi menyatakan, ini bukan hanya masalah kekacauan, tetapi berkaitan dengan sifat dan pola perilaku yang lebih dalam.

Hidup dalam kekacauan seringkali berhubungan dengan kebiasaan, pola pikir, dan faktor emosional yang memengaruhi bagaimana seseorang menjaga atau justru mengabaikan lingkungan mereka.

Dilansir dari Geediting pada Jumat (17/1), berikut adalah 7 sifat psikologis di balik orang yang hidupnya penuh dengan kekacauan.

1. Kreativitas

Ternyata, ruang yang berantakan bisa menjadi tanda kreativitas. Meskipun terdengar mengejutkan, sifat ini sering ditemui pada orang yang cenderung lebih berantakan.

Tumpukan barang di sekitar mereka sering kali merupakan hasil dari pikiran kreatif yang sangat aktif. Walau bagi orang lain ini terlihat tidak teratur, bagi mereka yang berantakan, itu adalah sistem unik mereka sendiri.

Psikolog mengatakan, orang yang kreatif cenderung melihat dunia secara berbeda dan tidak terlalu terikat pada norma. Ini termasuk cara mereka mengatur ruang mereka. Kekacauan yang terlihat mungkin sebenarnya adalah hasil dari proses kreatif yang produktif. Jadi, jangan langsung menilai negatif ruang yang berantakan, bisa jadi itu tempat lahirnya ide besar berikutnya.

Namun, perlu diingat, ada batas antara kekacauan kreatif dan lingkungan yang tidak sehat.

2. Prokrastinasi

Penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan erat antara prokrastinasi dan kekacauan. Orang yang berantakan tidak berniat untuk hidup dalam kondisi kacau—hal ini terjadi karena mereka terus menunda-nunda pekerjaan rumah, termasuk membersihkan.

Masalahnya, “nanti” berubah menjadi besok, lalu minggu depan, dan sebelum mereka sadar, tumpukan pakaian kotor dan surat yang menumpuk sudah membuat kekacauan semakin parah.

Bukan karena mereka tidak melihatnya, tetapi dalam pikiran mereka, membersihkan terasa seperti tugas yang sangat besar, yang lebih baik ditunda sampai benar-benar terpaksa dilakukan.

Dan akhirnya, begitu tumpukan itu bertambah banyak, perasaan kewalahan semakin besar, sehingga siklus ini pun berlanjut.

3. Rendahnya Kewaspadaan

Editor: Novia Tri Astuti
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore