Logo JawaPos
Author avatar - Image
19 Januari 2025, 00.04 WIB

Ancaman Kenaikan Tarif Impor AS: Tantangan dan Strategi Indonesia untuk Ekspor Nonmigas

Mantan presiden AS Donald Trump di mahkamah agung negara bagian New York di New York, pada 7 Desember 2023. Sumber Foto: Yuki Iwamura/Bloomberg via Getty Images - Image

Mantan presiden AS Donald Trump di mahkamah agung negara bagian New York di New York, pada 7 Desember 2023. Sumber Foto: Yuki Iwamura/Bloomberg via Getty Images

 
JawaPos.com - Hubungan dagang antara Indonesia dan Amerika Serikat kembali menjadi sorotan di tengah wacana kebijakan perdagangan yang lebih proteksionis dari Donald Trump. Dalam pernyataannya, Trump berjanji akan memberlakukan tarif impor hingga 100% terhadap negara-negara yang menyebabkan defisit perdagangan bagi AS. Mengingat Indonesia memiliki surplus perdagangan dengan AS, sektor ekspor nonmigas berisiko menghadapi tekanan serius jika kebijakan ini diterapkan.
 
Amerika Serikat merupakan salah satu mitra dagang terbesar Indonesia, terutama di sektor nonmigas. Produk seperti tekstil, alas kaki, furnitur, dan elektronik menyumbang porsi besar dalam surplus perdagangan Indonesia dengan AS. Surplus ini menjadi target Trump yang dikenal dengan pendekatan keras terhadap negara-negara yang dianggap "merugikan" ekonomi AS melalui neraca perdagangan yang tidak seimbang.
 
Menurut Pengamat Hubungan Internasional Universitas Airlangga, Agastya Wardhana, jika tarif impor naik hingga 100%, produk-produk unggulan ekspor Indonesia bisa kehilangan daya saing di pasar AS. Hal ini dapat memengaruhi keberlanjutan industri-industri yang bergantung pada ekspor, menurunkan pertumbuhan ekonomi, dan meningkatkan risiko pemutusan hubungan kerja (PHK) di sektor-sektor terkait.
 
Agas juga mengatakan risiko kenaikan tarif impor tersebut perlu dilihat dari kebijakan perdagangan AS yang sangat pragmatis. “Donald Trump selalu menargetkan negara-negara yang memiliki surplus perdagangan besar dengan AS. Jika kebijakan tarif ini diterapkan, Indonesia termasuk negara yang sangat mungkin terkena dampaknya. Namun, ini juga bergantung pada seberapa baik kita dapat melakukan diplomasi ekonomi dengan pemerintahan Trump,” ujarnya.
 
 
Untuk mengurangi risiko dampak negatif kenaikan tarif, Agas menyarankan Indonesia perlu segera mengambil langkah-langkah strategis, di antaranya:
 
1. Menunjuk Duta Besar untuk AS
Saat ini, Indonesia belum memiliki duta besar tetap untuk Amerika Serikat. Padahal, peran ini sangat krusial untuk melobi dan berdiplomasi dengan pemerintahan AS, terutama dalam isu perdagangan. Dengan adanya duta besar yang kompeten, hubungan bilateral dapat lebih terjaga, dan Indonesia dapat memanfaatkan jalur diplomasi untuk meredam kemungkinan pemberlakuan tarif tambahan.
 
2. Memperkuat Negosiasi Perdagangan
Indonesia perlu memperkuat komunikasi dengan pemerintah AS, baik melalui jalur bilateral maupun forum internasional. Penyampaian posisi strategis Indonesia dalam perdagangan global harus ditekankan, termasuk kontribusi ekspor nonmigas terhadap stabilitas pasar AS.
 
3. Diversifikasi Pasar Ekspor
Untuk mengurangi ketergantungan pada pasar AS, Indonesia perlu memperluas pangsa pasar ekspor ke negara-negara lain, terutama yang berada di Asia, Afrika, dan Amerika Latin. Diversifikasi pasar dapat membantu mengurangi dampak buruk jika tarif impor AS terhadap Indonesia benar-benar diterapkan.
 
4. Meningkatkan Nilai Tambah Produk
Indonesia juga harus berfokus pada pengembangan produk bernilai tambah tinggi agar lebih kompetitif di pasar internasional. Produk dengan inovasi dan kualitas unggul cenderung lebih sulit tergantikan, meskipun dikenakan tarif tinggi.
 
5. Meningkatkan Kerja Sama Ekonomi
Melalui kerja sama dengan perusahaan-perusahaan di AS, Indonesia dapat mengurangi risiko tarif yang tinggi. Investasi bilateral dan pembentukan rantai pasok global yang melibatkan perusahaan AS dapat menjadi strategi untuk menjaga keberlanjutan ekspor.
 
Secara historis, hubungan antara Indonesia dan AS cukup baik meskipun menghadapi berbagai tantangan. Bahkan di masa sulit seperti krisis 1998, AS tetap menjaga komunikasi yang konstruktif dengan Indonesia. Ke depan, hubungan yang dinamis ini diharapkan dapat menjadi fondasi untuk mengatasi tekanan tarif impor dan menjaga stabilitas perdagangan kedua negara.
 
Menurut Agas, kebijakan AS sering kali bersifat transaksional dan pragmatis. “Donald Trump cenderung bersikap keras pada awalnya, tetapi negosiasi yang tepat dapat membuka peluang kerja sama. Selama pemerintah Indonesia dapat berkomunikasi dengan efektif, tekanan tersebut dapat diminimalisasi,” pungkasnya.
 
Editor: Sabik Aji Taufan
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore