Logo JawaPos
Author avatar - Image
06 Agustus 2024, 15.42 WIB

Arete dan Olimpiade

ILUSTRASI. (NINA/JAWA POS)

Olimpiade musim panas di Paris, Prancis, tahun 2024 ini penuh dengan sensasi! Pada hari pembukaan saja, sudah bermacam-macam kontroversi yang mengitari ajang pertandingan olahraga tersebut. Bayangkan, para kontingen masing-masing negara melakukan parade menyusuri Sungai Seine menggunakan kapal, meski hujan deras mengiringi tidak mengurangi kemeriahan para atlet merayakan perhelatan itu. Selain itu, penampilan band metal Gojira juga menghasilkan momen viral di media sosial. Bagaimana tidak, band tersebut beraksi di kastil yang dahulunya penjara dengan nuansa merah darah beserta semburan api. Musik mereka dibuka dengan figur Marie Antoinette yang memegang kepalanya yang terpenggal, mengatakan, ”Ah! Ca Ira.” Lagu ini memang lekat maknanya dengan perjuangan revolusi rakyat Prancis. Liriknya membicarakan tentang kejayaan yang akan datang. Ah! Ca Ira dalam hal ini bermakna ganda, bahwa segalanya akan baik-baik saja, kemenangan pasti tiba, tetapi di masa krisis, lagu ini diartikan sebagai sikap memberontak pada keadaan dan digunakan untuk menggalang rakyat untuk bergerak. Olimpiade memang semestinya dimengerti dalam konteks sosial politik global, sebab acara kompetisi olahraga internasional ini tidak berada di dalam gelembung yang semu.

Melalui teropong filosofis, kita dapat memahami berbagai penafsiran tentang semangat yang melandasi Olimpiade. Seorang pakar pemikiran Yunani Kuno, Heather L. Reid, dalam tulisannya yang berjudul Jiwa Seorang Olimpian (2012) menguraikan secara filosofis apa hubungan filsafat dan Olimpiade pada masa peradaban kuno. Ia mengkritik soal pemahaman Olimpiade pada masa modern yang terkadang hanya berpusat pada kemenangan, superioritas satu negara di atas yang lainnya, serta industri olahraga yang melulu pada monetisasi. Padahal Olimpiade memiliki dasar yang menekankan penyatuan jiwa dan raga seseorang. Olahraga dalam hal ini tidak saja tempaan pada tubuh, tetapi sekaligus ketahanan dan pendisiplinan mental. Olimpiade sejatinya terkait dengan Arete sehingga pelatihan fisik dan mental ini memiliki tujuan melebihi kemenangan individu, tetapi mencapai kebijaksanaan. Arete dalam sejarah pemikiran Yunani Kuno berkaitan dengan nilai-nilai seperti eusebeia (rasa hormat), andreia (keberanian), sophrosyne (pengendalian diri), dikaiosyne (keadilan), dan sophia (kebajikan).

Menonton pertandingan Olimpiade memang menegangkan, suporter dapat melihat kegigihan para atlet untuk menjadi pemenang. Kemenangan dan memecahkan rekor dunia memang tampak sebagai inti dari Olimpiade, tetapi selain itu saya amat tertarik dengan bagaimana Olimpiade berkisah tentang pertaruhan eksistensial seorang manusia. Setiap laga memiliki kisah humanis yang melibatkan rasa sakit dan harapan untuk melampaui berbagai batasan yang ada. Jesus Ilundain-Agurruza, seorang pakar filosofi olahraga, mengatakan bahwa Olimpiade adalah cerita tentang Agon atau rasa sakit dan sengsara. Para atlet yang bertanding menempuh latihan fisik dan mental yang ekstrem, terlebih lagi mereka terus berkompetisi meski tubuh mereka berada dalam kondisi yang amat terpuruk.

Tengoklah cerita Rifda Irfanaluthfi, seorang pesenam artistik asal Indonesia yang turut berpartisipasi di Olimpiade Paris. Ia merupakan pesenam pertama Indonesia yang bertanding di Olimpiade. Namun, amat malang ia didera cedera yang amat menyakitkan. Walau demikian, kondisi rasa sakit itu tidak menyurutkan semangatnya. Meski tertatih-tatih dengan lutut yang membengkak, ia terus melanjutkan permainan di beberapa alat senam, ia merampungkan sesi itu dengan segenap tenaga dan kesungguhan. Ia berkata selepas bertanding, ”Ingatlah bahwa keberanian bukanlah kurangnya rasa takut, tetapi kemampuan untuk melangkah maju meski takut.” Turnamen ini juga mengasah seseorang menghadapi kecemasan dan rasa takutnya, bagaimana menghayati rasa sakit dan membalikkannya menjadi semangat.

Seperti kisah atlet dayung Lola Anderson asal Inggris, ia memenangkan medali emas dan dengan menguraikan air mata ia mendedikasikan medali emas itu untuk mendiang ayahnya yang meninggal karena kanker. Sebelum meninggal dunia, ayahnya menitipkan tulisan yang berisi sobekan catatan harian gadis itu saat ia masih berusia 13 tahun. Lola tidak menyadari bahwa ayahnya menyimpan catatan harian yang pernah ia buang. Catatan itu berisi impian Lola untuk memenangkan medali emas di Olimpiade.

Melampaui hambatan fisik dan mental memang tantangan yang besar dalam kompetisi bergengsi seperti Olimpiade, tetapi betapa peliknya para atlet yang merupakan bagian dari bangsa yang tengah mengalami opresi seperti Palestina. Simak kisah Yazan Al Bawwab, seorang perenang yang mewakili Palestina di Olimpiade Paris. Ia bertekad menggaungkan terus-menerus nama Palestina meski ada pihak-pihak yang ingin menghapus nama tersebut. Perjuangannya melalui renang adalah upaya untuk membuat dunia terus melihat penjajahan dan kekerasan yang terjadi pada rakyat Palestina.

Sebagai penutup saya merenungkan, inilah yang membuat arena di Olimpiade menggugah, melampaui menang-kalah maupun tabel medali. Olimpiade menceritakan pertaruhan yang dijalani setiap atlet yang amat manusiawi, bukan semata-mata untuk kesempurnaan, tetapi ketahanan diri bahwa dalam kondisi tersukar dan terberat mereka berteguh hati dan terus berjalan. (*)

Editor: Ilham Safutra
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore