
Rena berhasil mencapai fase remisi dan aktif menekuni bidang kuliner yang merupakan passion-nya. (Rena Basuki untuk Jawa Pos)
Awalnya terasa kaku dan nyeri di persendian. Lama-kelamaan, durasi nyeri bertambah dan muncul bengkak. Jika rheumatoid arthritis tidak diobati, sendi bisa bengkok, bahkan komplikasi. Meski tidak bisa disembuhkan, rheumatoid arthritis bisa diminimalkan agar berada di fase remisi.
---
NYERI, ngilu, gampang lelah di bagian tangan dan kaki sudah Rena Basuki rasakan sejak 2005. Pada 2013 dia didiagnosis mengidap rheumatoid arthritis. Sebelum itu, dia pernah merasakan nyeri yang teramat sakit. Badannya terasa bengkak semua. Keesokan harinya, dia tidak mampu bergerak. Menapakkan kaki saja tidak sanggup.
”Waktu itu saya ada rapat di Bandung, kondisi dingin ditambah saya sudah lelah. Kalau diminta mengukur rasa sakitnya dari 1–10, saya tidak bisa mengira. Saking sakitnya, ini lebih dari 10,” kenangnya.
Ketika itu, Rena dirawat di rumah sakit di Jakarta. Saat itu belum didiagnosis rheumatoid arthritis dan masih bisa diatasi. Merasa baikan, Rena kembali kerja lembur. Dua minggu kemudian, dia kembali mengalami serangan. Kali ini lebih parah hingga dia tidak bisa melakukan aktivitas apa pun dan mesti menggunakan kursi roda.
”Lagi belanja tiba-tiba tidak bisa jalan, kayak lumpuh layu. Yang kedua ini sudah tegak diagnosisnya bahwa mengarah ke autoimun, tapi jenisnya masih dicek,” lanjutnya.
Pikirannya tak keruan. Apalagi saat mengetahui salah seorang temannya yang mengidap penyakit autoimun tersebut meninggal. Stres ternyata semakin memperburuk kondisi kesehatannya. Syukurnya, suami dan keluarga senantiasa memberikan support. Dia pun terbang ke Singapura untuk berobat.
”Rheumatoid arthritis bisa kambuh atau flare-up. Pemicunya, antara lain, kondisi stres, kurang istirahat, lelah fisik, maupun penghentian obat secara tiba-tiba (tidak sesuai advis dokter),” terang Dr Awalia dr SpPD-KR FINASIM, spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi di RSUD dr Soetomo Surabaya.
Rena pun mulai mencoba meminimalkan faktor pencetus yang memicu kekambuhan. Salah satunya, me-manage stres. ”Saya resign dari kerjaan, stres karena tidak melakukan apa-apa. Akhirnya waktu itu memasak menjadi healing bagi saya,” ujar perempuan 46 tahun itu.
Menjaga pola makan hingga olahraga ringan juga dia lakukan selama proses mencapai remisi. Yakni, fase saat kondisi stabil tanpa keluhan berarti. Rena memilih jalan kaki rutin dan yoga. Dia juga menghindari makanan yang bisa memicu inflamasi seperti garam.
Dokter Awalia menjelaskan, mengatur pola hidup sehat memang penting untuk mencapai remisi. ”Istirahat cukup, olahraga teratur, hindari stres. Itu sangat menunjang (mencapai remisi). Serta, rutin memeriksakan diri ke dokter untuk mengatur dosis obat dan memonitor aktivitas penyakit,” jelas dokter yang juga berpraktik di Siloam Hospitals Surabaya tersebut.
Karena itu, sedini mungkin periksakan ke dokter spesialis penyakit dalam konsultan reumatologi apabila merasakan gejala awal seperti nyeri persendian. Umumnya nyeri terjadi pada sendi-sendi kecil di tangan dan kaki. Namun, juga bisa menyerang sendi besar seperti lutut, bahu, dan panggul.
”Jika tidak diobati, peradangan sendi akan berlanjut. Selain mengganggu aktivitas, komplikasi rheumatoid arthritis bisa mengakibatkan kecacatan pada sendi (perubahan bentuk dan gangguan fungsi). Bisa juga ada manifestasi di luar sendi seperti kelainan pada mata, paru, hingga kulit,” imbuh dr Awalia.
Rheumatoid arthritis bisa dikontrol. Terapi yang disarankan adalah DMARDs (disease modifying anti rheumatic drugs). Terapi obat-obatan itu bertujuan mengontrol sistem imun. Dengan begitu, persendian tidak lagi dianggap musuh oleh sistem imun tubuh.
”DMARDs harus diberikan sedini mungkin, jangan hanya memberikan antinyeri atau steroid, yang bisa menipu (nyeri hilang sehingga dikira terkontrol, padahal proses autoimun masih terus berlanjut),” ungkap dr Awalia.
