Logo JawaPos
Author avatar - Image
03 November 2025, 23.00 WIB

Catatkan Pendapatan Rp 31,3 Triliun per September, ini 5 Negara Tujuan Utama Ekspor PTBA

PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota dari Holding BUMN Pertambangan MIND ID. (Istimewa). - Image

PT Bukit Asam Tbk (PTBA), anggota dari Holding BUMN Pertambangan MIND ID. (Istimewa).

 

JawaPos.com - PT Bukit Asam Tbk (PTBA) mengumumkan kinerja keuangan konsolidasian dari awal tahun hingga 30 September 2025 ke BEI/OJK. Direktur Utama PTBA, Arsal Ismail mengatakan, di saat tekanan harga batu bara global yang menurun sepanjang 2025, perusahaan berhasil mempertahankan kinerja operasional yang solid serta menjaga profitabilitas melalui peningkatan efisiensi biaya dan optimalisasi portofolio pasar domestik.

"Hal ini tercermin dari pertumbuhan volume produksi dan penjualan yang tetap positif, serta realisasi capex yang mendukung keberlanjutan operasi dan proyek logistik strategis," kata Arsal, Senin (3/11).

Hingga akhir September 2025, PTBA berhasil mencatatkan pendapatan sebesar Rp 31,3 triliun, mengalami kenaikan 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Meskipun volume penjualan meningkat 8 persen YoY, penurunan harga batu bara memengaruhi kinerja, dengan Newcastle Index turun 22 persen YoY dan ICI-3 turun 16 persen YoY, sehingga harga jual rata-rata melemah 6 persen YoY.

Dari total penjualan hingga akhir September 2025, 56 persen berasal dari pasar domestik, sedangkan 44 persen lainnya dijual ke pasar ekspor. Lima negara utama tujuan ekspor PTBA pada periode ini adalah Bangladesh, India, Filipina, Vietnam, dan Korea Selatan.

Beban Pokok Pendapatan dan Beban Operasional

Beban pokok pendapatan tercatat sebesar Rp 27,8 triliun, meningkat 11 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Kenaikan ini sejalan dengan peningkatan volume operasional, termasuk produksi batu bara yang naik 9 persen YoY dan angkutan yang meningkat 8 persen YoY, meskipun stripping ratio tercatat lebih rendah pada 5,98x dibandingkan 6,02x pada periode sebelumnya.

Selain itu, pencabutan subsidi FAME pada biodiesel serta kewajiban penggunaan B40 berdampak pada kenaikan harga BBM per liter sebesar 8 persen YoY, sehingga meningkatkan biaya bahan bakar perusahaan baik untuk kegiatan penambangan maupun angkutan kereta api.

Di sisi lain, beban umum dan administrasi naik 4 persen atau Rp 52,4 miliar secara YoY, sementara beban penjualan turun 1 persen atau Rp 7,1 miliar.

Penghasilan Keuangan, Biaya Keuangan, dan Bagian atas Laba Neto 

Perusahaan mencatat penghasilan keuangan sebesar Rp 157,6 miliar, turun 14 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Sementara itu, biaya keuangan meningkat 23 persen menjadi Rp 247,9 miliar, seiring dengan kenaikan pinjaman bank. Bagian laba neto dari entitas asosiasi dan ventura bersama tercatat Rp 333,1 miliar, naik 14 persen YoY.

Laba periode berjalan yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk mencapai Rp 1,4 triliun.

Total Aset dan Total Liabilitas 

Hingga akhir September 2025, total aset tercatat sebesar Rp 42,8 triliun, meningkat 3 persen dibandingkan akhir 2024 yang sebesar Rp 41,8 triliun. Saldo kas dan setara kas sebesar Rp 4 triliun, mengalami penurunan 3 persen dibandingkan akhir 2024 sebesar Rp 4,1 triliun.

Editor: Estu Suryowati
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore