
ilustrasi seorang suami yang buruk namun menjadi ayah yang hebat
JawaPos.com - Dalam dinamika hubungan keluarga, tidak jarang seorang lelaki dianggap sebagai suami yang buruk oleh pasangannya tetapi dipandang sebagai ayah yang hebat oleh anak-anaknya.
Dilansir dari Geediting pada Senin (13/1), fenomena ini mencerminkan adanya ketidakseimbangan dalam cara seorang lelaki menjalankan perannya dalam keluarga.
Bagaimana hal ini bisa terjadi? Apa yang menyebabkan seorang lelaki memiliki kualitas yang tampak bertentangan ini?
Dalam artikel ini, kita akan menjelajahi perspektif psikologi untuk memahami fenomena ini lebih dalam.
1. Fokus Emosional yang Terbagi
Seorang ayah yang hebat sering kali memiliki kemampuan untuk memberikan perhatian penuh kepada anak-anaknya.
Namun, dalam hubungan dengan pasangan, fokus emosional ini bisa berkurang karena konflik, kurangnya komunikasi, atau ketidakmampuan untuk memahami kebutuhan emosional pasangannya.
Psikologi menunjukkan bahwa seseorang yang merasa gagal di satu area hubungan sering kali mengalihkan energinya untuk berhasil di area lain.
Dalam hal ini, lelaki tersebut berusaha menjadi ayah yang baik sebagai kompensasi dari ketidakpuasannya dalam peran sebagai suami.
2. Kemampuan Berkomunikasi yang Berbeda
Sebagai ayah, lelaki ini mungkin menunjukkan kemampuan berkomunikasi yang baik dengan anak-anak, seperti mendengarkan, memberikan nasihat, atau bahkan bermain bersama.
Namun, komunikasi dengan pasangan mungkin penuh dengan ketegangan atau kurangnya empati.
Teori gaya attachment menunjukkan bahwa cara seseorang menjalin hubungan dengan anak dan pasangan bisa berbeda.
Lelaki ini mungkin merasa lebih nyaman menunjukkan kasih sayang kepada anak-anak yang tidak menuntut dinamika emosional yang kompleks seperti hubungan dengan pasangan.
3. Kesediaan untuk Berinvestasi dalam Peran Ayah
