
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
Saya lahir ketika keluarga dalam keadaan bangkrut. Waktu itu dunia terancam oleh perang. Kelaparan merajalela. Efek yang utama buat diri pribadi adalah jadi anak yang bodo, nggrangsang, dan gudikan.
---
KETIKA kelas IV SD saya tidak naik karena penyakit patek dan ketika kelas III SMP (Taman Siswa) tidak lulus ujian. Waktu itu persentase kelulusan ujian negeri sekitar 40 persen. Tahun 1954 saya mau ujian lagi. Kalau tidak lulus lagi, saya berencana mau keliling Indonesia naik sepeda. Termotivasi zamannya.
Waktu itu ada empat orang Indonesia yang mau keliling dunia jalan kaki, yang dipimpin oleh pejantan dari Sulawesi bernama Lawalata. Kabar terakhir yang saya tahu dari surat kabar, Lawalata terdampar di Jerman Barat dan kawin dengan janda de oude afroditen, pengusaha sapi perah. Seorang anggota lain sampai di New York dan mendapat kesempatan bicara di suatu sidang WHO. Kalau tidak salah dia bernama Haryono.
Kalau Lawalata gagal, saya justru membatalkan diri karena lulus dengan nilai matematika hebat. Waktu itu saya berumur tujuh belas tahun. Kepingin kawin dengan babu yang berusia dua puluh tahun lebih tua, seperti Maxim Gorky dari Rusia yang kisahnya bisa kita baca dalam Cinta Pertama, atau Gustave Flaubert dari Prancis. Pengalaman tragis-romantis itu telah saya tulis menjadi buku anak-anak berjudul Indra Tualang Si Doktor Kopi yang lumayan laku.
Eh... mendadak bulan lalu ada tamu bersepeda antik dari Bekasi, kota di mana saya pernah tinggal selama lebih dari 24 tahun. Tamu penting buat saya itu bernama Sutedjo, pensiunan Telkom, ahli teknik. Dia datang ke Perpustakaan Pataba sore-sore. Dia berasal dari Kediri dan kemudian menetap di Malang. Dia hobi mengendarai sepeda ke mana-mana dan mengabadikan pengalaman itu dengan kamera HP. Pas Hari Raya Idul Qurban tanggal 9 Juli lalu, saya dikirimi hasil rekaman tersebut.
Kami mengobrol, tukar pengalaman hidup. Malamnya sebelum tidur minum kopi di warung dekat rumah. Menginap di bekas dapur keluarga Toer ketika sedang jaya-jayanya, yang tahun 2003 direnovasi oleh Pramoedya Ananta Toer dengan biaya Rp 15 juta. Saya pelaksananya. Pram ingat kata-katanya sendiri, ”Kalau rumah itu rusak, penghuninya juga rusak.”
Ketika Pram meninggal 30 April 2006, saya menjadikan dapur keluarga Toer itu perpustakaan dan sudah banyak tamu yang menginap di sana, bahkan dari empat benua, kecuali Afrika.
Pak Tedjo juga tidur di sana. Pagi harinya dia mau meneruskan perjalanan. Saya belikan dia sarapan sego pecel dengan bungkus daun jati, khas Blora. Seperti kita ketahui, kayu jati Blora adalah yang terbaik di dunia. Bahan kerajinan Bali yang mendunia juga diambil dari Blora oleh pengusaha kerajinan tersebut, Gede Alit. Dia beberapa kali datang ke Blora dan mampir Perpustakaan Pataba. Dia juga mengundang saya ke Bali, membawa saya ke Pantai Sanur dan mencicipi sup ikan kerapunya yang aduhai. Membuat saya lupa diri karena keesokan harinya praktis tak bisa jalan karena asam urat. Gede Alit juga mengajak saya melihat ngaben dan Rumah Kenangan 65.
Begitulah, ternyata pagi-pagi Pak Tedjo sudah ngrebus kopi dengan kompor gas mininya, memamerkan segala perlengkapan sepedanya yang luar biasa: bendera kecil segitiga yang dipasang di bagian belakang sepedanya dan kami foto-foto bareng di halaman depan Rumah Masa Kecil Pram.
Suatu kali pernah juga datang tamu naik vespa dari Jakarta yang menempuh perjalanan selama berhari-hari dan mampir ke Perpustakaan Pataba. Dia mau melanjutkan perjalanan ke Pondok Baasyir, dari Yaman, yang terletak di Karanganyar. Dia mengatakan bahwa dalam pesantren itu buku Pram yang berjudul Bumi Manusia adalah buku jawarit, sedangkan Dirjen Kebudayaan zaman Soeharto, Prof Dr Edi Sedyawati, berkomentar bahwa Bumi Manusia mengandung ajaran marxisme-leninisme yang terselubung. Hebat! Pram yang cuma tamat Instituut Boedi Oetomo (IBO) Blora milik sang bapak paham tentang ajaran kiri tersebut. Saya yang lulusan Uni Soviet pun tidak paham. Sepak terjang Toer dengan Instituut Boedi Oetomo yang dia pimpin sudah saya tulis dalam buku Perjuangan Sebuah Lembaga Pendidikan: Instituut Boedi Oetomo di Blora yang baru-baru ini terbit. Buku itu saya tulis untuk melengkapi buku kakak saya, Koesalah Soebagyo Toer, Mastoer Bapak Kami, yang merupakan biografi tentang Mastoer sejak masa kecil sampai hari-hari terakhir hidupnya yang Pram abadikan dalam buku Bukan Pasar Malam.
Ketika eks Menteri BUMN Dahlan Iskan mampir kali ketiga ke Blora beberapa waktu yang lalu, di hadapan para peserta Blora Bike dia nyeletuk, ”Apa bedanya kapitalis dan komunis?”
”Sama saja,” jawab saya. ”Dua-duanya eksploitator.”
Lebih baik santai mengeksploitasi sepeda tanpa beban politik. Kebebasan adalah iman, sedangkan sepeda pertama diciptakan oleh orang Rusia dari Ural pada zaman Tsarisme. Sepeda juga berasal dari kata Rusia yang berarti kayuh cepat, sedangkan vespa berasal dari bahasa Italia yang berarti kumbang. (*)
---
SOESILO TOER, Pengelola Perpustakaan Pataba Blora
