
Dua anak bos rental korban penembakan, Adik Rizki Agam Saputra dan Agam Muhammad Nazrudin. (Syahrul Yunizar/JawaPos.com).
JawaPos.com - Dua anak korban penembakan di Rest Area Kilometer 45 Jalan Tol Merak-Tangerang turut hadir dalam pres conference di Markas Komando Armada Republik Indonesia (Koarmada RI), Jakarta Pusat pada Senin (6/1). Usai mendengarkan keterangan sejumlah pimpinan TNI AL dan Polda Banten, mereka membagikan kesaksian saat peristiwa penembakan terjadi dan menewaskan ayah mereka, Ilyas Abdurrahman.
Agam Muhammad Nazarudin menyampaikan bahwa laporannya kepada aparat kepolisian di Polsek Cinangka tidak direspons serius. Bahkan, dia mengaku sempat mendengar salah seorang petugas jaga meragukan kesaksiannya soal todongan senjata api dari terduga pelaku penggelapan mobil rental milik ayahnya. Belakangan diketahui bahwa senjata api itu asli dan merupakan inventaris melekat pada salah seorang prajurit TNI AL yang terlibat penembakan.
”Ada pertanyaan dari anggota piket (Polsek Cinangka), pistol itu ciri-cirinya seperti apa? Saya kan awam dalam masalah pistol. Saya bilang itu kayak warna hitam, kayak airsoft gun. Terus ya sudah kamu susul saja ke sana. Terus bagaimana Pak? Dia kan bawa pistol. Ah paling juga itu cuma pistol bohongan, kata anggota piket saat itu,” terang Agam.
Jawaban tersebut sontak membuat Agam tidak percaya. Padahal, dia bersama rombongan yang datang ke Polsek Cinangka sudah menjelaskan bahwa mereka ditodong menggunakan senjata api. Bagi mereka, todongan itu merupakan bentuk ancaman serius. Untuk itu, mereka berinisiatif datang dan melapor kepada petugas di Polsek Cinangka agar mendapat pendampingan. Terlebih, para terduga pelaku penggelapan mobil rental tidak mau diajak bicara baik-baik.
”Mobil kan saya bilang deket dari Polsek (Cinangka) ini sekitar 3 kilometer, dan kami sudah ditodongkan pistol. Padahal kami sudah menawarkan persuasif untuk ngobrol baik-baik. Tetapi, yang mengaku oknum anggota TNI AL ini bilang minggir kamu, kalau nggak saya tembak. Tenang Pak, kata ayah saya, kita ngobrol dulu di sini. Ini mobil, mobil rental. Setelah itu, dia menabrak kami waktu di Saketi. Kami terjatuh kan. Tiba-tiba dia itu kabur. Seperti itu,” jelasnya.
Dengan ancaman dan tindakan seperti itu, lanjut Agam, dia berharap bantuan dari polisi. Sebab, sebagai warga negara biasa, dia mengaku hanya terpikir meminta pertolongan kepada aparat kepolisian. Namun demikian, respons petugas piket di Polsek Cinangka tidak sesuai bayangannya. Bahkan, dia tidak habis pikir karena diminta mengejar sendiri. ”Jadi, waktu saya konfirmasi ke anggota piket, kamu ke sana saja susulin mobil kamu. Nanti kalau itu penyelesaiannya di sini,” sesalnya.
