
Ilustrasi seseorang yang menolak (benzoix/freepik)
JawaPos.com - Tak jarang ketika Anda berada dalam interaksi sering berhadapan dengan ajakan, permintaan, bahkan tugas yang tidak sesuai dengan keinginan dan prioritas Anda.
Di saat seperti inilah, kemampuan untuk mengatakan ‘tidak’ menjadi penting. Namun, bagi sebagian orang, melakukan penolakan dengan kata sederhana tersebut bisa terasa sulit.
Bahkan, untuk menolak saja menimbulkan rasa cemas dan bersalah yang mendalam.
Mengatakan ‘tidak’ secara efektif merupakan hal yang penting untuk menjaga kesehatan mental, guna menetapkan batasan yang sehat.
Melansir dari Verywell Mind, kesulitan untuk mengatakan ‘tidak’ bukan sekadar masalah kepribadian atau kurangnya keberanian.
Ada berbagai faktor psikologis dan sosial yang saling berkaitan dan membentuk pola perilaku ini, di antaranya:
Takut Konflik dan Penolakan
Banyak orang secara alami menghindari konflik dan tidak ingin membuat orang lain marah, kecewa atau merasa ditolak.
Mereka khawatir penolakan akan merusak hubungan, menimbulkan permusuhan, atau membuat mereka tidak disukai.
Mengutip dari Psychology Today, ketakutan ini seringkali berakar dari pengalaman masa kecil yang menekankan kepatuhan pada otoritas kepada orang tua, sehingga mereka tidak terbiasa menolak.
Tidak Ingin Mengecewakan atau Menyakiti Perasaan
Orang dengan kecenderungan ingin menyenangkan orang lain sangat sensitif terhadap emosi orang lain. Mereka juga merasa bertanggung jawab atas kebahagiaan orang lain.
Perasaan bersalah atau cemas bisa muncul ketika penolakannya dianggap menyakiti atau mengecewakan orang yang meminta bantuan.
Merasa Wajib Membantu
Beberapa orang memiliki keyakinan kuat bahwa mereka harus membantu setiap kali ada permintaan, terutama jika mereka merasa mampu melakukannya.
