
Sekjen Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia Ferryal Basbeth saat ditemui JawaPos.com di Universitas Airlangga, Sabtu (22/9).
JawaPos.com - Kasus kematian Kelasi Kepala (KLK) Achmad Halim Mardyansyah memasuki proses otopsi, Sabtu (22/9). Saat ini, prosesnya belum membuahkan hasil. Ahli forensik pun berpendapat prosesnya akan sulit dan lama.
Faktor utama yang menjadi hambatan adalah terkait waktu kematian. Pasalnya jenazah korban yang ditemukan tewas tergantung di halaman belakang Detasemen Perbekalan Pangkalan Marinir (Denbek Lanmar) Karang Pilang sudah berumur 2 minggu lebih.
Sekjen Asosiasi Ilmu Forensik Indonesia Ferryal Basbeth mengatakan, dengan rentan waktu 2 minggu, tentu jenazah sudah mengalami pembusukan. Proses pembusukan itu yang akan menyulitkan upaya deteksi bekas luka memar dan lebam yang terlihat di tubuh jenazah Halim.
"Kondisi jenazahnya pun berbeda jika ditemukan hanya beberapa jam selang kematian. Nah, itu perlu pemeriksaan patologi anatomi yang mendalam," kata Ferryal saat ditemui JawaPos.com di Universitas Airlangga, Sabtu (22/9).
Menurutnya, tanda luka dan lebam di tubuh korban, dapat dipastikan terjadi saat korban masih hidup. Hal itu merupakan pertahanan atau reaksi tubuh yang masih bernyawa saat terkena trauma fisik.
Beberapa bentuk pertahanan tubuh yang akan melawan saat terjadi trauma misalnya, pembuluh darah pecah, pendarahan dalam, atau bengkak. Namun, Ferryal tidak mengatakan jika ada kemungkinan si korban disiksa dahulu lalu tewas atau sebaliknya.
"Kalau sudah mati, ditabok pun, nggak akan ada reaksi (bekas) yang muncul. Tapi kalau saat tewas masih dalam golden periode (masa saat sel tubuh masih hidup meski nyawa sudah melayang) masih mungkin ada bekas trauma di tubuh," jelas Ferryal.
Oleh sebab itu, Ferryal menilai hasil otopsinya pun akan semakin sulit untuk dijadikan bahan pertimbangan. Termasuk, hasil otopsi yang akan menentukan penyebab kematian Halim. "Karena, hasil otopsi bukan segalanya. Olah tempat kejadian perkaranya (TKP) seperti apa. Karena jenazah yang sudah mengalami pembusukan, akan susah otopsinya," katanya.
Terkait tewasnya Halim dengan posisi tergantung di pohon bambu, Ferryal tidak menilai apakah Halim murni tewas karena gantung diri. Menurutnya, aksi gantung diri dengan posisi duduk sekalipun juga dapat menyebabkan kematian.
Katanya, butuh jeratan tali di leher dengan beban seberat minimal 11 lbs atau 4,98 kg untuk menekan vena yugolaris dan trakhea (jalan nafas). Kedua, aksi bunuh diri pada umumnya perlu percobaan berkali-kali.
"Mau duduk kek, mau tiduran kek. Nggak harus gondal-gandul (tergantung menjulur kebawah). Jadi yang harus diinvestigasi, apakah si korban, ada usaha bunuh diri?," tuturnya.
Senada, Dokter Spesialis Forensik RSU dr. Drajad Prawiranegara Serang, Banten dr. Budi Suhendar mengatakan, proses otopsi terhadap jenazah Halim akan sulit. Apalagi jika ditemukan bekas luka dan lebam setelah waktu yang lama.
"Sekali proses otopsi saja mungkin tidak cukup. Mungkin akan butuh dua kali otopsi untuk menggali hal-hal yang belum terungkap pada otopsi pertama," kata Budi.
Menurutnya, seseorang yang tewas tergantung, perlu pemeriksaan terhadap bagian tubuh jenazahnya di daerah sekitar tali gantungan. Apakah tali tersebut menyebabkan seseorang kehabisan nafas lalu meninggal.
Selain itu, proses otopsi juga harus dapat mengungkap mekanisme dan alur kematian jenazah. Apakah, korban disiksa terlebih dahulu lalu digantung, atau sebaliknya.
"Artinya, kalau murni gantung diri, seseorang tidak akan melakukan perlawanan. Berbeda jika seseorang dipaksa atau dianiaya dahulu sebelum digantung. Kecuali, si korban dilemahkan dahulu. Entah dibius atau dibuat pingsan," jelasnya.
Jangan sampai ketinggalan berita hari ini!
Jadilah yang pertama tahu. Gabung channel kami sekarang!

Bikin Geger Lagi, 244 Siswa Hingga Guru di Batang Tumbang Usai Santap MBG
Prediksi Skor Andorra vs Malta di Liga Nations UEFA: The Reds Menang Tipis di Encamp
Prediksi Skor Laos vs Brunei di FIFA ASEAN Cup: Thim Xad Menang di Laga Perdana
Prediksi Skor Norwegia vs Denmark di Liga Nations UEFA: The Vikings Menang Tipis di Ullevaal Stadion
Prediksi Skor Austria vs Israel di Liga Nations UEFA: Das Team Menang Telak di Raiffeisen Arena
Prediksi Skor Timnas Jepang U-23 vs Thailand U-23 di Asian Games 2026
Prediksi Skor Liechtenstein vs Lithuania di Liga Nations UEFA: Rinktinė Menang di Kandang Lawan
Prediksi Skor Myanmar vs Timor Leste di FIFA ASEAN Cup: Singa Asia Gasak Lawan di Laga Perdana
Prediksi Skor Jepang vs Uruguay: Ko Itakura Targetkan Kemenangan
Prediksi Skor Kosovo vs Irlandia di Liga Nations UEFA: The Green Army Curi Poin di Fadil Vokrri

Jawa PosTelah diverifikasi oleh Dewan PersSertifikat Nomor 1055/DP-Verifikasi/K/XII/2022