
Ilustrasi peringatan pentingnya masyarakat waspada terhadap HIV/AIDS dan pentingnya memberikan dukungan moril kepada penderitanya. (Istimewa)
JawaPos.com - Kasus HIV di Indonesia terus menunjukkan peningkatan. Pada Januari-September 2023 diprediksi mencapai ada 515.455 kasus, dimana 88% atau 454.723 kasus telah terkonfirmasi. Mirisnya, mayoritas penderita berada pada rentang usia produktif, 25-49 tahun.
Menanggapi hal itu, Spesialis Penyakit Dalam RS Premier Surabaya dr Brian Eka Rachman SpPD K-PTI FINASIM memberikan edukasi penting terkait HIV/AIDS. Ia meluruskan beberapa mispersepsi umum tentang AIDS.
‘’Banyak yang menyamakan HIV dengan AIDS. Padahal tidak semua orang dengan HIV (ODHIV) akan berkembang menjadi AIDS. Apalagi jika mendapatkan pengobatan yang tepat,” ujarnya.
AIDS, dijelaskan dr Brian, merupakan kondisi akibat infeksi HIV yang tidak terkontrol dan melemahkan sistem kekebalan tubuh. Ini merupakan tahap akhir dari infeksi HIV. ‘’Perbedaan mendasarnya, HIV adalah virus penyebabnya, sedangkan AIDS adalah akibatnya,” terangnya.
Penularan HIV umumnya terjadi melalui tiga cara, yakni hubungan seksual tanpa pengaman, penggunaan jarum suntik yang tidak steril, dan penularan dari ibu ke anak selama kehamilan, persalinan, atau menyusui. HIV tidak menular melalui sentuhan, pelukan, ciuman, berbagi makanan atau alat makan, air mata, keringat, air liur (kecuali bercampur darah), dan gigitan serangga.
Dr Brian yang memulai karir sebagai dokter pada 2010 itu menekankan, HIV dapat menyerang siapa saja, tanpa memandang usia, jenis kelamin, orientasi seksual, atau status sosial, dan tidak menular melalui kontak sehari-hari seperti berjabat tangan atau bersin.
Gejala awal infeksi HIV seringkali tidak spesifik, seperti demam, pembengkakan kelenjar getah bening, nyeri otot dan sendi, nyeri kepala, dan diare. Gejala-gejala ini seringkali ringan dan mudah terlewatkan karena mirip dengan penyakit lain. Namun jika sudah memasuki tahap AIDS akan muncul berbagai infeksi oportunistik.
Spesialis Penyakit Dalam RS Premier Surabaya dr Brian Eka Rachman SpPD K-PTI FINASIM. (Istimewa)
‘’Masyarakat umum tidak perlu mendiagnosis AIDS secara mandiri. Tapi penting untuk memahami faktor resikonya,” kata dr Brian. Diantaranya hubungan seksual tanpa pengaman dengan banyak pasangan, penggunaan narkoba suntik, dan memiliki pasangan dengan HIV positif. Apabila masuk dalam golongan itu, disarankan untuk memeriksakan diri ke layanan kesehatan.
Jika terdiagnosis HIV positif, jangan panik. “Dengan pengobatan modern, ODHIV bisa tetap hidup sehat dan produktif,” ujar dr Brian.
Meskipun vaksin HIV yang efektif belum tersedia, pencegahan dapat dilakukan melalui hubungan seksual yang aman (menggunakan kondom, menghindari berganti-ganti pasangan), penggunaan jarum suntik steril, pencegahan penularan ibu ke anak, penggunaan Profilaksis Pre- dan Post-Pajanan (PrEP dan PEP), serta meningkatkan pengetahuan tentang HIV/AIDS.
Pengobatan antiretroviral (ART) tersedia gratis di banyak fasilitas kesehatan di Indonesia. Pemerintah telah berupaya mendistribusikan ART melalui program nasional untuk menekan angka kasus baru dan meningkatkan kualitas hidup ODHIV.
Jika tidak diobati maka HIV dapat berkembang menjadi AIDS, yang menyebabkan berbagai komplikasi seperti tuberkulosis, infeksi jamur paru-paru (PCP), toksoplasmosis, infeksi virus mata (sitomegalovirus), kanker, gangguan saraf, dan penyakit kronis lainnya.
HIV/AIDS dapat memengaruhi kualitas hidup penderita melalui dampak fisik, psikologis, sosial, dan ekonomi. Stigma dan diskriminasi masih menjadi tantangan bagi ODHIV di Indonesia. Oleh karena itu, dukungan dari keluarga, teman, dan komunitas sangat penting. Dukungan tersebut dapat berupa dukungan emosional, membantu mengingatkan minum obat, menemani ke fasilitas kesehatan, melindungi privasi, dan membela hak-hak mereka.
“HIV bukan akhir dari segalanya. Ini adalah kondisi yang dapat dikelola. Jangan menunda pengobatan, percayalah pada diri sendiri, jaga kesehatan, dan jangan ragu mencari dukungan. Anda tidak sendirian.”
