← Beranda

Budaya Kerja Berlebihan di Jepang Menyebabkan Seorang Dokter Muda Melakukan Bunuh Diri di Rumah Sakit

Rani PurwantiJumat, 15 Desember 2023 | 01.07 WIB
Shingo Takashima, seorang Dokter muda berusia 26 tahun yang bunuh diri di rumah sakit Jepang. ( The Japan Times)

JawaPos.com- Pada 17 Mei 2022 lalu, seorang dokter muda berusia 26 tahun dilaporkan bunuh diri dan sempat menelfon ibunya sambil menangis putus asa.

Junko Takashima yang merupakan ibu dari Shingo Takashima mengaku masih menginat dengan jelas kasus kematian putranya yang saat itu masih mengikuti pelatihan di rumah sakit tempatnya bekerja.

Sebagai bagian dari pelatihannya untuk menjadi dokter spesialis, Shingo telah ditugaskan di departemen gastroenterologi Konan Medical Center, sebuah rumah sakit umum di Kobe, sejak Februari tahun itu.

Baca Juga: Ketahui 9 Manfaat Mengonsumsi Wasabi, Rempah Asal Jepang yang Dapat Mencegah Keracunan

Sejak penugasan tersebut, diketahui bahwa kesehatannya mulai memburuk dengan cepat.

Pasalnya, ia mulai mengeluh karena dibanjiri dengan pekerjaan lain-lain, merasakan tekanan yang sangat besa, dan merasa tidak mampu untuk mengambil cuti.

Pada bulan Mei sebelum putranya ditemukan bunuh diri, sang ibu meneleponnya untuk menanyakan apakah dia ingin pergi makan untuk istirahat.

Baca Juga: Cedera Pergelangan Kaki, Jeonghan SEVENTEEN Absen dari Konser di Jepang dan Asia Tenggara

“Dia mengatakan kepada saya, 'Itu tidak mungkin, 100%,' sambil menangis,” ujar Junko Takashima.

Dikutip dari The Japan Times, setelah kematian Shingo Takashima, kantor inspeksi standar ketenagakerjaan setempat menemukan fakta bahwa ia telah bekerja lebih dari 100 hari tanpa hari libur, dan telah melakukan 207 jam lembur dalam sebulan menjelang hari ia bunuh diri.

Biro ketenagakerjaan tersebut menilai bahwa ini adalah kasus karōshi, atau kematian karena terlalu banyak bekerja. Kasus ini tentu saja mewakili gambaran kondisi kerja yang dihadapi oleh para dokter muda di rumah sakit di Jepang.

Baca Juga: Kepemimpinan Dua Wasit Asal Jepang Mendapat Banyak Respons Positif: Pertandingan Tidak Banyak Berhenti, Tak Ada Pemain Kejar-Kejar Wasit

Masalah ini kini menjadi fokus yang lebih tajam menjelang penerapan undang-undang pembatasan jam lembur dokter pada bulan April tahun depan.

Salah satu poin utama yang menjadi perdebatan adalah berapa banyak waktu yang harus dihabiskan oleh dokter di tempat kerja mereka.

Konan Medical Center telah membayar keluarga Shingo Takashima sebesar ¥1,3 juta atau setara dengan 142 miliar rupiah untuk akumulasi uang lembur.

Namun, institusi tersebut mengatakan bahwa mereka tidak setuju dengan temuan biro tersebut, dengan alasan bahwa sebagian besar jam tambahannya di rumah sakit dihabiskan untuk pengembangan diri, seperti persiapan untuk akademik.

Rumah sakit dengan 460 tempat tidur tersebut mengklaim bahwa ia hanya bekerja lembur selama 30,5 jam dalam sebulan menjelang kematiannya, dan bukan 207 jam.

Baca Juga: Wasit Jepang Yusuke Araki dan Futoshi Nakamura Didatangkan untuk Berikan Pelajaran ke Wasit Lokal

Hingga kini,  pihak rumah sakit belum menanggapi permintaan keluarga untuk mengambil tindakan pencegahan terulangnya kembali kasus tersebut.

Pihak rumah sakit juga menolak berkomentar ketika dihubungi oleh The Japan Times mengenai kasus tersebut, dengan alasan tuntutan pidana yang diajukan oleh keluarga pada bulan Desember 2022.

Sehingga, sebagai bagian dari reformasi gaya kerja yang berdampak pada semua industri, pemerintah Jepang telah memberlakukan batasan hukum mengenai jumlah jam lembur yang boleh dilakukan pekerja.

Baca Juga: Ribuan Ton Ikan Mati Secara Misterius di Pantai Jepang, Warga Dilarang Mengambil

Batasan untuk sebagian besar industri ditetapkan sebesar 360 jam per tahun  dan tidak termasuk keadaan khusus.

Pengusaha yang melanggar peraturan dapat dihukum dengan denda hingga ¥300,000 atau sekitar 34 juta rupiah dan enam bulan penjara.

Perubahan tersebut mulai berlaku pada tahun 2019 untuk perusahaan besar dan pada tahun 2020 untuk perusahaan kecil dan menengah.

Baca Juga: Jepang akan Menggratiskan Biaya Kuliah bagi Keluarga yang Memiliki Tiga Anak atau Lebih

Namun, untuk profesi dokter dan entitas yang mempekerjakan pekerja konstruksi, pengemudi truk dan bus, telah diberi moratorium selama lima tahun hingga April 2024 dalam upaya untuk mengurangi kasus bunuh diri terhadap pekerja di industri-industri tersebut.

Sehingga, mulai bulan April, jumlah jam lembur yang dapat dilakukan dokter akan dibatasi maksimal 960 jam setahun, atau 80 jam sebulan.

Namun rumah sakit tertentu akan dikecualikan dari batasan ini, karena fasilitas tersebut memungkinkan dokter bekerja lembur hingga 1.860 jam per tahun.

Saat ini, 10% dokter rumah sakit bekerja lembur lebih dari 1.860 jam, sementara 40% bekerja lembur lebih dari 960 jam, menurut Kementerian Kesehatan.

Menurut kementrian kesehatan Jepang, para dokter yang sedang menjalani pelatihan, serta mereka yang berada di unit perawatan darurat, kebidanan, dan bedah, merupakan pihak yang paling banyak bekerja.

Baca Juga: Banjir Pujian di Jepang dan Amerika Serikat Hingga jadi Finalis Piala Oscar, Jadwal Rilis 'Godzilla Minus One' di Indonesia Masih Tanda Tanya

Pelatihan dokter muda di bidang khusus juga dibayar rendah di universitas tempat mereka berada.

Untuk menutupi gaji mereka yang rendah, banyak dokter yang melakukan pekerjaan paruh waktu di luar rumah sakit utama mereka, seringkali di institusi medis yang sangat kekurangan tenaga kerja.

Faktanya, sekitar 3.000 perusahaan di berbagai industri, mengatakan sektor medis telah lama menolak reformasi gaya kerja, dan para dokter bangga dengan pekerjaan mereka sebagai tugas sakral yang membedakannya dari profesi lain.

Baca Juga: Mengenal Beberapa Permasalahan Pendanaan Politik yang Menerpa Partai Jepang LDP dan Implikasinya

Jepang sendiri sangat bergantung pada profesi tersebut. Dengan memanfaatkan ōshō gimu, atau kewajiban dokter untuk tidak menolak permintaan layanan medis apa pun tanpa alasan yang sah, yang diatur dalam Undang-Undang Praktisi Medis.

Akibatnya, para dokter, terutama dokter muda yang masih dalam masa pelatihan, telah dieksploitasi hingga mereka tidak mampu menjalankan praktik kedokteran dengan aman.

Dari hasil survei tahun 2022 yang dikeluarkan oleh serikat dokter di Jepang, lebih dari 30% dari 7.558 dokter yang disurvei mengatakan mereka pernah berpikir untuk bunuh diri.

Baca Juga: Sempat Gagal, Jepang Kembali Rencanakan Pendaratan di Bulan Awal 2024

Pikiran untuk bunuh diri paling banyak terjadi di kalangan dokter berusia 20-an, dengan 8,8% dari mereka yang disurvei mengatakan bahwa mereka berpikir untuk bunuh diri beberapa kali seminggu.

Sementara 5,2% lainnya menyatakan bahwa mereka memikirkannya beberapa kali sehari.

EDITOR: Nicolaus