Logo JawaPos
Author avatar - Image
08 Agustus 2025, 14.51 WIB

Menilik 8 Pengalaman Masa Kecil Penyebab Seseorang Sering Ucap 'Maaf'

Ilustrasi seseorang yang menunjukkan gestur meminta maaf, tetapi ekspresi wajahnya terlihat bingung dan sedih./Freepik - Image

Ilustrasi seseorang yang menunjukkan gestur meminta maaf, tetapi ekspresi wajahnya terlihat bingung dan sedih./Freepik

JawaPos.com - Terkadang kita bertemu orang yang terlalu sering mengucapkan kata maaf, bahkan saat tidak perlu. Perilaku ini sering terlihat sebagai bentuk kesopanan yang berlebihan. Namun, kebiasaan ini sering kali berakar dari pengalaman masa lalu yang tidak disadari.

Melansir dari Geediting.com Jumat (8/8), kebiasaan sering meminta maaf berakar pada delapan pengalaman masa kecil.

Memahami ini bisa menjadi kunci untuk mengubah kebiasaan tersebut. Mari kita ulas bersama beberapa pengalaman masa kecil yang memengaruhinya.

1. Sering Disalahkan Saat Anak-anak

Orang-orang ini belajar meminta maaf sebagai mekanisme bertahan hidup sejak kecil. Mereka sering kali disalahkan atas hal-hal yang bukan kesalahan mereka. Kata "maaf" menjadi cara meredakan ketegangan dan menghindari konflik.

Mereka memakai kata ini secara otomatis untuk mengendalikan situasi. Hal itu dilakukan supaya mereka tidak dianggap sebagai sumber masalah.

2. Kerap Menjadi Penengah Keluarga

Seseorang ini mengambil peran sebagai penengah konflik di antara anggota keluarganya. Mereka akan menenangkan suasana di tengah perselisihan yang terjadi. Kata "maaf" menjadi cara cepat mereka mengembalikan kedamaian.

Hal itu dilakukan karena mereka tidak ingin terjadi konflik dalam hubungan. Menjadi penengah membuat mereka merasa bertanggung jawab atas keharmonisan.

3. Dipaksa untuk "Terlihat dan Tidak Terdengar"

Pola asuh ini membuat mereka percaya bahwa suara dan opini mereka tidak penting. Mereka meyakini bahwa pendapatnya tidak berarti. Mereka menggunakan permintaan maaf untuk membuat diri mereka tidak menonjol atau mengganggu.

Hal ini membentuk kebiasaan untuk mengecilkan diri. Mereka melakukannya supaya kehadiran mereka tidak membebani orang lain.

4. Dibesarkan di Keluarga Berstandar Tinggi

Tekanan besar untuk berhasil sejak masa kanak-kanak akan memicu ketakutan berlebih pada kegagalan. Rasa takut ini membuat mereka meminta maaf atas setiap kesalahan kecil. Mereka juga akan merasa tidak sempurna.

Permintaan maaf ini adalah cara mereka mengelola tekanan. Ini adalah bentuk mekanisme defensif atas ketidaksempurnaan yang mereka rasakan.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore