
Ilustrasi- Orang selalu was-was dan khawatir (jcomp-freepik)
JawaPos.com - Jika Anda pernah mengenal seseorang yang tampaknya terus-menerus mengkhawatirkan skenario yang tidak mungkin atau tidak realistis, Anda tidak sendirian. Orang-orang ini sering menunjukkan perilaku tertentu yang mungkin membuat Anda bingung atau bahkan frustrasi. Jenis kekhawatiran yang berlebihan ini bukanlah pilihan gaya hidup, tetapi seringkali merupakan tanda dari masalah psikologis yang mendasarinya. Orang-orang yang menemukan diri mereka dalam siklus ini mungkin berjuang untuk mengendalikan ketakutan dan kecemasan mereka.
Mereka mungkin membayangkan skenario terburuk, bahkan ketika segala sesuatunya berjalan dengan baik, atau mengkhawatirkan hal-hal yang tidak mungkin terjadi. Memahami perilaku ini bisa menjadi tantangan. Tetapi pengetahuan adalah kekuatan, dan mendapatkan wawasan tentang perilaku ini dapat membantu mengelolanya dengan lebih baik. Itulah yang akan kita jelajahi dalam artikel ini. Dikutip dari geediting pada Rabu (15/1) berikut 5 perilakunya;
1) Terlalu banyak Berpikir
Pernahkah Anda menemukan diri Anda terjebak dalam lingkaran "bagaimana jika" dan skenario terburuk? Ini adalah perilaku umum yang ditunjukkan oleh orang-orang yang terlalu mengkhawatirkan skenario yang dibuat-buat. Mereka mungkin menghabiskan waktu berjam-jam, berhari-hari, atau bahkan berminggu-minggu untuk memikirkan hasil potensial yang sangat tidak mungkin atau bahkan tidak mungkin. Pemikiran berlebihan ini bukanlah pilihan yang disadari, melainkan manifestasi dari kecemasan dan ketakutan mereka yang mendalam. Mereka mungkin sadar bahwa kekhawatiran mereka tidak rasional, namun merasa sulit untuk melepaskan diri dari siklus kekhawatiran yang terus-menerus ini. Terlalu banyak berpikir dapat menyebabkan perasaan tertekan dan kelelahan.
Itu juga dapat mengganggu kemampuan mereka untuk membuat keputusan, karena mereka mungkin merasa lumpuh karena takut membuat pilihan yang salah. Mereka bahkan mungkin merasa bersalah karena terlalu khawatir, namun mendapati diri mereka tidak dapat berhenti. Memahami perilaku ini sangat penting dalam mempelajari cara mengelolanya. Ingatlah bahwa ini bukan tentang menghilangkan ketakutan mereka, tetapi tentang membantu mereka menemukan cara yang lebih sehat untuk mengatasi kecemasan mereka. Dengan melakukan itu, Anda tidak hanya membantu mereka mengatasi kekhawatiran mereka, tetapi juga mendorong pemahaman yang lebih baik dan lingkungan yang mendukung bagi mereka untuk berkembang.
2) Perencanaan yang berlebihan
Sekilas, perencanaan mungkin tampak seperti sifat yang positif. Bagaimanapun, ini sering dikaitkan dengan tanggung jawab dan persiapan. Namun, bagi orang yang terlalu mengkhawatirkan skenario yang tidak mungkin terjadi, perencanaan dapat mengambil dimensi yang berbeda. Mereka mungkin mendapati diri mereka merencanakan setiap hasil yang mungkin, betapapun tidak mungkinnya. Ini mungkin melibatkan pembuatan rencana darurat untuk situasi yang sangat tidak mungkin terjadi. Ini bukan hanya perencanaan rata-rata Anda – ini adalah perencanaan yang dilakukan secara ekstrem.
Meskipun hal ini dapat memberi mereka kendali sementara atas ketidakpastian dalam hidup, hal ini juga dapat meningkatkan tingkat stres dan kecemasan mereka. Itu dapat menghabiskan waktu dan energi mereka, membuat mereka merasa kewalahan dan lelah. Tetapi penting untuk dipahami bahwa ini bukan tentang menjadi terlalu terorganisir atau teliti. Ini adalah mekanisme koping yang mereka gunakan untuk mengatasi ketakutan dan kecemasan mereka yang mendalam. Mengenali perilaku ini adalah langkah pertama untuk membantu mereka menemukan cara yang lebih seimbang untuk mengelola kekhawatiran mereka.
3) Mencari kepastian
Orang yang sering mengkhawatirkan skenario yang tidak mungkin biasanya mencari kepastian dari orang-orang di sekitar mereka. Mereka mungkin sering meminta saran atau konfirmasi bahwa semuanya akan baik-baik saja. Ini dapat terwujud dalam pertanyaan seperti, "Apakah menurut Anda saya membuat keputusan yang tepat?"atau "Apakah kamu yakin semuanya akan berhasil?” Di balik perilaku ini adalah ketakutan akan ketidakpastian dan ketidaknyamanan yang ditimbulkannya. Ketika orang cemas, toleransi mereka terhadap ketidakpastian biasanya lebih rendah. Hal ini membuat mereka mencari kepastian sebagai cara untuk meredakan kekhawatiran mereka dan merasa lebih aman tentang keputusan atau keadaan mereka.
Namun, siklus ini bisa menjadi terus berlanjut. Kelegaan dari kepastian seringkali bersifat sementara, membuat mereka mencarinya lagi ketika gelombang kekhawatiran berikutnya melanda. Hal ini dapat menguras tenaga baik bagi individu maupun orang-orang di sekitarnya. Mendukung seseorang yang menunjukkan perilaku ini tidak berarti memberikan jaminan tanpa akhir. Sebaliknya, ini tentang membantu mereka membangun kepercayaan pada kemampuan mereka untuk mentolerir ketidakpastian dan mengatasi kecemasan mereka secara mandiri.
4) Menghindari
Terkadang, ketakutan akan kejadian yang tidak terduga bisa begitu besar sehingga membuat orang menghindari situasi sepenuhnya. Mereka mungkin menghindari aktivitas, tempat, atau bahkan orang yang memicu kecemasan mereka tentang skenario yang dibuat-buat. Pikirkan seperti ini. Bayangkan begitu khawatir jatuh sehingga Anda memutuskan untuk tidak pernah menaiki satu set anak tangga. Bukannya tangga pada dasarnya berbahaya, tetapi ketakutan akan apa yang bisa terjadi terlalu kuat untuk diabaikan.
Sangat mudah untuk melihat bagaimana perilaku ini dapat membatasi pengalaman dan peluang hidup mereka. Tapi ingat, ini bukan tentang mereka yang terlalu berhati-hati atau pemalu. Ini adalah mekanisme pertahanan yang mereka gunakan dalam upaya melindungi diri dari kecemasan mereka. Memahami mengapa mereka menghindari situasi tertentu dapat membantu kita mendekati mereka dengan empati dan kesabaran. Alih-alih mendesak mereka untuk hanya menghadapi ketakutan mereka, kita dapat mendukung mereka dalam menghadapi situasi ini secara bertahap dengan cara yang terasa aman dan dapat dikendalikan oleh mereka.
