JawaPos.com - Fenomena situationship atau yang dulu dikenal sebagai Hubungan Tanpa Status (HTS) sudah tidak asing lagi di telinga masyarakat, khususnya Gen Z. Tren yang satu ini juga sudah melekat dan mencolok di kalangan anak muda yang lahir antara tahun 1997-2012 ini.
Istilah situationship atau HTS ini merujuk pada jenis hubungan yang tidak memiliki ikatan atau komitmen yang jelas. Hubungan ini berada di garis tipis antara pertemanan atau persahabatan dengan hubungan romantis pada umumnya.
Gen Z yang memiliki trust issues tinggi ini seringkali lebih nyaman menjalani hubungan tanpa komitmen dan definisi yang jelas secara eksklusif. Ada beberapa faktor yang berkontribusi terhadap popularitas hubungan ini di kalangan Gen Z.
Ketidakpastian Emosional
Generasi ini dikenal sebagai generasi yang dikenal sangat berhati-hati dalam menjalin hubungan. Mereka banyak dipengaruhi oleh pengalaman masa lalu dan ketidakpastian masa kini.
Ini juga lah yang menjadikan Gen Z memiliki trust issues atau masalah kepercayaan yang tinggi. Banyak dari mereka yang mengalami kecemasan dan ketakutan akan penolakan. Maka dari itu mereka seringkali memilih untuk tidak terikat dalam hubungan yang lebih serius.
Media Sosial
Dengan meningkatnya aplikasi kencan dan penggunaan media sosial untuk berinteraksi dalam kehidupan sehari-hari memungkinkan individu untuk terhubung dengan banyak orang dengan berbagai latar belakang.
Media sosial berhasil menciptakan ilusi kedekatan seseorang tanpa harus bertemu langsung, yang mana membentuk ikatan emosional dengan cepat. Hal ini juga mendasari seseorang berada dalam situasi atau hubungan situationship.
Mengutip dari Slate.com, Jumat (10/1), terdapat sebuah survei yang menemukan bahwa hampir setengah dari pria muda belum pernah mendekati seorang wanita di depan umum sebelumnya. Dengan sebagian besar menggunakan takut ditolak sebagai alasan mereka menahan diri.
Tren ini menumbuhkan budaya penghindaran risiko romantis yang meluas dan mendorong kaum muda untuk melanggengkan hubungan situationship ini.
Meningkatnya hubungan situasional “mewakili ekspresi berkelanjutan dari ambiguitas yang ditawarkan oleh budaya kontemporer kita,” kata Brad Wilcox, yang merupakan profesor sosiologi dan direktur National Marriage Project di University of Virginia serta penulis buku Get Married: Why Americans Must Defy Elites, Forge Strong Families, and Save Civilization .
Meskipun situationship memberikan kebebasan dan fleksibilitas, ada juga dampak negatif yang perlu diperhatikan. Ketidakjelasan dalam hubungan dapat menyebabkan kebingungan emosional dan rasa sakit ketika salah satu pihak ingin mengubah status hubungan menjadi lebih serius.
Kebingungan emosional atau ketidakjelasan ini tidak hanya mengganggu kesejahteraan mental tetapi juga dapat menyebabkan konflik internal yang berkepanjangan. Keterikatan emosional yang terbentuk selama hubungan situationshi juga dapat membuat proses move on menjadi lebih rumit.
Selain itu, risiko patah hati dan potensi manipulasi juga masuk dalam konsekuensi yang mungkin dihadapi individu yang terjebak dalam hubungan tanpa status ini. Jadi, apakah Anda mau dalam hubungan situationship ala Gen Z ini?