Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 September 2025, 23.50 WIB

Wayang Kulit: Seni Pertunjukan Indonesia yang Mendunia dengan Pesan Filosofis dan Sejarah Panjang

Seni pertunjukan wayang kulit sebagai salah satu warisan budaya Indonesia (Dok. Asian Art Museum) - Image

Seni pertunjukan wayang kulit sebagai salah satu warisan budaya Indonesia (Dok. Asian Art Museum)

JawaPos.com - Wayang kulit merupakan salah satu seni pertunjukan tradisional yang lahir, tumbuh, dan berkembang di masyarakat Jawa. Lebih dari sekadar hiburan, pementasan wayang kulit sejak lama diyakini sebagai medium spiritual, bahkan jembatan yang menghubungkan manusia dengan roh para dewa.

Melansir dari laman Indonesia Kaya, istilah "wayang" dipercaya berasal dari kata Ma Hyang, yang berarti perjalanan menuju spiritualitas Sang Kuasa. Ada juga pendapat lain yang menyebutkan bahwa kata "wayang" berhubungan dengan teknik pementasannya, yakni penggunaan bayangan tokoh-tokoh kulit di balik layar.

Wayang kulit yang terbuat dari kulit kerbau tipis ini dikenal sebagai cikal bakal dari berbagai bentuk wayang lain yang berkembang kemudian. Pementasannya digerakkan oleh seorang dalang, diiringi lantunan gamelan yang dimainkan oleh para nayaga (pemusik), serta tembang merdu dari para pesinden.

Setiap unsur dalam pertunjukan wayang kulit mengandung simbol dan nilai filosofis mendalam. Dari segi cerita, wayang kerap menanamkan pesan moral berupa budi pekerti, cinta kasih, hingga penghormatan antarsesama. Tidak jarang pula, dalam bagian goro-goro, terselip kritik sosial dan humor segar yang membuat pertunjukan terasa hidup dan selalu relevan lintas generasi.

Unsur dalam Pertunjukan Wayang Kulit

Dilansir dari laman Pemkab Gunung Kidul, seni wayang kulit melibatkan sejumlah elemen penting yang saling melengkapi diantaranya, dalang, wayang, layar, dan orkestra gamelan. 

Dalang, adalah tokoh sentral dalam pertunjukan. Ia tidak hanya menggerakkan tokoh-tokoh wayang, tetapi juga menjadi narator yang menyampaikan cerita. Seorang dalang dituntut memiliki kemampuan berbicara, bernyanyi, hingga memainkan berbagai karakter dengan penuh penghayatan.

Selanjutnya, wayang kulit yang dipahat dari kulit kerbau tipis dengan detail rumit, lalu diberi warna. Dalang menggerakkannya untuk memunculkan bayangan di layar. Layar sendiri terbuat dari kain putih yang dipasang di belakang dalang. Ketika disorot cahaya dari belakang, bayangan figur wayang pun terbentuk di layar.

Elemen penting terakhir yaitu Orkestra Gamelan. Musik gamelan menjadi latar yang mengiringi jalannya pementasan. Berbagai instrumen seperti gong, kendang, gender, bonang, hingga suling berpadu menciptakan suasana yang memperkuat dramatika cerita.

Jejak Sejarah Wayang Kulit

Dikutip dari Asian Art Museum, asal-usul wayang masih menjadi perdebatan. Ada yang menilai wayang asli dari Indonesia, ada pula yang mengaitkannya dengan pengaruh India atau Tiongkok. Beberapa cendekiawan menunjukkan bahwa wayang berakar dari praktik animisme lokal yang berhubungan dengan roh leluhur. Bahkan, hingga kini, di sejumlah desa masih ada tradisi pementasan wayang setiap tahun di makam pendiri desa sebagai penghormatan leluhur.

Perkembangan besar seni wayang terjadi pada periode Hindu-Buddha antara tahun 800-1500. Menurut mitos, seorang pangeran bernama Aji Saka membawa pengaruh budaya India ke Jawa, termasuk aksara hanacaraka yang diyakini ia sebarkan ke seluruh penjuru pulau. 

Namun, masuknya Islam ke Jawa pada abad ke-15 membawa babak baru bagi seni pewayangan. Menurut kisah yang dituturkan para dalang, Sunan Kalijaga menciptakan wayang kulit pertama setelah mendapat ilham dari Sunan Gunung Jati. 

Pertunjukan wayang pertama bahkan digelar di masjid, dengan syarat penonton membaca syahadat sebelum masuk. Sejak itu, meski tetap mengangkat cerita-cerita Hindu-Jawa, pewayangan banyak disesuaikan dengan nilai Islam. 

Tidak berhenti di situ, pengaruh Tiongkok juga disebut hadir lewat bentuk wayang golek atau boneka kayu tiga dimensi. Teater ini berbeda dengan wayang kulit karena bisa dimainkan kapan saja tanpa membutuhkan suasana gelap.

Editor: Candra Mega Sari
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore