← Beranda

Mengenal Tiga Kategori Generasi Sandwich, Begini Cara Memutus Rantainya Agar Tidak Lagi Terbebani!

Hildaniar NovitasariSelasa, 12 Desember 2023 | 04.56 WIB
Ilustrasi – Generasi Sandwich yang terbagi menjadi tiga kategori. (Pexels)

JawaPos.com – Istilah generasi sandwich hingga saat ini masih sering diperbincangkan, terutama di kalangan milenial. Kata tersebut diperkenalkan oleh seorang Profesional sekaligus Direktur Praktikum University Kentucky, Lexington, Amerika Serikat bernama Dorothy A. Miller pada tahun 1981.

Generasi sandwich adalah generasi orang dewasa yang harus menanggung hidup tiga generasi yaitu orang tuanya, diri sendiri, dan anaknya. Ibarat seperti sandwich, generasi ini berada di antara dua generasi lainnya.

Kondisi tersebut dianalogikan seperti sandwich dimana sepotong daging terhimpit oleh 2 buah roti. Roti tersebut diibaratkan sebagai orang tua (generasi atas) dan anak (generasi bawah), sedangkan isi utama sandwich berupa daging (diri sendiri) terhimpit oleh roti.

Baca Juga: 38 Persen Tenaga Kerja Formal 'Generasi Sandwich', Menko PMK: PHK Berpotensi Timbulkan Kemiskinan Massal

Generasi sandwich umumnya terjadi pada seseorang baik pria maupun wanita. Biasanya mereka berusia sekitar 30 hingga 40 tahun. Namun ada pula yang menyebutkan rentang umur antara 30 hingga 50 tahun.

Disebutkan ada tiga kategori generasi sandwich berdasarkan perannya, hal ini disampaikan oleh seorang Aging and Elder Care Expert bernama Carol Abaya. Ketiga kategori itu antara lain.

1. The Traditional Sandwich Generation

Orang dewasa yang berusia 40 hingga 50 tahun, mereka dihimpit oleh beban orang tua berusia lanjut dan anak-anak yang masih membutuhkan finansial.

Baca Juga: 23,71 Persen Generasi Sandwich Tinggal di Jawa Timur Pengaruhi Pasar Asuransi

2. The Club Sandwich Generation

Orang dewasa berusia sekitar 30 hingga 60 tahun yang dihimpit oleh beban orang tua, anak, cucu (jika sudah punya), dan atau nenek kakek (jika masih hidup).

3. The Open Faced Sandwich Generation

Siapapun orang yang terlibat dalam pengasuhan orang lanjut usia, namun bukan merupakan pekerjaan profesionalnya (seperti pengurus panti jompo) termasuk ke dalam kategori ini.

Melihat data tersebut, maka sudah bisa kita rasakan bagaimana beban yang harus dipikul oleh generasi sandwich ini. Lalu kira-kira apa yang menyebabkan adanya generasi ini?

Melansir dari laman OJK, Senin (11/12), Ada beberapa faktor yang melatarbelakangi hal tersebut, namun pada umumnya ini terjadi karena kegagalan finansial orang tua.

Orang tua yang tidak memiliki perencanaan finansial yang baik untuk masa tuanya, maka bisa berpotensi besar untuk membuat sang anak menjadi generasi sandwich berikutnya.

Hal ini ditakutkan membuat sang anak memiliki pola pikir yang sama, yakni tidak mandiri dan bergantung sepenuhnya kepada anak saat datang masa tua, tanpa mau mengatur finansial. Hingga akhirnya generasi ini berlanjut begitu seterusnya.

Baca Juga: Terjepit di Antara Dua Generasi, Sandwich Generation Wajib Tahu Cara Mengelola Finansial

Lantas bagaimana cara memutuskan rantai generasi sandwich tersebut? untuk memutus generasi sandwich bukanlah hal yang mudah dilakukan. Perlu adanya konsistensi dan usaha yang lebih besar.

Berikut ini langkah-langkah yang bisa dilakukan agar kamu dan generasi selanjutnya tidak lagi merasakan beban berat menjadi generasi sandwich.

Miliki Tabungan Rencana

Tabungan rencana merupakan tabungan dengan setoran rutin secara bulanan yang memiliki fasilitas auto debit dari rekening sumber ke rekening tabungan rencana, dan penarikannya dibatasi sesuai ketentuan bank.

Baca Juga: Budget Ngepas, Berikut Tips Membeli Mobil Impian bagi Generasi Sandwich

Tabungan rencana memiliki banyak jenisnya mulai dari pernikahan, haji atau umroh, pendidikan, wisata, dan lain sebagainya. Jadi apapun tujuanmu di masa depan, kamu dapat mengelola keuangan dengan bijak dan disiplin dengan tabungan rencana.

Menyiapkan Program Pensiun

Program pensiun merupakan langkah awal yang baik sebagai bukti sayang kamu kelak kepada anak, dan berguna untuk menjamin kehidupan masa tua sehingga nantinya dapat meminimalisir terjadinya generasi sandwich pada anak.

Sama dengan menabung, kamu bisa membayar sejumlah uang yang sudah ditetapkan secara rutin dan hanya bisa diambil ketika memasuki usia pensiun.

Baca Juga: Menko PMK Muhadjir Sebut Mayoritas Buruh Indonesia adalah Generasi Sandwich

Saat ini, program pensiun dapat dimiliki oleh siapapun, tidak hanya Aparatur Sipil Negara (ASN) yang memiliki program pensiun dari pemerintah. Jika kamu bukan ASN, maka kamu bisa menyiapkan program pensiun dengan mendaftarkan diri ke Dana Pensiun Lembaga Keuangan (DPLK).

Miliki Asuransi Kesehatan

Semakin bertambahnya usia, ketahanan tubuh akan semakin mudah turun yang berimbas pada kesehatan. Hal ini harus benar-benar kamu perhatikan dengan membuat asuransi kesehatan baik untuk diri sendiri, orang tua, maupun anak.

Dengan memiliki asuransi ini kamu akan mendapatkan jaminan kesehatan atas rawat inap, rawat jalan, pengobatan untuk gigi, penggantian kacamata, melahirkan sesuai dengan batasan yang dijamin polis.

Kurangi Gaya Hidup Konsumtif

Konsumtif atau tidaknya gaya hidup seseorang memang relatif dan tergantung dengan kemampuan seseorang. Namun tidak ada salahnya jika mengurangi gaya hidup konsumtif yang dirasa tidak perlu.

Baca Juga: Mayoritas Generasi Sandwich Kurang Perencaaan Keuangan

Langkah pertama sebelum mengurangi gaya hidup berlebih adalah dengan menentukan prioritas dan membedakan antara kebutuhan dan keinginan.

Menyiapkan Dana Pendidikan Anak

Dana pendidikan anak tak kalah penting sebagai upaya memutus mata rantai ini. Dengan asuransi pendidikan, orang tua dapat menyiapkan biaya pendidikan anak untuk masa depan dimulai dari sekarang dan tentu saja ini akan meringankan beban orang tua dikemudian hari.

Sebelum memilih asuransi pendidikan, pastikan kamu memperkirakan perhitungan biaya pendidikan anak secara detail, seperti akan memilih sekolah di mana yang disesuaikan dengan kemampuan finansial.

Baca Juga: Kelas Menengah Jadi Generasi Sandwich, Perlu Melek Literasi Keuangan

Mengajarkan Anak Untuk Menabung Dan Belajar Mandiri Secara Finansial

Perilaku gemar menabung harus diajarkan sedini mungkin oleh siapapun. Begitu pula jika kamu memiliki anak, maka segeralah untuk mengajarkan mereka belajar menabung, membedakan kebutuhan dan keinginan, hingga memotivasi untuk membeli kebutuhan mereka dari uang hasil menabung.

Hal tersebut efektif untuk membuat anak menjadi semangat menabung. Selain menabung di celengan, kenalkan pula anak untuk membuka tabungan di bank yang kini terdapat program khusus anak yaitu Simpanan Pelajar (SimPel) untuk pelajar SD hingga SMA dan Simpanan Mahasiswa & Pemuda (SiMuda) untuk usia 18 hingga 30 tahun.

Berikut tadi adalah cara yang bisa kamu lakukan untuk memutus rantai generasi sandwich. Penting pula dilakukan komunikasi agar nantinya sang orang tua akan mengerti dan tidak terlalu besar menuntut sehingga beban dan tingkat stress anak sedikit berkurang.

EDITOR: Nicolaus