← Beranda

Orang yang Merasa Hancur dalam Hidup Kerap Kali Menampilkan 7 Perilaku Ini Menurut Psikologi

Mohammad Maulana IqbalSelasa, 11 Februari 2025 | 23.00 WIB
Perilaku seseorang sedang hancur dalam hidup menurut psikologi./Freepik.

JawaPos.com – Ketika seseorang merasa hancur dalam hidup, perasaan itu sering kali tidak diungkapkan secara langsung.

Alih-alih mengatakan bahwa mereka sedang berada dalam kondisi mental yang rapuh, mereka menunjukkan perilaku tertentu yang mencerminkan rasa sakit dan kelelahan emosional yang mendalam.

Menurut psikologi, orang yang merasa hidup sedang hancur cenderung mengalami perubahan dalam pola pikir, emosi, dan interaksi sosial.

Jika Anda atau seseorang yang Anda kenal mulai menunjukkan perilaku tertentu yang tampak tidak biasa, bisa jadi itu adalah sinyal dari kondisi mental yang sedang memburuk.

Baca Juga: Jika Anda Menggunakan 10 Frasa Ini Saat Mengobrol, Anda Akan Menjadi Orang yang Mudah Disukai Oleh Lawan Bicara Anda, Menurut Psikologi

Dilansir dari geediting.com pada Selasa (11/2), diterangkan bahwa terdapat tujuh perilaku yang menunjukkan seseorang sedang merasa hancur dalam hidup yang mereka jalani menurut psikologi.

  1. Menarik diri dari lingkungan sosial

Ketika tekanan hidup terasa begitu berat, seseorang cenderung memilih untuk mengisolasi diri sebagai jalan termudah. Kelelahan mental membuat mereka merasa tidak memiliki energi yang cukup untuk bersosialisasi, ditambah ketakutan akan ketidakpahaman orang lain terhadap kondisi yang dialami.

Penarikan diri ini dimulai dari membatalkan janji bertemu, mengabaikan pesan, hingga meyakinkan diri bahwa lebih baik sendirian. Semakin lama seseorang mengasingkan diri, semakin sulit pula baginya untuk kembali membuka diri dan terhubung dengan orang lain.

Baca Juga: Terungkap Penyebab Pemain Timnas Indonesia Sandy Walsh Hengkang dari KV Mechelen dan Pilih Yokohama Marinos

  1. Menolak bantuan yang ditawarkan

Keengganan menerima bantuan sering kali bukan berasal dari rasa gengsi, melainkan kekhawatiran menjadi beban bagi orang lain. Mereka biasanya akan menolak dengan halus menggunakan kalimat “Saya baik-baik saja” atau “Saya bisa mengatasinya sendiri”, bahkan ketika mereka sedang berada di titik terendah.

Penolakan ini juga muncul dari pemikiran bahwa menerima bantuan adalah bentuk pengakuan atas kelemahan diri. Padahal sejatinya, membuka diri untuk menerima bantuan justru menunjukkan bahwa kita adalah manusia yang wajar membutuhkan dukungan orang lain.

  1. Meremehkan masalah yang dihadapi

Orang yang merasa terpuruk seringkali menyepelekan masalah yang dihadapi dengan mengatakan “Ini bukan apa-apa” atau mengubahnya menjadi bahan lelucon ringan. Mereka cenderung menganggap kesulitan yang dialami sebagai hal sepele yang tidak perlu dipikirkan secara serius, bahkan sampai meyakinkan diri sendiri bahwa semua baik-baik saja.

Rasa sakit yang terus-menerus dipendam akan mempengaruhi cara berpikir, bereaksi, dan menjalani kehidupan sehari-hari. Semakin lama seseorang menyangkal rasa sakitnya, semakin sulit pula proses penyembuhan yang harus dijalani.

  1. Kehilangan kepekaan emosi

Kondisi mati rasa secara emosional justru lebih menakutkan dibandingkan perasaan sedih yang intens. Hari-hari terasa mengabur tanpa makna, aktivitas yang dulu menyenangkan kini terasa hambar, dan percakapan terasa seperti dialog kosong yang terjadi dengan orang lain.

Mereka bukannya tidak peduli, tetapi energi untuk merasakan emosi sudah terkuras habis. Interaksi sosial menjadi sekadar rutinitas mekanis: tersenyum saat diperlukan, menjawab “baik” ketika ditanya kabar, sambil dalam hati bertanya-tanya kapan bisa kembali merasakan emosi yang nyata.

  1. Kesulitan mengambil keputusan

Bahkan untuk hal-hal sederhana seperti memilih menu makan malam atau membalas pesan sekarang atau nanti bisa menjadi sangat membebani. Kondisi ini terjadi karena otak sudah terlalu lelah menanggung beban mental yang berat, sehingga keputusan kecil pun terasa menyita energi yang besar.

Riset menunjukkan bahwa stres berkepanjangan dan kelelahan emosional dapat mengecilkan prefrontal cortex, bagian otak yang bertanggung jawab atas pengambilan keputusan. Akibatnya, mereka cenderung ragu-ragu, terlalu banyak berpikir, atau bahkan menghindari pengambilan keputusan sama sekali.

  1. Terlalu sering meminta maaf

Kata “maaf” menjadi seperti reflek yang keluar untuk hal-hal yang sebenarnya tidak memerlukan permintaan maaf. Mulai dari respons yang terlambat, berbicara tentang diri sendiri lebih dari semenit, hingga sekedar mengambil ruang dalam sebuah percakapan, mereka merasa perlu meminta maaf.

Perilaku ini muncul dari keyakinan bahwa kehadiran mereka adalah gangguan, perasaan mereka terlalu berlebihan, dan kesulitan yang mereka hadapi hanya membebani orang lain. Padahal sejatinya, mereka tidak perlu meminta maaf atas keberadaan dirinya sebagai manusia yang normal.

  1. Merasa tidak ada yang memperhatikan

Mereka meyakini bahwa mampu menyembunyikan pergulatan batin dengan baik dari orang-orang di sekitarnya. Keputusasaan di mata mereka, keraguan dalam suara mereka, atau senyum yang dipaksakan, dianggap tidak terlihat oleh siapapun.

Mereka berasumsi tidak ada yang menyadari ketika mereka mulai menjauh, ketika pesan mereka menjadi lebih singkat, atau ketika mereka tidak lagi hadir seperti biasanya. Namun kenyataannya, orang-orang di sekitar mereka lebih peka dan memperhatikan perubahan ini lebih dari yang mereka sadari.

EDITOR: Hanny Suwindari