JawaPos Radar

Rp 30 Miliar untuk Guru Agama di Pulau Terpencil

08/09/2018, 15:29 WIB | Editor: Sofyan Cahyono
Pulau Pejantan
Pulau Pejantan, daerah terluar di Kabupaten Bintan. (Istimewa)
Share this

JawaPos.com - Pemerintah Provinsi (Pemprov) Kepulauan Riau (Kepri) memberikan perhatian serius atas minimnya sentuhan pendidikan agama di daerah terpencil. Salah satunya di Pulau Pejantan yang masuk wilayah Kabupaten Bintan.

Meski penghuni di Pulau Pejantan tak begitu banyak, namun pendidikan agama tetap dianggap penting. Hal itu sudah menjadi tanggung jawab Pemprov Kepri bersama lembaga terkait.

"Soal upaya pendidikan keagamaan ini akan kami koordinasikan dengan Kemenag di tingkat provinsi dan kabupaten kota. Karena memang ini tugas mereka," kata Kepala Biro Kesejahteraan masyarakat (Kesra) Pemprov Kepri Tarmidi, Sabtu (8/9).

Urusan dakwah memang menjadi tanggung jawab Kementerian Agama (Kemenag). Namun demikian, Pemprov Kepri tak lantas lepas tangan atas persoalan itu. Upaya menghadirkan pendidikan agama khusunya pembelajaran Alquran telah dijalankan Pemprov Kepri.

Pada 2019, Pemprov Kepri menyiapkan anggaran sebesar Rp 30 miliar untuk memastikan hadirnya pengajar Alquran di daerah-daerah terpencil. Program ini sebagai bentuk hadirnya pemerintah untuk mereka yang berada jauh dari jangkauan. "Kami siapkan untuk membantu agar para pengajar bisa sampai di pulau-pulau. Khususnya untuk memberantas buta Alquran," tukas Tarmidi.

Pemprov Kepri juga akan melakukan koordinasi dengan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Bintan agar bisa menghadirkan ustad. Bahkan hingga ke kawasan terluar. Seperti di Pulau Pejantan yang membutuhkan waktu 8 jam untuk sampai dari Kecatan Tambelan.

Seperti diberitakan, Pulau Pejantan merupakan daerah terluar di Kecamatan Tambelan, Kabupaten Bintan, Kepulaun Riau (Kepri). Wilayah tersebut dihuni 15 kepala keluarga (KK). Mayoritas warganya memeluk agama Islam. Namun fasilitas pendidikan dan tenaga pengajar sangat minim. Termasuk guru agama.

Sehingga pemeluk Islam di Pulau Pejantan tidak bisa membaca Alquran. Bahkan sempat beredar kabar, ketiadaan tokoh agama di desa terpencil itu memaksa warga mengubur jenazah tanpa disalatkan terlebih dahulu.

(bbi/JPC)

Berita Terkait

Rekomendasi

berita hari ini

Sign In

Belum memiliki aku? Sign Up