
8 juta umat Muhammadiyah di Jatim mulai Salat Tarawih malam ini, setelah 1 Ramadan 1447 H ditetapkan pada 18 Februari 2026.
JawaPos.com - Penetapan awal Ramadhan kembali memicu perdebatan publik. Kali ini, sorotan tertuju pada metode hisab Kalender Hijriah Global Tunggal (KHGT) yang digunakan oleh Muhammadiyah.
Sejumlah kalangan menilai metode hisab KHGT “menabrak batas siang dan malam”. Padahal, konsep waktu sangat penting dalam Islam karena berkaitan dengan kewajiban dan perintah di dalam agama harus dijalankan. Seperti kewajiban melaksanakan shalat, puasa, dan lain-lain.
Kontroversi terjadi mengingat Muhammadiyah dengan pendekatan KHGT menetapkan 1 Ramadhan jatuh pada Rabu, 18 Februari 2026, kendati hilal belum tampak di langit Indonesia.
Pernyataan kritis salah satunya disampaikan oleh Akram SP melalui unggahan di akun media sosialnya. Dia menilai, pendekatan global KHGT terlalu jauh melampaui logika konsep waktu (sunnatullah), meski berbasis pada data astronomi yang sangat presisi.
"Indonesia tak mungkin melihat hilal malam Ini, kenapa Muhammadiyah buru-buru tetapkan 1 Ramadhan jatuh pada esok hari? Sebenarnya tidak buru-buru," tulis Akram dalam unggahannya di Instagram.
"Ini bisa terjadi karena dengan metode perhitungan astronomis, awal setiap bulan hijriah dapat dihitung dengan sangat akurat sampai ke level detik, bahkan hingga ratusan tahun yang akan datang. Tapi tidak sesimpel itu...," imbuhnya.
Menurut dia, umat Islam selama ini selalu terjebak dalam debat klasik antara metode hisab vs rukyat dalam menetapkan hari-hari penting, termasuk 1 Ramadhan dan Lebaran Idul Fitri.
Muhammadiyah bergerak lebih jauh dengan mengubah pendekatan metode hisab menjadi hisab Kalender Hijriah Global Tunggal. Dengan pendekatan tersebut, Muhammadiyah berambisi hendak menyatukan bumi dalam satu kalender. Satu bumi, satu tanggal.
Gagasan KHGT ini, menurut Akram, lahir dari Konferensi Istanbul pada 2016 dengan slogan besar: One Day, One Sate. Satu Bumi, Satu Tanggal.
"Prinsipnya sederhana namun radikal. Jika hilal terlihat di ujung dunia manapun, maka seluruh penduduk bumi harus masuk hari hijriah baru bersama-sama," ungkapnya.
Konsep ini ingin menghapus perbedaan tanggal antarnegara dalam kalender Islam. Secara visi, ini terdengar indah dan menarik karena bisa menyatukan umat secara global. Tapi secara praktik, muncul problem mendasar karena adanya perbedaan siang dan malam di bumi.
"Mari kita lihat simulasi menarik untuk Ramadhan 1447 H (2026 M). Berdasarkan perhitungan KHGT, syarat hilal bisa terlihat (imkanur rukyah) kemungkinan besar baru terpenuhi di wilayah Alaska, AS. Di sinilah plot twist-nya," jelasnya.
"Ketika hilal itu secara teoritis muncul di ufuk Alaska saat Maghrib mereka tanggal 17 Februaru, kita di Indonesia sedang melakukan apa? Kita sedang beraktivitas pukul 11.00 siang tanggal 18 Februari. Secara fisik hilal belum ada di langit kita, tapi kita dipaksa mengakui masuknya tanggal 1 Ramadhan," imbuhnya.
Lebih lanjut dia menjelaskan bahwa pendekatan yang dilakukan Muhamadiyah melalui KHGT sebenarnya dapat dipahami dengan konsep transfer rukyat atau meminjam penglihatan yang memang dikenal di Indonesia selam ini.
"Contoh klasik (2022): Jika hilal terlihat di Aceh saat Maghrib, apakah saudara kita di Papua ikut berlebaran besoknya? Ya, padahal saat itu di Papua sudah malam larut dan bulan sudah terbenam lama. Papua meminjam penglihatan Aceh. Ini adalah konsep penyatuan Matla' (zona terbit) dalam skala negara," katanya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

7 Cara Ampuh Mengatasi HP Lemot Tanpa Harus Ganti Baru
Pengurus NU Laporkan Dugaan Politik Uang Muktamar ke KPK, Uang Rp 40 Juta Dikembalikan
Prediksi Skor Persik Kediri vs Madura United: Laskar Sape Kerap Punya Kans Menang di Brawijaya!
Jokowi Temui Prabowo saat Sidang Putusan Gibran, Ajudan Ungkap Isi Pertemuan
Prediksi Skor Persipura vs RANS Nusantara: Produktivitas Gol Jadi Pembeda
Prediksi Skor Malaga vs Espanyol: Los Periquitos Bidik Poin, Tuan Rumah Terpuruk
Fraksi PKB Usulkan Pembentukan Pansus Tindak Lanjuti Putusan MK soal Ijazah Gibran
Prediksi Skor JDT vs Svay Rieng di ACC Cup: Harimau Selatan Diunggulkan Menang
Prediksi Lion City Sailors vs CAHN di ACC: Adu Kuat Tuan Rumah dengan Wakil Vietnam
Peringati Hari Kesaktian Pancasila, Alfa Penyintas Stroke Jalan Kaki 21 KM Dengan Rute Garuda

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022