
PROYEK MASTERPIECE: Christopher Tanihaha berpose dengan latar Inner Net di Milano Design Week 2019. (Christoper Tanihaha for Jawa Pos)
Desain interior menjadi bagian dari hidup Christopher beberapa tahun terakhir. Inspirasinya bisa jadi sederhana. Namun, ambisinya kini begitu besar untuk memperkenalkan Indonesia di dunia melalui desain interior.
RETNO DYAH AGUSTINA, Surabaya
Saat baru mengenal komputer, Christopher juga mulai mengenal permainan The Sims. Games itu memungkinkan pemain menjalankan kehidupan tokoh sehari-hari. Termasuk membangun hingga mendekorasi rumah.
Saat itulah Christopher tercenung ingin menjadi desainer interior. Tak hanya memilih perabot rumah, tapi juga memikirkan konsep menyeluruh.
’’Aku pikir, di mana desain itu sangat berkembang?’’ renungnya.
Italia lantas menjadi pilihan. Bagi Christopher, Italia adalah pusat desain. ’’Fashion, interior, furnitur, dan masih banyak lagi,’’ katanya. Italia menjadi titik yang pas untuk memulai. Christopher makin serius dengan impiannya tersebut.
Setelah mengenyam pendidikan civil engineering di Orange Coast College, AS, Chris mulai menjajaki Italia. Pada 2017, Chris pindah ke negara yang begitu baru baginya. ’’Wah, pas datang ya susah karena mereka tidak menguasai bahasa Inggris. Jadi, tanya WC saja bingung,’’ ucapnya.
Meski begitu, dia tak patah semangat. Tepat pada 2018, Chris memulai pendidikannya di Istituto Marangoni Milano, Italia. Diploma dan master dijelajahi demi impian menjadi desainer interior.
Sebagai desainer interior, dia tak hanya ingin menampilkan kecantikan yang sedap dipandang mata. Chris juga ingin menciptakan suasana yang membantu manusia di dalamnya. Salah satu proyek tak terlupakan baginya adalah Inner Net. Desainnya tak kebanyakan gaya, simpel. ’’Isinya adalah bagaimana hati, pikiran, dan pancaindra itu terkoneksi seluruhnya,’’ paparnya.
Proyek tersebut merupakan salah satu tantangan di pengujung saat dia menjalani pendidikan master. ’’Tugasnya sebenarnya mendesain suite room di hotel yang akan dibangun di Tiongkok,’’ ungkapnya. Chris tak menginginkan gaya oriental biasa. Dengan berani, dia mencoba gaya plain atau polos, tapi menitikberatkan pada teknologi canggih yang disediakan di dalam kamar. Semua berada dalam genggaman tamu.
Proyek itu bukan hanya masterpiece bagi dia, tapi juga menjadi jalan Chris mengenal idolanya, Giulio Cappellini. ’’Wah, di Italia dia tuh paling beken lah,’’ ungkapnya.
Saat presentasi, Chris sebenarnya tak berharap apa-apa. Sebab, sebelumnya Chris pernah berusaha ’’mendekati’’ desainer interior ternama yang juga hadir di kelasnya. Dia berusaha melobi. Barangkali mereka tertarik dengan karya Chris yang ditampilkan di kelas. ’’Setelah itu, tukar e-mail. Tapi, di-read pun nggak. Sejak itu, jadi ya udah deh,’’ kenang alumnus SMAK Gloria 1 tersebut.
Karena itulah, saat menampilkan Inner Net di depan Cappellini, Chris juga santai saja. Setelah presentasi, dia bahkan hanya duduk memainkan ponselnya. ’’Tahu-tahu didatengin sendiri sama Cappellini!’’ jelasnya. Dengan baik hati, Cappellini bertanya tentang rencana Chris setelah lulus. Chris memang sedang mencari lowongan internship. Ternyata gayung disambut Cappellini.
’’Padahal, di kelas ada orang Italia asli, AS, dan Meksiko. Semua karyanya bagus. Kenapa saya? Tangan Tuhan sih,’’ katanya, kemudian tertawa. Chris merasa terkejut. Sebab, tak sekali-dua kali dia menjadi korban rasisme di Italia. ’’Makanya, aku pikir, ada toh orang Italia yang mau kerja sama orang Indonesia,’’ ucapnya.
Rasisme di Italia mungkin bukan hal yang familier bagi banyak orang. Namun, sebagai pelancong, Chris tahu Italia punya predikat yang tidak terlalu baik untuk ditinggali. Rasisme tak hanya terjadi di masyarakat biasa, tapi juga ke petugas-petugas pelayanan publik. ’’Seperti urus izin tinggal begitu, cowok, Asia, wajahnya kental begini. Pasti sangat ribet,’’ terangnya. Meski begitu, Chris tetap merasa Italia sebagai lokasi yang tepat memulai impian menjadi desainer interior.
Setelah resmi bergabung dengan Cappellini, Chris ternyata diminta melanjutkan idenya tentang Inner Net. Desainnya yang fully technological tersebut coba digarap untuk pameran bergengsi di Milan. Salone del Mobile Fair di Milan merupakan ajang pameran furnitur terbesar di Italia. ’’Jadi, waktu diminta pamerkan, rasanya kayak itu prestasi terbesarku,’’ ujarnya, lantas tertawa. Kreasi itu juga dipublikasikan dalam majalah desain terbitan Italia yang cukup bergengsi, Elle Décor dan Domus Magazine.
Menilik karyanya tersebut, Chris memang tak banyak memainkan unsur budaya. Warna putih elegan mendominasi ruangan yang dia desain. Mulai dinding hingga perabotan. Namun, Chris memasukkan unsur alam Tiongkok di bagian dinding. Desain tanaman bambu terlihat elegan dimainkan dengan kaca-kaca bening.
Kini Chris mencoba berkarya di Indonesia. Pria asal Surabaya itu diminta menjadi bagian dari tim pembangunan kawasan ekonomi khusus (KEK) Singosari. ’’Ini proyek yang lumayan besar. Aku semangat sekali!’’ jelasnya.
Chris sudah membayangkan kemegahan Kerajaan Singosari akan menjadi bagian eksterior perumahan di kawasan tersebut. ’’Tentu bagaimana orang nggak mikir tentang Ken Arok dan Ken Dedes saja ya,’’ tegasnya. Interior rumah bakal punya konsep full technology sehingga pas dengan kehidupan masa kini.
Berkarya di negeri sendiri sebenarnya sudah menjadi impian Chris. ’’Karya itu juga bisa dikenal di dunia luar. Itulah tugas besar,’’ jelasnya. Sebab, selama ini Chris merasa masih banyak desain di Indonesia yang meniru desain di luar negeri. Padahal, banyak unsur kebudayaan atau karakter Indonesia yang bisa dikembangkan dalam dunia desain interior.
’’Tantangannya justru kita ini masih memandang lawan kita sebatas sesama desainer di Indonesia, nggak nengok ke luar,’’ ujarnya. Alhasil, banyak proyek besar di negara sendiri yang diberikan kepada konsultan di luar negeri.
’’Memang aku ini ambisius sekali ya. Makanya, aku ingin Indonesia juga bisa maju dong,’’ tegasnya. Chris juga memberikan tip penting, yaitu presentasi. Sebagus apa pun karya yang dibuat tak bakal tampak baik jika desainer tak mampu mempresentasikannya.
’’Bisa jadi, karya kita biasa, tapi kita bisa jelaskan filosofinya, dasar pemikirannya. Akhirnya, orang pun bisa tertarik,’’ ujar pendiri DESIGNbyTANI tersebut.
Saksikan video menarik berikut ini:
https://www.youtube.com/watch?v=BQt8X2XOK7w
https://www.youtube.com/watch?v=BrZgEOLmwYA
https://www.youtube.com/watch?v=HUlrl5a3Tjc
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Besan KDM Komjen Karyoto Dimutasi dari Jabatan Kabaharkam Jelang Pensiun
Prediksi Semen Padang vs PSPS Pekanbaru: Kabau Sirah Incar 3 Poin, Askar Bertuah Siap Bikin Kejutan!
Rekam Jejak Wadankor Brimob Irjen Victor Alexander Lateka, dari Densus 88 hingga BIN
Prediksi Skor Kosta Rika vs Haiti di CONCACAF: Les Grenadiers Bisa Menang Tipis
Prediksi Skor Irlandia vs Israel: The Green Army Diunggulkan Menang
Prediksi Skor Kosovo vs Austria di Liga Nations UEFA: Das Team Perpanjang Rekor Tak Terkalahkan
Prediksi Deltras FC vs Persiba: Leonard Tupamahu Hafal Gaya Main Tamu
Prediksi Skor Siprus vs Latvia di Liga Nations UEFA: I Galanolefki Menang Tipis di Neo GSP
Prediksi Susunan Pemain Yunani vs Jerman: Klopp Butuh Sentuhan Wirtz
'Tibo Sri': 7 Weton yang Memiliki Rezeki Seumur Hidupnya Mengalir Seperti Air dan Tidak Pernah Mengering Menurut Primbon Jawa

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022