← Beranda

Mengenal Laik Abdullah, Kolektor yang Pernah ‘Begal’ Jersey Persela Milik Orang saat Dipakai Beli Pentol

Alvin Fahrizal BayyuniSenin, 26 Februari 2024 | 00.01 WIB
Soaok Laik Abdullah. (Istimewa/Alvin Fahrizal)

JawaPos.com – Selain menjadi komoditi untuk dikoleksi, jersey juga bisa menjadi outfit untuk sehari-hari. Hal ini dimanfaatkan oleh Laik Abdullah, seorang kolektor jersey yang pernah ‘membegal’ koleksi milik orang lain saat sedang dipakai.

Laik sendiri memulai kiprahnya sebagai kolektor jersey sejak tahun 2013, dengan mengoleksi jersey kw. Namun ia mengaku sudah pernah memiliki jersey sejak tahun 1998, ketika Piala Dunia berlangsung di Prancis.

“Kalau ngoleksinya mulai sekitar tahun 2013, masih yang kw-kw. Tapi jauh sebelum itu sudah pernah punya jersey, tepatnya di tahun 1998, waktu demam Piala Dunia Prancis 98,” kata Laik kepada JawaPos.

Baca Juga: Mengenal Irfan Nuruzzaman, Guru Sekolah Sekaligus Kolektor Jersey Liga Indonesia yang Asetnya Hampir Semiliar

Meski seorang fans AC Milan, jersey pertama yang dimiliki oleh Laik adalah Juventus musim 1998, yang diproduksi oleh apparel Kappa, dan identik dengan Zinedine Zidane.

Diketahui, Laik merupakan ketua Komunitas Jersey Lamongan yang telah berdiri sejak tahun 2020, di dalam komunitas tersebut terdapat banyak kolektor, terutama untuk jersey Persela Lamongan.

Meski begitu, justru jersey matchworn atau bekas pakai pemain yang dimiliki pria asal Sugihan, Solokuro, Lamongan itu adalah jersey Persikabo away tahun 2013, tepatnya bekas pakai Anwarudin.

Baca Juga: Rayakan Pesta Demokrasi, Anggota KPPS di Kabupaten Bantul Kompak Pakai Dresscode Jersey Timnas Indonesia

BEGAL JERSEY ORANG LAIN

Momen unik dari ketua sekaligus salah satu pendiri Komunitas Jersey Lamongan tersebut adalah saat ia ‘membegal’ jersey milik orang lain yang sedang dipakai untuk beli pentol di pinggir jalan.

“Waktu lagi naik motor di Lamongan Kota, gak sengaja lihat ada orang lagi beli pentol pakai Jersey Persela MW Bona Simanjuntak,” ceritanya.

Refleks, Laik lalu berpikir bagaimana bisa mendapatkan jersey tersebut, hingga akhirnya ia memutuskan untuk nekat mendekati si pemakai jersey.

Baca Juga: Catatan Persib Bandung vs Persis Solo: Pakai Jersey Spesial, Belum Pernah Menang Sejak Ganti Tahun Lahir

“Demi bisa dapat jersey Persela itu, aku sampe pura-pura beli pentol, sekalian PDKT. Yaa meskipun negosiasinya alot, akhirnya jersey itu jadi milik saya,” lanjut Laik.

Saat negosiasi hampir deal, Laik menerangkan bahwa si pemilik jersey sempat mampir ke rumah rekannya untuk mengambil baju ganti.

“Waktu itu, proses transaksi, termasuk negosiasi sampe bayar, semua terjadi di pinggir jalan raya, tanpa persiapan apapun. Sebelum deal orangnya ke rumah temen dulu buat ambil kaus ganti,” sambungnya.

Salah satu hal yang membuat Laik begitu nekat adalah jersey tersebut tidak dijual secara umum, dan hanya sedikit yang memilikinya. Sehingga, siapa saja yang punya jubah perang Persela tersebut, bisa dipastikan bahwa itu jersey matchworn atau bekas pakai sang pemain.

Baca Juga: Menelusuri Jejak Jersey Persebaya Surabaya: Jejak Sejarah Era Kolonial Belanda dalam Warna dan Dinamika

Laik yang merupakan ketua Komunitas Jersey Lamongan, tentu memiliki banyak koleksi dari Jersey Persela Lamongan, mulai dari saat berada di Divisi 1 (kini Liga 2) hingga promosi ke Divisi Utama (Liga 1). Hal ini diutarakan sebagai warga Lamongan, yang menjadi tempatnya tumbuh dan berkembang.

“Saya ngoleksi jersey Persela karena tim kota kelahiran saya, identitas kebanggaan warga Lamongan. Yang paling berkesan, bisa punya matchworn Persela saat promosi ke divisi utama 2003,” katanya lagi.

Ia melanjutkan, jersey Persela 2003 tidak dijual bebas, “Jersey itu gak dijual bebas, makanya berkesan banget bisa punya jersey itu,” ujarnya.

Baca Juga: Jersey Persebaya Surabaya: Memaknai Warna, Sejarah, dan Kolektibilitas Melalui Diskusi yang Menginspirasi

Sebagai kolektor, pria yang bekerja sebagai pekerja swasta itu memiliki jersey-jersey lawan yang sulit didapatkan karena tidak dijual secara bebas di pasaran, sehingga butuh effort lebih untuk mendapatkannya, tentu dengan harga yang tinggi pula.

“Yang paling sulit didapat tentu saja jersey matchworn klub Liga Indonesia sebelum tahun 2010-an, mengingat di era tahun tersebut hampir tidak ada klub yang menjual jersey originalnya kepada suporter atau masyarakat umum,” ujar Laik pada JawaPos.

“Kalaupun ada itu pun hanya jersey template, kecuali di era liga indonesia saat disuplai apparel reebok 1999-2000),” sambung bapak satu anak tersebut.

Baca Juga: Indimix Fest 2: Melintasi Warna-warni Sejarah Jersey Persebaya Surabaya hingga Menjadi Tren Fesyen Modern

Sebagai pecinta jersey, Laik juga kerap ‘meracuni’ anaknya dengan zirah perang sepak bola tersebut, dengan cara membelikannya jersey-jersey dan dipakaikannya untuk keseharian.

EDITOR: Nicolaus Ade