
Ilustrasi dampak perselingkuhan yang menghancurkan hubungan. (Freepik)
JawaPos.com - Perselingkuhan, sebuah kata yang mampu meruntuhkan fondasi kepercayaan dalam sebuah hubungan, kerap menjadi momok yang menakutkan bagi banyak orang. Mengapa seseorang yang dicintai justru tega mengkhianati? Pertanyaan ini seringkali menghantui benak mereka yang terluka.
Fenomena perselingkuhan bukanlah hal baru, namun memahami akar permasalahannya secara psikologis dapat memberikan pencerahan dan membantu mencegah terjadinya hal serupa. Satu diantara artikel yang membahas topik ini secara mendalam adalah "Here's Why People Cheat on Those They Love, According to Psychology" yang dipublikasikan di Newsweek.
Artikel tersebut mengupas berbagai alasan mengapa seseorang berselingkuh, mulai dari masalah internal individu hingga dinamika hubungan yang kurang sehat. Dikutip dari Newsweek, dampak psikologis dari pengkhianatan dalam hubungan tidak bisa dianggap remeh.
Pengkhianatan dapat memicu luka lama, trauma, dan menimbulkan berbagai masalah psikologis seperti kecemasan, depresi, reaksi duka yang mendalam, bahkan menyalahkan diri sendiri. Reaksi stres pasca-trauma juga kerap dialami oleh korban perselingkuhan.
Sebuah studi yang dipublikasikan dalam Journal of Family Psychology pada April 2014 juga mengungkapkan bahwa pelaku dan korban perselingkuhan seringkali mengalami dampak negatif, seperti penurunan harga diri dan peningkatan risiko masalah kesehatan mental.
Lantas, apa sebenarnya yang mendorong seseorang untuk berselingkuh? Pertanyaan ini tentu menjadi penting untuk dijawab agar kita dapat lebih memahami dinamika hubungan dan mencegah terjadinya perselingkuhan.
Satu di antara alasan utama perselingkuhan adalah adanya masalah yang belum terselesaikan dalam hubungan. Masalah ini bisa berupa kurangnya komunikasi, ketidakpuasan seksual, atau kebutuhan emosional yang tidak terpenuhi.
Seseorang mungkin merasa tidak dihargai, tidak dicintai, atau tidak diperhatikan oleh pasangannya, sehingga mencari pelarian di luar hubungan. Faktor-faktor ini memicu dorongan untuk mencari validasi di tempat lain.
Selain masalah dalam hubungan, faktor internal individu juga berperan penting dalam perselingkuhan. Beberapa orang mungkin memiliki kebutuhan yang berlebihan akan validasi dan perhatian.
Orang-orang dengan kebutuhan ini cenderung mencari pengakuan dari orang lain untuk meningkatkan rasa percaya diri mereka. Hal ini bisa mendorong mereka untuk berselingkuh sebagai cara untuk mendapatkan validasi eksternal.
Faktor lain yang dapat memicu perselingkuhan adalah kurangnya komitmen dan integritas dalam diri seseorang. Orang yang tidak memiliki komitmen kuat terhadap hubungan cenderung lebih mudah tergoda untuk berselingkuh.
Selain itu, kesempatan juga dapat menjadi faktor pemicu perselingkuhan. Ketika seseorang berada dalam situasi yang mendukung terjadinya perselingkuhan, seperti lingkungan pergaulan yang permisif atau kesempatan untuk berinteraksi secara intens dengan orang lain di luar hubungan, risiko perselingkuhan meningkat.
Penting untuk diingat bahwa perselingkuhan bukanlah solusi dari masalah yang ada. Perselingkuhan justru akan menimbulkan masalah baru yang lebih kompleks dan menyakitkan bagi semua pihak yang terlibat.
Memahami alasan di balik perselingkuhan adalah langkah awal untuk membangun hubungan yang sehat dan langgeng. Komunikasi yang terbuka, saling menghargai, dan memenuhi kebutuhan emosional pasangan adalah kunci untuk mencegah terjadinya perselingkuhan.
Dengan pemahaman yang lebih baik tentang dinamika hubungan dan faktor-faktor pemicu perselingkuhan, diharapkan kita dapat membangun hubungan yang lebih kuat dan terhindar dari luka pengkhianatan.
