
BUDI DARMA
Budi Darma meninggal dunia. Begitulah kabar yang tersiar pada Sabtu (21/8), selepas pukul 06.00 WIB. Wafatnya sastrawan dan guru besar (emeritus) Universitas Negeri Surabaya itu sangat cepat menyebar melalui berbagai jaringan. Kesedihan dan ungkapan belasungkawa terus bersambung. Entah sudah berapa ratus ribu mahasiswa yang pernah diajar dan diuji beliau, baik di Unesa maupun perguruan tinggi lain, di dalam maupun luar negeri, juga yang pernah membaca karya-karya beliau.
---
KABAR bahwa Budi Darma menderita sakit terinformasikan sejak 28 Juli 2021. Budi Darma dirawat di RSI Jalan A. Yani, Surabaya. Pada 17 Agustus lalu, kembali terkabar kalau kesadaran beliau menurun. Sosok yang santun dan berwibawa itu akhirnya menghadap Sang Pencipta dalam usia 84 tahun. Dari rumah sakit, jenazah langsung dikebumikan di TPU Keputih, Surabaya. Semoga amal dan ibadah almarhum diterima Allah SWT dan segala kekhilafannya diampuni.
Prof Dr Budi Darma MA lahir di Rembang, 25 April 1937. Pendidikan sarjananya diselesaikan di Jurusan Sastra Inggris Universitas Gadjah Mada (1963). Selepas itu, beliau menjadi dosen di IKIP Negeri Surabaya (sekarang Unesa). Pendidikan selanjutnya ditempuh di Universitas Hawaii, Honolulu, AS, (1970–1971) dan berlanjut ke Universitas Indiana, Bloomington, AS, hingga memperoleh gelar MA (1976) dan PhD (1980). Jabatan struktural tertinggi yang pernah beliau emban adalah rektor IKIP Negeri Surabaya (1984–1988) dan beliau hanya bersedia menjabat satu periode. Di samping jabatan-jabatan lain, sebagai seniman, Budi Darma pernah menjadi anggota Dewan Kesenian Surabaya (DKS) dan Dewan Redaksi Buletin DKS.
Novel-novel karya Budi Darma adalah Olenka (1983), Rafilus (1988), dan Ny. Talis (1986). Kumpulan cerpennya adalah Orang-Orang Bloomington (1980), Kritikus Adinan (2002), Foto dan Senggring (2005), dan Hotel Tua (2017). Buku lain yang ditulis Budi Darma dalam bentuk esai adalah Solilokui (1984), Sejumlah Esai Sastra (1984), Harmonium (1995), Sastra, Moral dan Kreativitas (2007), Pengantar Teori Sastra (2004), Bahasa, Sastra, dan Budi Darma (2007). Awal 2021, kumpulan cerpennya Orang-Orang Bloomington telah disetujui untuk diterbitkan Pinguin Classics dalam bahasa Inggris dan diedarkan di luar negeri.
Sebagai ilmuwan dan pendidik, sosok Budi Darma sangat disegani. Penguasaannya dalam bidang ilmu-ilmu sastra membuatnya sangat berwibawa. Meski usianya sudah lanjut dan secara resmi sudah pensiun, beliau tetap diminta untuk mengajar dan menguji. Ingatannya masih cemerlang dan belum tampak adanya tanda-tanda kemunduran ingatan. Tulisan-tulisannya juga masih tersiar di media. Yang tampak sangat berkurang adalah pendengaran beliau. Pesan penting beliau yang pernah disampaikan pada saya, ’’Kalau tidak ingin cepat pikun, harus sering membaca.’’
Sebagai pendidik, Budi Darma sangat disiplin sehingga para mahasiswa juga harus mengimbangi. Kesan umum, kalau sedang mengajar, beliau sulit berhenti karena begitu banyak ilmu yang ingin disampaikan. Tugas-tugas yang disampaikan pada mahasiswa, terutama tugas akhir semester, deskripsinya sangat terperinci, mulai jumlah halaman, spasi, jenis font dan ukurannya, hingga batas akhir pengumpulan. Karena kewibawaannya itulah, hampir tidak ada mahasiswa yang berani mengajak bercanda.
Budi Darma termasuk sosok yang dapat menempatkan diri sesuai perannya. Dalam mimbar ilmiah semacam seminar atau diskusi, jika beliau diundang sebagai pembicara dalam bidang ilmu atau membahas karya orang lain, umumnya beliau tidak bersedia menjawab pertanyaan terkait dengan dirinya sebagai sastrawan dan mengomentari karya sendiri. Jika ingin membahas/menanyakan karya beliau, beliau harus diundang sebagai sastrawan.
Di samping berwibawa, penampilan Budi Darma sehari-hari sangat santun dan lembut. Namun, sebagai penulis/sastrawan, gaya tulisan beliau sangat beda. Kritik-kritiknya sangat tajam. Menurut Budi Darma, kritik sastra bukan soal ”saru” atau ”tidak saru”, melainkan terletak pada objektivitas penulisnya. Akan tampak sangat berbeda pula jika kita membaca karya-karya Budi Darma. Gaya penceritaan serta ungkapan-ungkapannya, khususnya terkait seksualitas, sangat berani. Jika dalam novel Olenka ekspresi seksualitas itu masih dipakai gaya simbolis atau tidak langsung, dalam novel Rafilus dan Ny. Talis ekspresi seksualitas diungkap dengan terus terang. Mungkin karena itulah ketika tahun 1990-an, ada pemilihan buku untuk direkomendasikan sebagai bahan ajar di tingkat SLTA, novel Rafilus termasuk yang tidak direkomendasikan.
Budi Darma termasuk pembaharu dalam sastra Indonesia pasca angkatan ’66. Karyanya bergaya absurd dan mengangkat konsep dunia jungkir balik. Tema umum karya-karya Budi Darma adalah kesulitan komunikasi para tokoh dengan lingkungannya. Manusia lahir seorang diri, didera kesepian, lalu mencoba berhubungan dengan pihak lain dengan berbagai motif. Konflik pun terus terjadi dan tak terselesaikan. Penderitaan dan kesengsaraan tak terhindarkan sehingga ada rasa terpencil. Pada akhirnya, para tokoh harus kembali pada kesendiriannya masing-masing.
Pada tulisan Asal Usul Olenka, Budi Darma menyatakan, ’’Tema yang saya garap adalah kepahitan. Cerita-cerita saya adalah serangkaian jatuh bangunnya para individu dalam usaha mereka untuk mengenal diri mereka masing-masing. Sadar atau tidak, setiap individu pada akhirnya harus mengakui bahwa hidupnya hanya serangkaian kekosongan. Hanya sekali mereka berarti, sesudah itu mereka mati, karena arti yang mereka miliki hanyalah semu.”
Pada 13 Juli lalu, ketika saya mengunggah puisi di Facebook, beliau berkomentar, ’’Pak Shoim, bagus.” Lalu saya menjawab, ’’Ya, terima kasih, Pak Budi. Semoga sehat selalu.’’ Itulah kontak terakhir saya dengan guru saya itu. Budi Darma dan karya-karyanya tidak akan pernah ’’mati”. Sejarah dunia telah membuktikan bahwa kecemerlangan seorang seniman dan karyanya selalu diingat dari masa ke masa. Selamat jalan Budi Darma. Semoga Allah memberikan tempat yang mulia untukmu… (*)
---
DR M. SHOIM ANWAR MPD
Dosen, sastrawan, dan murid Budi Darma

Bocor! Alasan Brian Uriarte Tetap P4 Meski Crash di Moto3 Hungaria 2026, Bikin Veda Ega Pratama Finis P16
Menebak Ranking FIFA Timnas Indonesia Selanjutnya Jika Menang Lawan Mozambik
Profil Irjen Pipit Rismanto, Pati Polri yang Diungkap IPW Diduga Diperiksa Propam Polri Terkait Dugaan Korupsi Pertambangan
Viral! Diduga Dana Operasional Belum Cair, Sejumlah SPPG Mogok Operasional Mulai 8 Juni 2026
Prediksi Piala Dunia 2026: Sejarah Sebut Hanya 5 Tim Lolos Semua Kriteria Juara, Belanda Masuk Daftar
Viral Pengemudi Ojek Pangkalan Getok Harga Rp 400 Ribu Senayan-Bundaran HI, Modus Bilang Tarif "58"
Resmi! Veda Ega Pratama Kena Long Lap Penalty, Peluang Podium Moto3 Hungaria 2026 Terancam?
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa
Apa Itu Weton Tibo Pati dan Siapa Saja yang Mendapatkan Julukan Ini? Simak Misteri di Balik Nasib Weton Tibo Pati
Isu Reshuffle Kabinet Sempat Mencuat, Siapa Saja Menteri Berpotensi Diganti oleh Presiden Prabowo?
