
BUMDes Tunggak Jati Japan, Desa Japan, Kecamatan Dawe, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menjajakan kopi dan beragam produk UMKM desa selama enam hari pelatihan BUMDes ke-7 tahun 2023. (ANTARA/HO-Djarum.)
JawaPos.com-Sebanyak 14 Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) di Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, mendapatkan pelatihan dasar pengelolaan usaha. Pelatihan itu dilakukan dengan tujuan agar BUMDes bisa memaksimalkan potensi desa guna menumbuhkan perekonomian masyarakatnya.
"Pelatihan yang diikuti para pengelola BUMDes, kepala desa dan perwakilan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) dari 14 desa itu merupakan angkatan yang ketujuh," kata Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Kabupaten Kudus Adi Sadhono di Kudus, Senin.
Ia menyampaikan apresiasinya terhadap PT Djarum yang menyelenggarakan pelatihan dasar pengelolaan BUMDes, sehingga para pengelolanya nanti benar-benar semakin profesional sehingga bisa memberikan manfaat bagi pemerintahan desa maupun masyarakat.
Deputy General Manager Corporate Communications PT Djarum Achmad Budiharto menambahkan bahwa pelatihan bertujuan agar para pengurusnya nanti mampu mengeksekusi rencana bisnis, memantapkan kelembagaan, sampai membuat laporan keuangan yang akuntabel dan sesuai standar sehingga pada akhirnya BUMDes tersebut dapat menghadirkan manfaat yang maksimal bagi warganya.
Pelatihan yang diikuti para pengelola BUMDes dari 14 desa dari enam kecamatan di Kabupaten Kudus tersebut, digelar di Wisma Karyawan Djarum Kudus selama enam hari yang diselenggarakan setiap akhir pekan mulai dari Sabtu (4/2) hingga Minggu (19/2).
Di antaranya, dari Desa Soco, Ternadi, dan Cendono (Kecamatan Dawe), Desa Peganjaran, Dersalam, dan Gondangmanis (Kecamatan Bae), Desa Kaliputu (Kecamatan Kota), Desa Kirik, Mejobo, dan Payaman (Kecamatan Mejobo), Desa Hadipolo, Honggosoco, dan Klaling (Kecamatan Jekulo) serta Desa Tanjung Karang (Kecamatan Jati).
Pemateri yang dihadirkan, yakni dari Direktorat Jenderal Pengembangan Ekonomi dan Investasi Desa, Kemendesa PDTT, Dinas Pemerintahan Masyarakat Desa Kabupaten Kudus, Tenaga Ahli Pendampingan Desa, Bank Jateng, dan Lokadata.
Selain itu, peserta juga mendapatkan beragam materi mulai dari pemetaan potensi desa, pembuatan analisis kelayakan bisnis, sampai pembuatan program kerja. Sedangkan pada akhir pelatihan peserta bersama-sama membahas rancangan AD/ART, kemudian serentak mendaftarkan nama BUMDes ke Kementerian Desa, Pembangunan Daerah Tertinggal, dan Transmigrasi secara daring.
Ema Widiastuti, salah satu peserta dari Desa Klaling, Kecamatan Jekulo, mengakui betapa pentingnya mengikuti pelatihan sehingga bisa memetakan potensi desa. "Kami berkelompok juga diminta melakukan pemetaan potensi desa kami. Ternyata banyak potensi desa yang tergali melalui pelatihan ini, untuk selanjutnya akan kami rancang sebagai rencana usaha BUMDes ke depan," ujarnya.
Pelatihan tersebut juga diramaikan dengan lapak dari beberapa BUMDes dampingan yang bertajuk "Lapak BUMDes Kudus" yang diikuti enam BUMDes. Di antaranya BUMDes Pedawang, Tumpangkrasak, Panjang, Wonosoco, Krandon, dan Japan menjajakan produk-produk unggulan masing-masing.
Sejak tahun 2019, dari total 75 BUMDes di Kabupaten Kudus saat ini, 49 di antaranya telah mendapatkan pelatihan tentang pengembangan BUMDes dari PT Djarum. Bahkan, pada 2022, sebanyak 27 BUMDes yang mendapat pendampingan berhasil memiliki sertifikat badan hukum. (*)
