
RAN saat tampil di Jazz Gunung 2025 series 1 di Jiwa Jawa Amphiteater, Probolinggo. (Diar Candra/JawaPos.com)
JawaPos.com – Grup pop kenamaan RAN menjadi penampil utama dalam gelaran BRI Jazz Gunung 2025 series 1 yang digelar di Jiwa Jawa Amphiteater, Probolinggo, Sabtu malam (19/7). Tampil selama hampir satu jam, trio Rayi, Asta, dan Nino sukses menghibur ratusan penonton yang memadati kawasan alam terbuka di kaki Gunung Bromo.
Jazz Gunung 2025 series 1 juga dimeriahkan oleh sejumlah musisi ternama seperti Karimata, Kua Etnika, Love Is, dan Jamie Aditya & The Mezzrollers. Namun, momen puncak malam itu tak lain adalah ketika RAN naik ke panggung tepat pukul 21.54 WIB.
Mereka membuka penampilan dengan semangat lewat lagu "Hey, Tunggu Dulu" yang langsung disambut riuh oleh para penonton. Dilanjutkan dengan deretan lagu-lagu populer seperti “Selamat Pagi”, “Jadi Gila”, dan “Bersepeda” yang membuat suasana hangat meski udara di Bromo cukup dingin.
Kejutan hadir saat RAN membawakan lagu dari album terbaru mereka Teater Nestapa berjudul “Masih Takut Mencinta”. Lagu tersebut dibawakan untuk pertama kalinya secara live di atas panggung, menjadikan Jazz Gunung 2025 sebagai momen eksklusif bagi para penggemar.
“Lagu Masih Takut Mencita ini kami bawakan perdana secara live di Jazz Gunung. Semoga penampilan perdana kami di acara ini bisa menghibur teman-teman semua,” ucap vokalis RAN, Nino, di tengah penampilan mereka.
Usai lagu baru tersebut, RAN kembali memanaskan suasana dengan membawakan “Hanya Untukmu”, “Tunjukkan”, dan “Nothing Last Forever”. Menjelang pukul 22.45 WIB, suasana menjadi syahdu ketika mereka menyanyikan “Dekat di Hati” yang disambut sing-a-long penonton.
Penampilan RAN malam itu ditutup dengan lagu nostalgia dari album perdana mereka, “Pandangan Pertama”, yang langsung membangkitkan kenangan dan tepuk tangan panjang dari penonton.
Tahun ini, Jazz Gunung hadir dengan konsep baru: dua series yang digelar dua akhir pekan berturut-turut. Series kedua akan berlangsung pada Jumat (25/7) dan Sabtu (26/7) dengan deretan musisi seperti Monita Tahalea, Lorjhu’ dari Madura, Tohpati Ethnomission, Rouge, dan Sal Priadi.
Pendiri Jazz Gunung, Sigit Pramono, menyampaikan bahwa perubahan format ini merupakan respons atas masukan publik. Konsep dua akhir pekan diharapkan memberi ruang lebih luas bagi penikmat musik dan seniman lintas disiplin.
“Jadi, untuk 2025 ini kita ujicobakan di akhir pekan selama dua minggu. Selain itu, tahun ini selain pementasan musik juga ada pameran karya dari siswa-siswa ISI Jogjakarta serta pementasan teater boneka Papermoon Puppets Theatre,” jelas Sigit.
Jazz Gunung 2025 bukan hanya konser musik, tetapi juga perayaan budaya, seni, dan alam yang menyatu dalam atmosfer khas pegunungan Bromo.
