
Ilustrasi seseorang dengan perilaku toxic positivity.
JawaPos.com - Optimisme adalah hal yang luar biasa, tetapi ada garis tipis antara optimisme sejati dan sikap positif yang beracun, atau sering disebut toxic positivity. Perbedaannya terletak pada keaslian.
Merasa optimis adalah soal mengakui bahwa hidup penuh tantangan, tetapi tetap percaya pada kemungkinan hasil positif.
Sebaliknya, toxic positivity memaksa kita untuk mengabaikan emosi negatif dan berpura-pura bahwa semuanya baik-baik saja, meskipun kenyataannya tidak demikian.
Dilansir dari laman Hack Spirit pada Sabtu (4/1) berikut adalah tujuh tanda tersembunyi dari sikap toxic positivity menurut psikologi.
Banyak orang merasa tidak nyaman saat menghadapi emosi negatif, baik milik sendiri maupun orang lain. Mereka cenderung menepisnya dengan ucapan seperti, "Jangan sedih, semuanya akan baik-baik saja."
Padahal, menurut psikologi, mengabaikan perasaan negatif justru dapat membatalkan pengalaman yang sebenarnya. Tidak apa-apa untuk tidak baik-baik saja.
Mengakui perasaan negatif adalah langkah penting untuk memahami diri sendiri dan situasi yang sedang dihadapi. Jika Anda atau orang lain selalu berusaha mengesampingkan emosi sulit demi mempertahankan perspektif optimis, ini bisa menjadi tanda sikap toxic positivity.
Pernahkah Anda merasa sedih tetapi memaksakan diri tersenyum agar terlihat "baik-baik saja" di depan orang lain? Menekan emosi autentik seperti ini adalah salah satu ciri utama toxic positivity.
Perasaan manusia tidak selalu penuh kebahagiaan, dan itu wajar. Dengan memaksa diri menyembunyikan emosi yang sebenarnya, kita menciptakan jarak antara diri kita yang autentik dan dunia di sekitar kita.
Afirmasi positif bisa menjadi alat yang kuat untuk membangun kepercayaan diri dan menjaga semangat. Namun, menggunakannya secara berlebihan, terutama untuk menghindari kenyataan negatif, dapat menjadi tanda toxic positivity.
Menurut penelitian, bagi orang dengan harga diri rendah, afirmasi positif yang berlebihan malah bisa menciptakan konflik batin. Jika afirmasi tidak didukung oleh keyakinan yang realistis, efeknya justru bisa kontraproduktif.
Menghadapi masalah adalah bagian dari kehidupan. Namun, jika reaksi pertama Anda adalah mengabaikannya dengan mengatakan hal seperti, "Setidaknya ini bukan masalah besar," Anda mungkin menunjukkan sikap toxic positivity.
Mengabaikan masalah bukanlah solusi, sebaliknya itu adalah bentuk penyangkalan. Ketika masalah diabaikan, kemungkinan besar mereka akan kembali dalam bentuk yang lebih besar dan kompleks. Alih-alih menyelesaikan, kebiasaan ini justru dapat memperburuk situasi.
Banyak orang merasa bersalah saat mereka tidak bisa mempertahankan kebahagiaan setiap saat. Ini adalah salah satu tanda umum dari sikap toxic positivity.
