
zodiak yang dikenal multitalenta.
JawaPos.com- Pernahkah orang di sekitar Anda menyebut diri Anda sebagai pemalas? Atau menyalahkan diri Anda karena tidak melakukan aktivitas apapun? Atau apakah Anda merasa selalu tertinggal dibandingkan dengan orang lain?
Di zaman sekarang, terlalu produktif nyatanya juga tidak baik untuk kesehatan mental. Individu yang terlalu produktif dapat mengindikasikan seseorang mengalami toxic productivity.
Budaya kompetitif banyak ditemui di berbagai aspek kehidupan. Seseorang dapat terperangkap ke dalam toxic productivity, terutama bagi remaja yang sering merasa khawatir tertinggal dari pencapaian orang lain atau ketika mengalami ketakutan akan ketertinggalan (FOMO). Toxic productivity dapat menyebabkan stres dan kecemasan yang tinggi.
Merujuk pada jurnal UNDIP, toxic productivity merupakan kondisi seseorang yang memiliki keinginan berlebihan untuk selalu produktif tiada henti bahkan ketika tugasnya sudah selesai.
Individu yang mengalami toxic productivity akan selalu merasa kurang dan tidak cukup ketika mereka mengambil waktu istirahat atau melakukan aktivitas yang dianggap kurang produktif.
Budaya kita yang mengedepankan produktivitas ini, juga memicu terjadinya toxic productivity. Salah satu contohnya adalah kebiasaan kita untuk selalu memuji orang yang mengorbankan waktu istirahat atau lembur demi menyelesaikan tugas. Budaya ini yang akan memperkuat toxic productivity.
Toxic productivity dapat sangat merugikan apabila sudah mencapai tahap stres kronis yang berkaitan dengan pekerjaan (burnout). Burnout bisa menyebabkan gangguan fisik dan mental, melemahkan sistem imun, bahkan dapat menyebabkan kondisi serius seperti tipes.
Salah satu cara agar tidak mengalami burnout, yaitu dengan malas. Malas yang dimaksud adalah mengarah pada kehidupan yang lebih santai untuk membangun kondisi yang lebih produktif.
Dilansir dari nesslabs, yang mengungkapkan bahwa kemasalan baik untuk kesehatan mental. Bermalas-malasan dapat membantu kita mengatasi stres. Dengan mengambil istirahat, tubuh dan pikiran kita diberikan kesempatan untuk mengisi ulang sehingga menghindarkan dari kelelahan pikiran yang berat. Sehingga, perilaku malas dapat membantu kita mengelola stres.
Sifat malas dapat melatih pikiran kita menjadi dua mode yakni, mode difus dan mode fokus. Memiliki pemikiran difus bermanfaat untuk mengembangkan kreativitas, sedangkan saat pikiran kita mode fokus, isi kepala kita akan lebih produktif karena kita memiliki potensi lebih besar untuk mencapai tujuan.
Ketidakaktifan dan memilih untuk beristirahat dapat memulihkan cadangan energi kita. Contohnya pada kebiasaan tidur yang cukup dapat membersihkan pikiran dan menurunkan tekanan darah yang tinggi.
Orang malas tidak mudah kelelahan. Mereka yang memiliki sifat malas biasanya mengeluarkan energi dengan sangat hati-hati. Dalam bekerja mereka akan menghindari tugas yang tidak perlu sehingga dapat terhindari dari kelelahan yang tidak perlu.
Kemalasan bisa membantu untuk menyelesaikan masalah. Ketika sedang beristirahat tubuh dan pikiran kita akan memproses informasi yang penting. Seperti koreksi diri, apakah kita lelah, apakah kita sedang kekurangan motivasi, apakah kita sekarang sedang lapar. Mengakui perasaan malas dapat menjadi langkah yang baik untuk mengerjakan tugas yang ada.
Perasaan malas adalah sesuatu yang wajar. Ternyata kemalasan dapat digunakan untuk menjadi lebih produktif dan lebih santai dalam menghadapi situasi jangka panjang. Memilih untuk malas dapat menjadi solusi untuk kesehatan mental yang lebih baik.
***
