
ILUSTRASI - BUDIONO/JAWA POS
”Ada perang, Meneer. Jalan terhalang, banyak bom!”
FIRMUS mengangkat tangan dan menjawab sekenanya. Di hadapannya, dua orang kulit putih berseragam lorek menodongkan senjata –satu pistol dan satu senjata laras panjang– sambil membentak-bentak dalam bahasa yang tidak ia pahami. Orang yang memegang laras panjang mendekat dan dengan menunjuk-nunjuk menyuruh ia turun dari truk. Firmus turun dengan tangan terangkat.
”Do you carry weapon?!”
”Keri?” Firmus balik bertanya. ”Curi, maksudmu? Kami tidak mencuri. Ini cendana dan sopi. Dari Am Kolo untuk Meneer Jan Nieboer.”
Melirik ke belakang, Firmus tak menemukan tiga kondektur yang seharusnya menjaga karung-karung cendana. Ia tak bisa menyalahkan mereka jika mereka telah lari terkencing-kencing. Ia sendiri telah cukup panik.
Ia dan tiga orang kondekturnya itu telah berjalan ratusan kilometer ke arah Kupang, membawa sopi dan cendana untuk pejabat Belanda. Tetapi deru pesawat dan debum bom membuat mereka berhenti di Oenaek. Mereka menyembunyikan truk di antara pepohonan di bukit batu, dan dari balik karang hitam mereka menyaksikan pesawat berputar-putar menurunkan bom dan penerjun payung.
”Jika Belanda kalah perang, habislah masa depan kita.”
Firmus pernah mendengar Am Kolo berkata begitu. Bisnis Am Kolo dikontrol oleh Belanda, dan ia terdengar putus asa. Orang-orang Belanda-lah yang mengatur penjualan kayu-kayu cendana miliknya. Mereka bahkan membantu ia mendapatkan Chevrolet untuk mempercepat pengiriman.
Namun Ain Iba, istri Am Kolo, tak pernah menyukai Belanda.
”Hidup kita akan lebih baik tanpa Belanda,” begitu kata istrinya. ”Seperti truk, kita hanya alat bagi mereka. Kita bekerja siang dan malam, tetapi keuntungan mereka yang berkali lipat.”
Firmus sedikit banyak setuju kepada Ain Iba. Ia yang melakukan pengiriman dan tahu berapa besar keuntungan Belanda. Tetapi ia tidak bisa melihat bagaimana perang ini akan memberikan hidup yang lebih baik. Tanpa perang saja hidup mereka sudah buruk. Ia bertanya-tanya mengapa Belanda dan Jepang tidak berhenti berperang dan membagi saja pulau itu seperti yang dahulu dilakukan oleh Belanda dan Portugis. Daripada menjatuhkan bom yang membunuh segala yang bergerak –baik itu kawan, lawan, ataupun katak yang terjebak– begitu ia berpikir.
Di hari ketiga saat pesawat berhenti berderu dan bom tak lagi berdebum, barulah Firmus mengeluarkan truk dari balik pepohonan. Ia memutuskan untuk putar balik ke Kefamnanu.
”Tak mungkin para meneer selamat dari bom-bom itu,” ia berkata kepada para kondekturnya. ”Kita hanya akan bertemu dengan rangka dan puing-puing.”
Tertatih-tatih mereka membawa truk pulang ke Kefamnanu, berharap Am Kolo akan menemukan pembeli lain dari Timor Portugis. Belum sampai dua jam berkendara, dua orang tentara ini keluar dari semak-semak dan para kondektur kabur meninggalkan Firmus. Kini Firmus sendiri dengan tangan terangkat dan ketakutan yang berusaha dikuasai.
Tentara yang menodongnya maju, menggeledah tubuhnya dan seisi truk.
”No weapon, Capt,” kata tentara itu kepada tentara lain yang memegang pistol.
Yang dipanggil kapten melongok ke bak truk.
”Saya bawa cendana dan sopi, Tuan,” Firmus berusaha lagi untuk memberi jelas: ”Dari Am Kolo untuk residen Jan Nieboer. Apakah Anda kenal Am Kolo? Kenal residen? Sopi? Cendana? Kefamnanu?” Firmus menyebut sembarang kata sambil menunjuk ke barat dan ke timur, berharap salah satu kata yang ia sebut bisa menyelamatkannya.
Saat ia menunjuk ke timur, sang kapten ikut menunjuk ke timur.
”Dili?” sang kapten bertanya.
”Dili? Dili masih jauh. Saya mau ke Kefamnanu, bukan ke Dili,” Firmus menjawab.
”Ya, Dili,” sang kapten menunjuk ke timur dengan wajah bingung.
Firmus ikut menunjuk ke timur: ”Ya, Dili ke sana. Tapi ja—uh...”
”Ya, Dili,” sang kapten menjawab seakan mengerti, dan ikut menunjuk ke timur: ”Dili!”
Firmus menarik napas. Adalah sia-sia mendebat orang asing yang bersenjata, pikirnya.
”Oke, Dili,” ia membuka tangan, menyerah.
Kapten terlihat puas. Ia mengangkat tangannya, memberi isyarat. Lima orang lain dengan baju lorek yang sama keluar dari semak-semak. Senjata dan perlengkapan perang menggantung di tubuh mereka. Seorang dari mereka tertatih-tatih dipapah dua orang lain. Firmus bisa melihat darah dan lumpur mengering di perban yang terlilit di pahanya.
Dua orang tentara naik ke bak truk dan membuang turun separo karung cendana, membikin ruang untuk ditumpangi. Firmus hanya menggigit bibir melihat karung-karung cendana menggelinding ke semak-semak.
Sesudah bak truk menjadi lowong dan para prajurit naik, sang kapten memberi isyarat kepada Firmus untuk duduk di belakang kemudi. Firmus naik, kapten ikut naik, dengan pistol yang tak lepas dari genggaman.
”Dili,” berkata sang kapten.
Firmus menyalakan mesin dan menginjak gas.
”Dili.”
***
Sudah tujuh tahun Firmus bekerja untuk Am Kolo. Ia seorang kepercayaan dan telah sering bertemu dengan orang Belanda. Karena itu ia tahu, orang-orang ini bukan tentara Belanda. Mereka punya bau yang hampir mirip dengan orang Belanda –seperti bau dari jenis kambing yang berbeda– tetapi mereka tidak begitu mengenal residen dan tidak pula berbicara dalam bahasa Belanda. Bahasa Belanda berbunyi seperti diucapkan oleh orang sakit pilek yang berbicara sebelum membuang dahak.
Sang kapten duduk di samping Firmus tanpa melepaskan pistol; matanya terbuka dua puluh empat jam. Jalanan pasir-padat berlubang di sana-sini; sesekali terdengar erangan si pesakitan karena goncangan. Tiga kali kapten meminta Firmus untuk berhenti. Mereka berbagi makanan dan Firmus membuka satu karfaun sopi.
Sebelum petang di hari berikutnya, mereka memasuki Kota Kefamnanu. Firmus mengarahkan mobilnya langsung ke rumah Am Kolo. Di gerbang, sang kapten menatapnya.
”Dili?”
”Bos,” jawab Firmus, menunjuk rumah.
Kapten mengira akan bertemu dengan seorang bos berkebangsaan Belanda, tetapi Am Kolo keluar dengan kaki yang pincang dan istri yang sedikit lebih tinggi darinya.
”Sparrow Force? Sekutu Belanda? A-ha! Saya mantan pasukan Belanda,” kata Am Kolo dalam bahasa Inggris yang kaku. ”KNIL! Letnan satu kavaleri. Tertembak di Bali –sudah belasan tahun tidak memegang senjata.”
Kapten membalas hormat dan Am Kolo berbasa-basi tentang perjalanan dan cuaca. Ain Iba tersenyum sebentar kepada sang kapten, lalu membuang perhatian pada para prajurit yang turun dari truk. Sesudah semua turun ia menatap Firmus.
”Kalian jual sebagian kayu?” ia bertanya.
”Mereka membuang sebagian kayu,” Firmus menjawab. Ia tahu perempuan itu tidak menyukai jawabannya.
”Kami akan beristirahat sebentar dan meneruskan perjalanan ke Dili,” sang kapten berkata kepada Am Kolo.
”Anak buah Anda terluka,” Am Kolo berkata.
