Logo JawaPos
Author avatar - Image
Sabtu, 28 Februari 2026 | 21.20 WIB

Orang yang Lebih Menyukai Keheningan daripada Kebisingan Latar Belakang saat Mereka Sedang Memecahkan Masalah Memiliki 7 Ciri Kognitif Ini

seseorang yang menyukai ketenangan


JawaPos.com - Di tengah dunia yang penuh notifikasi, musik latar, podcast, dan suara televisi yang terus menyala, ada sebagian orang yang justru merasa paling “hidup” ketika semuanya sunyi. Bagi mereka, keheningan bukanlah kekosongan—melainkan ruang kerja mental yang jernih.

Dalam psikologi kognitif, preferensi terhadap keheningan saat memecahkan masalah bukan sekadar soal selera. Penelitian menunjukkan bahwa pilihan ini sering berkaitan dengan gaya pemrosesan informasi, kapasitas atensi, serta struktur kepribadian tertentu. Konsep seperti deep work yang dipopulerkan oleh Cal Newport juga menekankan pentingnya minim distraksi untuk mencapai performa kognitif optimal.

Dilansir dari Silicon Canals pada Jumat (27/2), terdapat tujuh ciri kognitif yang sering dimiliki oleh orang-orang yang lebih menyukai keheningan saat berpikir.

Orang yang menyukai keheningan biasanya memiliki kecenderungan untuk masuk ke kondisi fokus intens dalam waktu lama. Mereka tidak sekadar berkonsentrasi—mereka “menyelam”.

Dalam kondisi sunyi, beban kognitif berkurang karena otak tidak perlu menyaring rangsangan suara yang tidak relevan. Ini memungkinkan mereka mengalokasikan lebih banyak sumber daya mental untuk:

Analisis kompleks

Penalaran logis

Pemecahan masalah bertahap

Mereka cenderung merasa terganggu bukan karena lemah fokus, tetapi karena sistem perhatian mereka bekerja sangat selektif dan sensitif terhadap distraksi.

2. Sensitivitas Sensorik yang Tinggi

Sebagian individu memiliki tingkat sensitivitas sensorik yang lebih tinggi. Dalam psikologi kepribadian, ini sering dikaitkan dengan konsep high sensitivity atau temperamen yang lebih reaktif terhadap stimulus lingkungan.

Suara latar—bahkan yang dianggap biasa oleh orang lain—dapat meningkatkan cognitive load. Otak harus terus memfilter suara tersebut, dan proses ini menguras energi mental.

Keheningan bagi mereka bukan kemewahan, tetapi kebutuhan agar sistem saraf tetap dalam kondisi optimal.

3. Pemrosesan Informasi Secara Reflektif

Dalam teori gaya kognitif, ada perbedaan antara pemikir reflektif dan impulsif. Individu reflektif cenderung:

Mempertimbangkan berbagai kemungkinan

Menguji asumsi internal

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Jawa Pos
JawaPos.com adalah bagian dari Jawa Pos Group, perusahaan media terkemuka di Indonesia. Menyajikan berita terkini, akurat, dan terpercaya.
Graha Pena Lt.2 Jl. Raya Kby. Lama No.12, Grogol Utara, Kec. Kebayoran Lama, Kota Jakarta Selatan, Daerah Khusus Ibukota Jakarta 12210
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore