Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Januari 2025, 17.47 WIB

Katarsis

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS) - Image

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Karya seni dapat menggugah seseorang begitu mendalam. Suatu lukisan dapat membuat pengamatnya terhipnotis seraya tersimbah warna-warni yang digoreskan di permukaan kanvas.

GAMBAR yang terlihat tidak lagi menjadi bentuk-bentuk yang statis. Mereka berpindah ke dalam pikiran para penikmatnya dan memicu berbagai kerumitan emosi. Rasa terbawa pada saat melihat lukisan tidak serta-merta hanya dikarenakan nilai keindahan pada objek itu. Karya itu dapat menggali hingga relung perasaan seseorang, yang menyebabkan beragam respons; takut, asing, bimbang, bahkan marah. Seni tidak selalu berkutat pada tujuan demi menyenangkan pengamatnya dengan rasa terpukau pada keindahan. Seni juga berurusan dengan emosi yang sulit diluapkan secara gamblang terhubung dengan problem sosial yang terjadi.

Karya Future Relic (2024) yang dibuat oleh seniman Jemana Murti dipajang di ruang galeri yang serbaputih. Objek yang dipamerkan itu berbentuk gamelan yang separo wujudnya terdistorsi, seperti luluh dan perlahan meleleh. Karya itu dibubuhi dengan debu-debu karat asli dan melalui proses rekayasa cetak tiga dimensi yang ia kembangkan menggunakan kecerdasan buatan. Permainan kata dalam judul karya ini, Future Relic, yang dapat diartikan relik masa depan, amat sesuai dengan pertarungan yang terjadi seputar polemik disrupsi kecerdasan buatan. Bagi Jemana Murti, kecerdasan buatan adalah alat yang sanggup membantunya mencurahkan kompleksitas perasaan yang ia alami terkait dengan Pulau Bali sebagai rumahnya.

Ia memindai benda-benda kuno yang diwariskan oleh keluarganya dan menciptakan karya baru yang diselipkan kritik sosial, khususnya mengenai modernisasi dan hiperturisme yang terjadi di Bali. Gamelan yang memudar itu representasi sang seniman yang merasa khawatir dengan terkikisnya budaya Bali dan kesederhanaan hidup orang-orang Bali. Beberapa patung yang ia buat dengan cara ukiran sintetik juga dengan sengaja memiliki bagian yang rumpang, kekosongan itu dapat dimaknai jika kesenian itu tidak lagi memiliki esensi, budaya yang kehilangan rohnya, cangkang yang kosong.

Karya-karya itu sangat meresahkan hati sebab bercerita tentang terancamnya kesatuan filosofi hidup yang menghubungkan orang Bali dengan spiritualitas dan lingkungan hidupnya. Meski pengunjung yang mencermati benda-benda seni ini akan kagum dengan metode artistik pembuatan karya, substansi kesedihan serta keterasingan menjadi pesan utama dari karya tersebut. Pengalaman melihat pameran ini mengingatkan saya akan pemikiran seorang filsuf dan juga kritikus seni asal Amerika Serikat yang bernama Arthur Danto. Dalam salah satu kuliah umumnya, ia menyampaikan gagasannya yang bertajuk Beauty and Politics dan pemaparannya ini adalah sebagian dari bukunya yang berjudul The Abuse of Beauty (2003). Ia mencontohkan beberapa karya oleh seniman seperti Robert Motherwell dan Philip Guston. Ia membahas bahwa transformasi yang menarik terjadi pada seni kontemporer, yakni tidak lagi berpusatnya tema seni yang melulu pada keindahan.

Meski perlu digarisbawahi, bukan berarti kita tidak merekognisi proses kreatif menciptakan karya-karya itu brilian dan indah, tetapi argumentasi Danto, seniman tidak lagi terobsesi dengan urusan keindahan semata. Danto menganalisis karya Elegy to the Spanish Republic karya Robert Motherwell. Ia tidak menampik keindahan lukisan abstrak itu, namun warna hitam yang tertoreh bermakna melebihi pembahasan estetik soal yang indah. Seri lukisan itu adalah buah karya dari permenungan Motherwell tentang kengerian perang sipil Spanyol. Tidak ada yang indah dalam peperangan dan kematian massal, tetapi Danto menegaskan lukisan itu secara internal mengharukan sebab juga berhubungan dengan memori bersama untuk sintas dari cengkeraman fasisme politik. Danto juga mengutip ucapan Philip Guston yang merupakan seorang pelukis, seniman itu mempertanyakan pantaskah seseorang membuat keindahan ketika dunia dalam keadaan berantakan?

Melalui karya seni itu terjadi katarsis atau pelepasan emosi yang menjangkau secara kolektif, seni menjadi medium pembicaraan trauma sejarah maupun ketidakadilan sosial. Menilik pemikiran Jacques Ranciere, seni bukan saja sesuatu yang indah, tetapi cara mendistribusikan pengalaman sensorik dalam masyarakat. Sensorik dalam pengertian ini adalah bagaimana pengalaman estetik antarindividu menyebabkan kepekaan sosial yang dapat mengungkapkan ketimpangan yang tersembunyi atau tidak disadari di datarnya permukaan.

Dalam kontroversi lukisan karya Yos Suprapto misalnya, pelukis itu dikenal dengan karya-karya yang tajam melakukan kritik sosial. Bahkan dalam pengantar pameran pada tahun 1995, Jakob Oetama mengatakan bahwa lukisan Yos Suprapto memang tidak romantis, tidak menenteramkan, sebab lukisannya adalah letupan kritik yang menyorot problematika sosial dan penderitaan rakyat. Mengapa yang dipertentangkan soal vulgaritas serta kepatutan? Ketika jiwa dari lukisan itu adalah persoalan mendasar yang terjadi di sekitar kita; kerusakan lingkungan hidup, krisis pangan, hingga kemelaratan para petani. Seni dalam hal ini menjadi daya untuk menantang dominasi kekuasaan dan status quo. Karya-karya itu mengekspos kenyataan dan sekaligus tindakan emansipatoris yang mengajak publik untuk kritis terhadap kekuasaan yang lalim. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore