Logo JawaPos
Author avatar - Image
09 Februari 2025, 03.23 WIB

Bukan Sekadar Lagu, Menurut Psikolog 'Benci untuk Mencinta' Gambaran Kondisi Ambivalence, Apa Itu?

Ilustrasi kondisi ambivalence, benci untuk mencinta (freepik) - Image

Ilustrasi kondisi ambivalence, benci untuk mencinta (freepik)

JawaPos.com - Siapa sih yang nggak familiar dengan lagu Benci untuk Mencinta dari Naif? Lagu yang satu ini pasti sudah jadi soundtrack banyak orang dalam mengarungi perasaan cinta yang penuh dengan kebingungannya.

Liriknya yang sederhana tapi dalam, menggambarkan konflik batin antara perasaan cinta dan benci yang bercampur jadi satu.

Nah, ternyata perasaan yang diungkapkan dalam lagu ini bukan sekadar imajinasi belaka, loh! Menurut psikolog, fenomena Benci untuk Mencinta itu menggambarkan kondisi psikologis yang disebut ambivalence (ambivalensi).

Berikut penjelasan lebih lanjut tentang apa itu ambivalence dan bagaimana perasaan tersebut bisa terjadi dalam kehidupan kita.

Ambivalence: Cinta dan Benci yang Terjadi Bersamaan

Ambivalence, atau ambivalensi, adalah kondisi psikologis yang sering kali muncul ketika kita merasa dua perasaan bertentangan pada saat yang bersamaan. Misalnya, kita bisa saja merasa cinta tapi di sisi lain, kita juga merasa benci atau kecewa terhadap hal yang sama.

Dalam lagu Naif, kamu pasti bisa merasakan bagaimana perasaan cinta dan benci itu terjalin erat, bahkan saling melengkapi. Tapi nyatanya, ini bukanlah hal yang mudah untuk dijalani. Kita sering merasa bingung dan bahkan kesulitan untuk memutuskan perasaan mana yang lebih dominan.

Mengutip penjelasan Angela Saulsbery, M.A., seorang psikolog dari The Ohio State University, dalam artikel Berkeley Well-Being Institute ambivalence adalah kecenderungan untuk menilai sesuatu (atau seseorang) dengan cara yang bertolak belakang. “Kalau kamu ambivalen tentang sesuatu, kamu mungkin berpikir tentangnya secara positif dan negatif pada saat yang bersamaan, memiliki perasaan campur aduk, atau merasa pikiran dan perasaanmu bertentangan,” jelas Angela. Sabtu, (8/2)

Begitu juga dengan lirik lagu Benci untuk Mencinta, yang menyuarakan betapa sulitnya menghadapi perasaan yang saling bertentangan. Itulah mengapa banyak orang bisa merasa sangat terhubung dengan lagu ini, karena seringkali kita pun mengalami perasaan campur aduk yang sama, terutama dalam kehidupan sehari-hari dan hubungan personal.

Ambivalence dalam Kehidupan Sehari-hari

Ambivalence tidak hanya muncul dalam hubungan percintaan, tetapi juga dalam banyak aspek kehidupan kita sehari-hari. Angela menjelaskan bahwa perasaan ambivalen ini bisa terjadi dalam berbagai bentuk, baik itu dari sisi perasaan (affective ambivalence) atau pemikiran (cognitive ambivalence).

Contohnya, kamu bisa merasa suka dengan seorang teman, tapi di sisi lain, kamu juga merasa kesal karena dia sering datang terlambat dan mendominasi percakapan. Atau, kamu merasa penasaran ingin mencoba roller coaster baru, tapi di sisi lain, kamu juga merasa takut. Ini adalah contoh nyata dari ambivalence yang sering kita alami.

Dalam konteks affective-cognitive ambivalence, bisa juga terjadi ketika kamu merasa bosan saat harus membersihkan rumah, tetapi di sisi lain, kamu tahu itu akan membuat rumah menjadi lebih nyaman. Mirip dengan perasaan yang mungkin kamu rasakan ketika mendengarkan Benci untuk Mencinta, perasaan cinta yang bercampur dengan kebencian, yang banyak terjadi dalam hubungan personal.

Ambivalence dalam Hubungan

Masih mengutip penuturan Angela dalam artikel Berkeley Well-Being Institute, ambivalence sering kali muncul dalam hubungan jangka panjang, baik itu dalam hubungan romantis maupun persahabatan. Terkadang, kita hanya menyadari satu sisi dari hubungan tersebut baik itu positif atau negatif.

Editor: Setyo Adi Nugroho
Tags
Download Aplikasi JawaPos.com
Download PlaystoreDownload Appstore