”Kalian butuh istirahat. Apakah perang melawan Nippon telah dimulai?” ia bertanya lagi.
Kapten mengangguk.
”Kami kena kepung di Oesao,” katanya.
”Bantuan dari Australia dan Amerika tidak bisa mendarat. Komandan Leggatt telah menyerahkan diri… pengecut itu, memikirkan dirinya sendiri. Kami tidak punya pilihan selain terus bergerak ke timur, memperkuat Independent Company di Dili.”
”Itu perjalanan yang jauh,” Am Kolo berkata. ”Biar istri saya merawat dahulu yang terluka.”
”Tak ada waktu,” sang kapten bersikeras, ”kami bisa beristirahat di jalan. Ia baik-baik saja.”
Ain Iba datang dan menyentuh lengan Am Kolo.
”Kalian tak bisa berangkat sekarang,” katanya. ”Orang-orang kami membutuhkan tambahan bahan bakar.”
Kapten memandang Am Kolo: Am Kolo mengangguk, meski ia tahu ada banyak bahan bakar di gudang. Kapten memandang Firmus: Firmus mengangguk, meski ia tidak tahu apa yang sedang dibicarakan.
”Kita berangkat besok,” kata kapten kepada para prajurit.
”Mlolkit fafi!” kata Am Kolo kepada Firmus.
Kapten menatap Am Kolo.
”Saya menyuruh mereka membunuh babi,” Am Kolo menjelaskan. ”Malam ini kita makan brenebon. Saya akan mengusahakan agar kalian berangkat besok sebelum matahari meninggi.”
***
Hampir pukul delapan malam, Am Kolo menjamu tamu-tamunya. Tamu-tamu itu telah rapi bercukur, duduk dengan kemeja yang bersih. Ia yang terluka kelihatan seperti anak-anak, mungkin baru dua puluh tahun usianya. Ain Iba telah mengganti perbannya, dan meski wajahnya masih pucat, rambutnya telah licin diminyaki.
Firmus kebagian tugas menuang sopi.
”Pastikan tamu-tamu kita mabuk,” kata Ain Iba. ”Mereka baru saja melalui pekan yang berat.”
Firmus berdiri di belakang Am Kolo dan terus mengisi gelas-gelas sopi yang kosong.
”Kami sudah lama tidak berpesta,” seorang prajurit berkata.
”Kami sudah lama tidak menerima tamu,” Am Kolo menanggapi.
Tamu dan tuan rumah itu makan dan minum dengan sukacita, dan tak lama berselang mereka telah mulai mabuk. Dengan suara yang tidak terkontrol sang kapten mengucapkan terima kasih dan memperkenalkan para prajuritnya.
Ia dan tiga prajurit lain datang dari Tasmania, batalyon ke-2/40 pasukan Australia. Sementara tiga orang lainnya, termasuk yang terluka, adalah serdadu Inggris yang mereka temui dalam pelarian. Rencananya pasukan Inggris, Australia, dan Belanda akan menghadang Jepang di Timor, sementara pasukan Amerika akan menyerang lewat Samudra Pasifik. Tetapi Jepang kelihatannya telah mengantisipasi hal itu. Kapten belum percaya begitu banyak tentara Nippon memenuhi pulau –terjun dari langit dan muncul di garis-garis pantai.
”Mengapa kalian tidak menghadang Jepang di Australia saja?”Ain Iba bertanya.
Kapten menjawab ia tidak mengerti maksud pertanyaan itu.
”Maafkan kenaifan saya,” Ain Iba berkata: ”Bukankah lebih mudah jika menghadang dan memerangi Jepang di Australia? Kalian akan menang jumlah, unggul peralatan, dan tentu saja menguasai medan tempur. Kalian… maksud saya, kita semua akan menang. Jepang akan kalah sebelum mendarat; kalian tidak perlu repot ke Timor; orang Timor tidak perlu mati sia-sia untuk peperangan bangsa-bangsa asing; dan tak perlu ada kayu cendana yang dibuang ke jurang.”
”Tetapi, Nyonya, jika Jepang menguasai Timor,” begitu kapten mendebat, ”akan lebih banyak orang Timor yang mati, akan lebih mudah pula mereka menggempur Australia. Kita semua akan kalah.”
Ain Iba kelihatan ingin berkata lagi, tetapi Am Kolo menyela: ”Anda benar, Kapten. Maafkan istri saya. Seperti perempuan lain, ia tidak tahu apa-apa tentang perang.”
Para pria itu tertawa. Wajah Ain Iba memerah, meski ia tidak menyentuh alkohol.
”Kalian bangsa asing, datang dan berperang di tanah orang,” Ain Iba bergumam dalam bahasa Uab Metô.
Nada suaranya tidak bersahabat, dan ruangan itu menjadi hening.
”Apa yang Anda katakan, Nyonya?” kapten bertanya.
Ain Iba menarik napas dan tersenyum dengan sopan.
”Suami saya benar,” katanya. ”Saya tidak mengerti tentang perang. Saya mohon maaf karena menjadi sentimental di meja makan.”
Kapten diam dan memandang wajah Ain Iba. Hening sejenak, dan kapten tertawa.
”Anda adalah tuan rumah yang baik,” katanya. ”Tak perlu minta maaf. Istri saya juga susah memahami perang ini. Perempuan… terlalu perasa.”
Semua di dalam ruangan ikut tertawa. Ain Iba mengangkat bahu dan memanggil Firmus, memintanya mengisi kembali gelas-gelas sopi yang telah kosong.
Ia mengambil salah satu gelas.
”Untuk kemenangan kita,” katanya sambil mengangkat gelas, lalu meneguknya sampai tandas.
Semua bersulang dan suasana kembali riuh. Masing-masing ingin bicara. Kapten menjelaskan lagi tentang pentingnya menyelamatkan Timor dari Jepang, tetapi ia terlalu mabuk sehingga topiknya berubah-ubah antara perang dan berpindah ke istrinya di Australia yang perasa seperti Ain Iba, yang tidak tahu apa-apa soal perang.
Ain Iba mendengarkan dan begitu kapten memberi jeda, ia meminta mereka bersulang lagi. Tawa Ain Iba dan ajakannya bersulang membuat tentara-tentara itu banyak minum. Mereka telah lama tidak disemangati oleh wanita terpelajar, dan itu kali pertama mereka minum alkohol yang dituakan dengan rempah. Mereka segera mabuk dan sisa perjalanan membuat mereka melayu. Am Kolo sendiri ikut mabuk bersama tamu-tamunya, membungkuk di kursi ia seperti udang.
Saat kapten berhenti bicara dan menutup matanya, Ain Iba bangun dan berjalan ke arah Firmus.
”Panggil dua orang yang kuat,” katanya, ”Sanlain, Meni… Neno juga boleh.”
Firmus mengira orang-orang yang kuat dibutuhkan untuk membopong orang-orang yang mabuk. Tetapi saat ia membawa mereka datang, Ain Iba berbisik: ”Tutup pintu dan ambil kelewang. Anjing-anjing ini membuang kayu-kayu cendana dan memaksa saya untuk bersimpati pada perang mereka.”
Apa yang selanjutnya terjadi adalah pembantaian yang tidak Firmus ingat dengan baik –atau lebih tepatnya, yang coba ia lupakan dari hidupnya. Ain Iba menikam leher prajurit yang duduk di sudut, tetapi si pesakitan yang tidak terlalu mabuk terkaget dan berteriak, menyadarkan yang lain. Dengan sempoyongan tentara-tentara itu berusaha membela dirinya.
Firmus ingat ia bergulingan bersama sang kapten. Berengsek itu kuat seperti kuda meski sedang mabuk. Firmus jatuh dan kapten mencekik lehernya. Ia telah siap mati saat melihat Ain Iba menggorok leher sang kapten. Ia bisa mendengar sayup Am Kolo bergumam: ”Iba, Iba, apa yang kau lakukan pada tamu-tamu kita?”
Darah kapten tumpah di mulutnya, kental dan anyir seperti darah babi yang ia sembelih sore tadi. Kapten tak akan pernah tiba di Dili. (*)
Invasi Jepang ke Timor membunuh 151 tentara Australia, 300-an tentara Belanda, 75 tentara Portugal, 4.000 tentara Jepang, dan setidaknya 100.000 penduduk sipil Timor. Ain Iba, Am Kolo, dan semua pengikutnya ditangkap pemerintah Jepang pada April 1943.
