Logo JawaPos
Author avatar - Image
28 Januari 2026, 15.55 WIB

Orang yang Terus-Menerus Memotret Matahari Terbenam Sering Kali Menghindari 6 Kebenaran Tidak Menyenangkan tentang Diri Mereka Menurut Psikologi

seseorang yang sering memotret matahari terbenam./Freepik/pvproductions - Image

seseorang yang sering memotret matahari terbenam./Freepik/pvproductions

JawaPos.com - Matahari terbenam adalah salah satu pemandangan paling universal yang dicintai manusia. Warnanya lembut, peralihannya pelan, dan momennya singkat.

Tidak heran jika banyak orang spontan mengangkat ponsel, memotretnya, lalu mengunggahnya ke media sosial dengan caption sederhana: “senja hari ini” atau “healing tipis-tipis.”

Namun, menurut psikologi, kebiasaan terus-menerus memotret matahari terbenam—bukan sekadar sesekali menikmatinya—kadang bukan hanya soal estetika.

Di balik kebiasaan ini, bisa tersembunyi upaya halus untuk menghindari beberapa kebenaran emosional yang tidak nyaman.

Penting dicatat: ini bukan berarti semua orang yang suka memotret senja punya masalah psikologis. Sama sekali tidak. Psikologi hanya membantu kita melihat pola—dan pola sering kali membuka cermin ke dalam diri.

Dilansir dari Geediting pada Senin (26/1), terdapat enam kebenaran tidak menyenangkan yang, menurut psikologi, sering dihindari oleh orang yang terlalu sering “bersembunyi” di balik foto matahari terbenam.

1. Mereka Kesulitan Menghadapi Kehidupan Saat Ini

Matahari terbenam melambangkan akhir hari, jeda, dan ketenangan. Secara psikologis, orang yang terlalu sering mengejar momen ini kadang sedang berusaha melarikan diri dari realitas harian yang terasa melelahkan atau mengecewakan.

Alih-alih menghadapi masalah nyata—pekerjaan yang tidak memuaskan, hubungan yang stagnan, atau perasaan kosong—mereka mencari momen singkat yang terasa “indah dan aman”.

Dalam psikologi, ini dikenal sebagai escapism ringan: bukan melarikan diri secara ekstrem, tapi cukup untuk menunda perasaan tidak nyaman.

2. Mereka Meromantisasi Kesedihan karena Tidak Tahu Cara Mengolahnya

Senja sering diasosiasikan dengan rasa sendu, nostalgia, dan kehilangan yang lembut. Bagi sebagian orang, memotretnya adalah cara meromantisasi kesedihan agar terasa lebih bisa diterima.

Daripada mengakui:

“Aku sedih dan tidak tahu harus bagaimana,”

mereka memilih:

Editor: Hanny Suwindari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore